“Pergi! Jangan muncul di depanku!” Kirana terus melempari cermin yang masih memantulkan bayangan Mbah Wanti dengan benda apapun yang bisa diraihnya dari meja. Parfum koleksinya, botol foundation bahkan makeup kit yang ada di sana pun berhamburan karena dilayangkan ke sana. Anehnya cermin itu sama sekali tidak retak, seolah ada lapisan pelindung yang membuatnya tak terpecahkan. Langkah Kirana mundur teratur, setelah gagal mencoba memecahkan cermin, kini ia semakin dirundung rasa takut. Pandangannya mengarah ke lantai dan semakin shock, bedak aneh yang ia yakini sudah pecah terjatuh itu kembali utuh. Sungguh hal yang tak masuk akal sehingga membuat Kirana memegangi kepalanya, frustasi dipermainkan kenyataan. “Aku mungkin sudah gila.” Gumam Kirana, meyakini dirinya tengah berhalusinasi sekar

