“Pergi!” Pekik Kirana nyaring dan lantang mengejutkan Rendi yang semula mengira keheningan yang tercipta itu akan berujung manis baginya. Nyatanya ia keliru, harapannya mendengar sambutan cinta dari Kirana justru berbuah pengusiran. Rendi memberanikan dirinya menatap teduhnya telaga mata Kirana yang berbinar, namun yang ia dapatkan justru sorotan tajam penuh kebencian. Sungguh mengejutkan baginya lantaran ia tak pernah melihat Kirana bersikap kasar seperti itu kepadanya. Wanita itu terlihat seperti orang lain saja. Rendi menghela nafas kasar, rasanya percuma memaksakan kehendaknya di saat suasana hati Kirana sedang buruk. Ia pun terpaksa menurut, mengalah untuk meninggalkan Kirana sendirian. “Oke, aku pergi habis ini. Tapi kamu janji ya jangan melakukan hal yang aneh. Kalau kamu perlu aku

