“Ah... Kir?” Rendi mendesis bercampur desahan, keningnya mengerut, antara percaya dan tidak dengan apa yang ia rasakan saat ini. Tak disangka Kirana begitu agresif, memotong pembicaraannya yang sedang serius menyatakan perasaan dengan rangsangan yang begitu melenakan. Tangan nakal Kirana merambat dari celah dua kakinya, mempermainkan sesuatu yang sangat sensitif di bawah sana hingga Rendi tak dapat mencegah desiran nikmat yang ia rasakan. Kesan pertama yang baru ia dapatkan dari wanita yang dicintainya dan ia mulai kesulitan mengendalikan diri. Kirana tersenyum nakal, begitu menikmati wajah tersiksa Rendi yang bersemu merah. Ia yakin nafsu pria itu sudah terbangkitkan, tinggal menunggu waktu saja agar birahi pria itu meledak. “Kenapa hmm?” Tanya Kirana berlagak polos, padahal ia tahu betu

