Bab 1 Malam yang Menghancurkan
Hujan turun deras malam itu.
Butiran air menghantam jendela kaca besar rumah mewah itu tanpa henti, meninggalkan garis-garis tipis yang perlahan mengalir ke bawah. Angin malam berhembus dingin, membuat dedaunan di halaman bergetar pelan.
Di dalam rumah yang megah itu, seorang wanita duduk sendirian di meja makan panjang.
Arina menatap hidangan yang tersusun rapi di atas meja. Sup yang dulu menjadi favorit suaminya. Steak yang ia pelajari memasaknya dari video berkali-kali agar rasanya sempurna dan kue kecil dengan lilin putih di tengahnya.
Lilin itu masih menyala.
Api kecilnya berkedip-kedip pelan, namun makanan di meja sudah mulai dingin. Arina melirik jam di dinding. Pukul sepuluh malam. Sudah tiga jam sejak ia mulai menunggu. Malam ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga.
Ia sudah menyiapkan semuanya sejak sore. Bahkan meminta pelayan rumah untuk pulang lebih awal agar malam ini terasa lebih pribadi.
Tiga tahun.
Arina tersenyum tipis, meskipun senyuman itu terasa pahit di bibirnya. Tiga tahun menikah dengan Adrian Wijaya. Tiga tahun mencoba menjadi istri yang baik. Tiga tahun berharap suatu hari Adrian akan melihatnya bukan sebagai kewajiban… tetapi sebagai seseorang yang benar-benar berarti. Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja. Arina langsung meraihnya dengan cepat. Matanya berbinar sesaat.Mungkin Adrian akhirnya pulang, namun saat layar ponsel menyala, harapan kecil itu perlahan padam.
Pesan singkat dari suaminya Adrian.
Arina membuka pesan itu.
Hanya satu kalimat.
"Aku tidak pulang malam ini."
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada permintaan maaf.
Hanya itu.
Jari Arina menggenggam ponsel itu sedikit lebih erat. Dadanya terasa sesak, namun ia sudah terlalu terbiasa dengan perasaan itu.
Ia meletakkan kembali ponselnya di meja. Mungkin Adrian sibuk. Ia selalu sibuk. Arina mencoba meyakinkan dirinya sendiri seperti yang selalu ia lakukan selama tiga tahun terakhir, namun beberapa detik kemudian ponselnya kembali bergetar.
Bukan pesan.
Notifikasi media sosial.Arina tidak terlalu memperhatikannya pada awalnya, tetapi entah mengapa, hatinya terasa tidak nyaman.
Tangannya perlahan mengambil ponsel itu lagi.
Ia membuka notifikasi tersebut.Sebuah foto baru saja diunggah oleh seseorang yang sangat ia kenal.
Clara.
Nama itu membuat jantung Arina berdegup sedikit lebih cepat. Ia menatap layar ponsel. Foto itu menampilkan sebuah restoran mewah. Lampu-lampu kristal menggantung dari langit-langit. Meja makan elegan dengan lilin romantis di tengahnya.
Dan di sana, duduk berhadapan dengan Clar adalah suaminya sendiri, Adrian.
Adrian mengenakan jas hitam yang sangat ia kenal. Wajahnya tampak tenang seperti biasa. Clara tersenyum cerah ke arah kamera.
Caption di bawah foto itu membuat napas Arina seakan berhenti.
"Malam yang indah bersama orang yang paling Spesial."
Arina menatap foto itu lama sekali. Tangannya mulai gemetar, namun yang lebih menyakitkan bukanlah foto itu. Melainkan kenyataan bahwa Adrian memilih menghabiskan malam ini bersama wanita lain di malam ulang tahun pernikahan mereka.
Lilin kecil di atas meja akhirnya padam. Arina bahkan tidak menyadari kapan itu terjadi. Air mata perlahan jatuh dari sudut matanya.
Satu tetes.
Lalu satu lagi.
Namun ia tidak menangis keras.
Ia hanya duduk diam di sana, menatap meja yang penuh makanan yang tidak akan pernah disentuh Adrian malam ini.
Sudah tiga tahun.Tiga tahun ia mencoba mempertahankan pernikahan ini sendirian.
Dan malam ini…
akhirnya ia mulai menyadari satu hal yang sangat menyakitkan.
Adrian tidak akan pernah mencintainya. Pintu depan rumah tiba-tiba terbuka. Suara langkah kaki terdengar dari arah ruang tamu.
Arina mengangkat kepalanya.Jantungnya berdegup lagi.
Adrian?
Namun yang masuk bukanlah Adrian.Melainkan ibu mertuanya. Nyonya Ratna Wijaya. Wanita elegan berusia lima puluhan itu masuk ke ruang makan dengan ekspresi dingin seperti biasa.Matanya langsung tertuju pada meja makan yang penuh hidangan.
Alisnya terangkat sedikit.
"Masih menunggu Adrian?" tanyanya datar.
Arina berdiri dengan sopan.
"Iya, Bu."
Nyonya Ratna tertawa kecil.
Tawa yang tidak memiliki sedikit pun kehangatan.
"Kamu masih saja tidak mengerti posisi dirimu di keluarga ini."
Kalimat itu menusuk hati Arina seperti pisau yang sudah terlalu sering ia rasakan.
"Adrian tidak pernah benar-benar menginginkan pernikahan ini," lanjut wanita itu. "Dia menikahimu hanya karena kakeknya memaksanya."
Arina menundukkan pandangannya.
Ia tahu itu.
Ia selalu tahu.
Namun mendengarnya lagi tetap terasa menyakitkan.
Nyonya Ratna berjalan mengelilingi meja makan, menatap hidangan yang disiapkan Arina.
"Kamu bahkan memasak semua ini sendiri?"
Arina mengangguk pelan.
Wanita itu menghela napas panjang seolah melihat sesuatu yang memalukan.
"Kamu benar-benar terlalu berharap."
Lalu ia menatap Arina dengan tatapan tajam.
"Clara sudah kembali."
Jantung Arina terasa seperti berhenti sejenak.
Clara.
Nama itu kembali menusuk hatinya.
"Dia adalah wanita yang selalu dicintai Adrian," lanjut Nyonya Ratna tanpa ragu. "Jauh sebelum kamu muncul."
Arina menggenggam ujung gaunnya.
Tangannya gemetar.
"Sejujurnya," kata wanita itu dingin, "kamu seharusnya tahu diri sejak awal."
Kata-kata itu menggantung di udara.
Arina menatap meja makan yang penuh makanan dingin. Perlahan-lahan, sesuatu di dalam dirinya terasa runtuh.
Suasana ruang makan menjadi sunyi.
Hanya suara hujan di luar yang masih terdengar, mengetuk kaca jendela tanpa henti. Arina berdiri di sana dengan tangan saling menggenggam. Kata-kata ibu mertuanya masih menggema di kepalanya.
Kamu seharusnya tahu diri sejak awal.
Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menekan luka lama.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun ini, ia selalu berusaha mengabaikan tatapan dingin keluarga Adrian. Ia menelan setiap kata tajam yang mereka ucapkan. Ia percaya bahwa jika ia cukup sabar… cukup setia… suatu hari Adrian mungkin akan berubah. Namun malam ini, keyakinan itu terasa sangat rapuh.
Nyonya Ratna akhirnya menghela napas panjang.
"Aku tidak tahu mengapa kamu masih bertahan di pernikahan ini," katanya dingin. "Bukankah kamu juga bisa melihat sendiri bagaimana Adrian memperlakukanmu?"
Arina menundukkan kepalanya. Ia tidak menjawab.Karena ia tahu jawabannya tidak akan mengubah apa pun.
Wanita itu mengibaskan tangannya dengan tidak sabar.
"Rapikan saja meja ini. Adrian tidak akan pulang malam ini."
Setelah mengatakan itu, Nyonya Ratna berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan tanpa menoleh lagi. Langkah sepatunya perlahan menghilang di lorong rumah besar itu. Arina akhirnya kembali duduk. Matanya menatap lilin yang sudah padam di tengah meja. Tangan kecilnya perlahan bergerak menyentuh perutnya. Gerakan itu hampir tidak disadari. Sudah beberapa hari ini ia merasa tubuhnya berbeda.
Mual di pagi hari, tubuh yang lebih mudah lelah dan siklus yang terlambat.
Arina sudah membeli alat tes kehamilan pagi tadi, namun ia belum berani menggunakannya. Ia ingin menunggu malam ini. Ia ingin memberi kabar itu kepada Adrian tepat di ulang tahun pernikahan mereka. Ia membayangkan ekspresi Adrian saat mendengar kabar bahwa mereka akan memiliki anak.
Mungkin… hanya mungkin…
pria itu akan mulai melihatnya dengan cara yang berbeda, namun sekarang semuanya terasa seperti lelucon yang kejam.
Arina menghela napas panjang. Ia bangkit perlahan dan mulai membereskan meja makan. Satu per satu piring diangkat.Sup yang sudah dingin dibuang ke wastafel. Steak yang ia masak dengan penuh harapan dimasukkan ke dalam tempat sampah.
Semua yang ia siapkan dengan penuh perasaan… berakhir sia-sia.
Setelah selesai membereskan meja, Arina berjalan menuju kamar tidurnya.
Kamar itu besar dan mewah, namun selama tiga tahun terakhir, kamar itu selalu terasa terlalu kosong. Adrian jarang tidur di rumah.
Bahkan saat ia pulang, pria itu sering memilih bekerja di ruang kerjanya sampai larut malam.Arina membuka laci meja kecil di samping tempat tidur yang di dalamnya ada kotak kecil berisi alat tes kehamilan.Tangannya sedikit gemetar saat mengambilnya.
Ia berjalan ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Arina berdiri di depan wastafel dengan napas tertahan. Alat tes itu tergeletak di atas meja marmer putih. Ia menatapnya tanpa berkedip.
Satu garis.
Lalu perlahan muncul garis kedua.
Dua garis.
Arina menutup mulutnya dengan tangan. Air mata langsung mengalir di pipinya. Ia benar-benar hamil. Perasaan hangat yang aneh memenuhi dadanya.Ia menyentuh perutnya dengan hati-hati. Ada kehidupan kecil di dalam sana.
Anak Adrian.
Untuk pertama kalinya malam itu, Arina tersenyum, namun senyuman itu tidak bertahan lama. Bayangan foto yang ia lihat di ponselnya kembali muncul di pikirannya. Adrian sedang makan malam bersama wanita lain di saat hari ulang tahun pernikahan mereka. Senyum lembut terpancar di wajah suaminya untuk wanita lain. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan kepada Arina.
Air mata kembali jatuh. Ia duduk perlahan di tepi bathtub. Pikirannya kacau.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Memberi tahu Adrian?
Atau menyimpan rahasia ini sendiri?
Arina tahu satu hal dengan sangat jelas.
Jika Adrian mengetahui tentang bayi ini, bukan berarti pria itu akan mencintainya.
Bahkan mungkin…anak ini hanya akan menjadi beban bagi Adrian.
Arina menggigit bibirnya.
Hatinya terasa sangat berat.
Tiba-tiba suara mobil terdengar dari luar rumah.
Arina terkejut.
Ia berdiri dengan cepat. Suara mesin mobil itu sangat familiar. Jantungnya langsung berdegup kencang. Adrian pulang. Tanpa sadar Arina keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju jendela besar di kamarnya.Lampu mobil hitam berhenti di depan rumah.
Pintu mobil terbuka.Adrian turun dari kursi pengemudi.Pria itu masih terlihat tampan seperti biasa, mengenakan jas hitam yang sempurna, namun beberapa detik kemudian, seseorang keluar dari kursi penumpang.
Clara.
Wanita itu tertawa kecil sambil berbicara dengan Adrian. Adrian bahkan membukakan pintu untuknya.Pemandangan itu terasa seperti pisau yang menancap di d**a Arina.Tangannya perlahan menggenggam perutnya.
Anak ini…
anak Adrian, namun ayahnya bahkan sedang tersenyum kepada wanita lain di bawah sana.
Beberapa menit kemudian pintu rumah terbuka. Suara langkah kaki terdengar di ruang tamu. Arina berdiri diam di tengah kamar.
Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka.
Adrian masuk tanpa mengetuk. Namun langkahnya langsung berhenti saat melihat Arina berdiri di sana.Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.Adrian akhirnya membuka kancing jasnya dengan santai.
"Kamu belum tidur?" tanyanya datar.
Suara itu dingin seperti biasa. Seolah-olah tidak ada yang terjadi malam ini.Arina menatap wajah pria yang sudah menjadi suaminya selama tiga tahun.Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan tentang malam ini. Tentang rasa sakit yang ia rasakan. Tentang bayi yang sedang ia kandung, namun kata-kata itu terasa terjebak di tenggorokannya.
Akhirnya ia hanya bertanya pelan.
"Kamu makan malam dengan Clara?"
Adrian berhenti sejenak.
Namun ekspresinya tidak berubah.
"Iya."
Jawaban itu keluar dengan begitu mudah tanpa rasa bersalah sedikit pun.Arina menundukkan kepalanya. Dadanya terasa semakin sesak, namun hal yang lebih mengejutkan datang beberapa detik kemudian.Adrian menatapnya dengan ekspresi serius.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Nada suaranya datar namun entah mengapa kalimat itu membuat jantung Arina berdebar tidak nyaman.
Ia perlahan mengangkat kepalanya.Adrian berdiri di depan jendela dengan cahaya lampu kota di belakangnya. Wajahnya terlihat lebih dingin dari biasanya.Lalu pria itu mengucapkan kalimat yang menghancurkan segalanya.
"Aku ingin bercerai."
Arina membeku. Dunia seakan berhenti berputar. Ia menatap Adrian tanpa berkedip. Seolah tidak yakin bahwa ia baru saja mendengar kata-kata itu.
"Clara sudah kembali," lanjut Adrian dengan tenang. "Dan aku tidak ingin terus mempertahankan pernikahan yang tidak memiliki arti."
Tidak memiliki arti. Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam hatinya.
Tiga tahun pernikahan mereka…
tidak memiliki arti. Tangan Arina perlahan bergerak menutupi perutnya.Ia ingin mengatakan sesuatu.Tentang bayi ini.Tentang kehidupan kecil yang seharusnya menjadi bagian dari keluarga mereka.
Namun saat ia melihat ekspresi Adrian yang begitu dingin…
Arina akhirnya menyadari satu hal.Pria ini tidak akan pernah mencintainya.
Dan mungkin…anak ini juga tidak akan mengubah apa pun.Air mata jatuh diam-diam di pipinya, namun Arina tidak menangis keras.
Ia hanya menatap Adrian dengan tatapan yang perlahan menjadi kosong.
"Baik," katanya pelan.
Satu kata.
Namun kata itu membuat Adrian sedikit terkejut. Arina menghapus air matanya dengan tenang.
"Aku akan menandatangani surat cerai itu."
Adrian menatapnya beberapa detik.Seolah tidak menyangka Arina akan setuju secepat itu, namun Arina sudah berbalik menuju jendela. Tangannya kembali menyentuh perutnya dengan lembut.
Maafkan Mama, bisiknya dalam hati.
Sepertinya kita harus berjalan sendiri mulai sekarang.
Di belakangnya, Adrian tidak melihat air mata yang kembali jatuh di wajah Arina.
Ia juga tidak tahu…
bahwa malam ini ia baru saja meninggalkan bukan hanya seorang istri.
Tetapi juga…
anaknya sendiri.