“Aku … Devan--” Nara bangkit dari kursi besar itu dengan gerakan perlahan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, langkahnya tidak digerakkan oleh rasa takut, kecemasan, atau kepatuhan yang dipaksakan oleh ancaman. Ia melangkah perlahan mendekati Devan, menembus jarak yang biasanya terasa seperti ribuan mil di antara mereka. “Seharusnya kamu bilang sama aku, Devan,” bisik Nara. Dia masih bisa mengingat jelas bekas luka itu. Ia berdiri tepat di belakang Devan, menatap punggung tegap yang selama ini tampak tak terkalahkan itu, namun kini terlihat sedikit bergetar halus di bawah kemeja hitamnya yang mahal. Pikiran Nara melayang pada bekas luka yang ia lihat semalam. Luka-luka yang tumpang tindih, menceritakan kisah yang lebih mengerikan daripada kata-kata. Dengan tangan yang masih

