“Sebut namaku, Nara. Katakan siapa yang sedang memilikimu sekarang,” desak Devan, suaranya parau dan rendah, bergetar tepat di indra pendengar Nara. Tangan besar Devan meremas bongkahan kenyal Nara dengan posesif, meninggalkan jejak kemerahan di kulit porselen gadis itu. Ia memacu ritme tubuhnya, menghujam tanpa ampun, memaksa Nara untuk tetap terjaga di tengah kabut kenikmatan yang menyiksa. Nara memejamkan mata erat, jemarinya mencengkeram bahu kokoh Devan hingga kuku-kukunya memutih. Dunia di sekitarnya seolah lebur. Setiap sentakan Devan terasa seperti hantaman ombak yang menghancurkan pertahanannya, membuatnya merasa hancur sekaligus utuh di saat yang bersamaan. “Eugh… Devan… hentikan… kumohon,” rintih Nara. Namun, alih-alih berhenti, suara serak yang bercampur lenguhan nikmat itu

