Tangan Nara bergetar seiring dengan airmatanya yang mengalir tanpa diperintah. Pandangannya buram tapi dia masih bisa mengenali tanda itu. Dua garis merah. Sangat jelas. Sangat nyata. Sangat mematikan. "Enggak... enggak mungkin... kumohon, jangan..." isak Nara tanpa suara. Air mata yang selama beberapa hari ini kering kini tumpah membasahi alat tes tersebut. Ia merasa dunia benar-benar telah kiamat. Melahirkan seorang anak di tengah neraka ini, dari benih pria yang telah menghancurkan hidupnya dan martabatnya, adalah hukuman yang jauh lebih berat daripada kematian itu sendiri. Anak ini tidak akan menjadi simbol cinta, melainkan simbol p********n abadi. Semuanya karena pilihan bodohnya! Nara sampai terduduk lemas di kamar mandi, masih menangis lirih tak berkesudahan meskipun napasnya s

