“Astaga … haha, Devan. Selamat. Kau bertunangan dengan wanita sempurna seperti Bianka.” Para kolega bisnis keluarga Reubens dan Pratama hadir penuh senyuman. Devan semakin memasang senyuman formal demi mempererat ikatan bisnis. Bianka bahkan merangkul lengan Devan penuh rasa bangga, dia melirik tajam pada Nara yang hanya duduk seperti patung. Ada banyak kilatan iri di matanya. Wanita itu ingin segera menghilangkan Nara kalau bisa, bahkan banyak tamu yang bahkan mempertanyakan sekaligus penasaran terhadap sosok Nara. Devan menjabat tangan tamunya itu. “Terima kasih sudah datang ke acara kami.” Bianka ikut melakukannya. “Anda sempurna bersama Istri anda, Pak.” “Hahaha. Astaga … kalian ini. Pintar sekali memuji kami yang sudah tua ini.” Para tamu dan pemilik acara bercengkerama penuh k

