"Apa Anda sedang memikirkan Nona Nara, Pak?" Julian akhirnya memecah keheningan yang menyesakkan itu. Ia berdiri dengan sikap sempurna, namun matanya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran melihat keadaan Devan yang kacau balau. Malam itu, Jakarta tampak seperti hamparan perak yang dingin dari balik jendela bar private yang terletak di puncak gedung pencakar langit. Di dalam ruangan yang remang itu, hanya ada denting es batu yang beradu dengan gelas dan napas berat seorang pria yang sedang mencoba membunuh pikirannya sendiri. Devan tidak menjawab. Ia justru menatap cairan amber di dalam gelasnya dengan tatapan kosong. Berhari-hari ini, Nara hanya melayaninya dengan kepatuhan yang mematikan. Tidak ada bantahan, tidak ada kemarahan. Hanya kekosongan yang membuat Devan merasa seperti sedang

