“Makan ini, Nona Cantik,” goda Tuan Hendra dengan seringai menjijikkan di bibirnya. Nara menatap Devan, meminta pertolongan tetapi pria itu malah bersikap tidak peduli. Menahan napas dan rasa sakitnya kuat-kuat, dia berjalan menghampiri Tuan Hendra dengan kakinya yang terseok-seok. Devan benar-benar ingin menghancurkannya. “Ya, Tuan,” bisik Nara, menahan amarah dan rasa jijiknya kepada pria bertambun itu. Membuka mulutnya, menggigit steak yang tertancap di garpu Tuan Hendru. “Hahaha! Benar-benar menakjubkan, Devan! Dia benar-benar patuh. Astaga, carikan untukku satu Devan, kau tahu seleraku kan?” Devan tersenyum kecil, senyuman penuh wibawa yang terukur dan terkendali. “Tentu saja, tapi seleksi dariku sangat ketat.” Asap cerutu yang tebal dan kelabu kini menggantung rendah di langit-

