“Nara?” Devan mendesis, memanggil nama wanita yang tengah menatap takut padanya. Tatapannya semu, tidak memiliki pantulan bayangan yang nyata pada iris coklatnya. Nara semakin merasa ketakutan. Devan terpaku di tempatnya, tangannya masih menggantung di udara yang kosong. Ia adalah pria yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Pria yang baru saja membuktikan kontrol totalnya atas hidup dan mati seseorang di depan rekan-rekan bisnisnya. Namun, melihat reaksi fisik Nara yang begitu menolak keberadaannya seolah ia adalah racun, Devan menyadari sebuah kenyataan pahit, ia telah melintasi batas yang tidak bisa diperbaiki. Ia telah menghancurkan sesuatu yang seharusnya ia jaga. Namun, ego Devan Anggara terlalu raksasa untuk sekadar mengaku kalah pada nuraninya sendiri. "Kenapa sekarang k

