Pagi itu, cahaya matahari menyusup lembut melalui celah tirai kamar VVIP, menyapu sosok Nara yang duduk tegak dengan punggung bersandar pada bantal-bantal empuk. Tak ada lagi wajah muram atau tatapan kosong yang terlempar ke arah jendela yang terkunci. Sebaliknya, saat pintu bergeser terbuka dan Devan melangkah masuk, Nara justru menoleh dengan senyum tipis yang tersirat di bibirnya—sebuah pemandangan yang seketika membuat langkah Devan terhenti karena terkejut. "Kau sudah bangun?" tanya Devan, suaranya merendah, jauh lebih lembut dari nada otoriter yang biasanya ia gunakan. "Aku menunggumu," jawab Nara pelan, suaranya tenang tanpa ada getar ketakutan. Ia perlahan mengulurkan tangannya ke arah Devan—sebuah gerakan yang biasanya ia hindari dengan rasa jijik yang kentara. "Aku merasa jauh

