"Berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang balita untuk mengenali ancaman melalui mikro-ekspresi lawan bicaranya?" Pertanyaan dingin itu memecah kesunyian di ruang kerja sayap timur rumah sakit rahasia Anggara. Julian, asisten kepercayaan Devan, berdiri kaku di depan meja jati yang luas. Di atas meja itu, alih-alih brosur perlengkapan bayi atau katalog kereta bayi mewah, justru berserakan profil instruktur bela diri tingkat tinggi dari Israel, kurikulum sekolah asrama militer tertutup di Swiss, dan kontrak untuk pengasuh profesional dengan latar belakang intelijen negara. "Secara teori, pelatihan sensorik bisa dimulai sejak usia tiga tahun, Tuan," jawab Julian dengan suara rendah. "Namun, untuk manipulasi kognitif tingkat lanjut, kita biasanya menunggu hingga struktur otak lebih stabil."

