"Tuan, Anda belum memejamkan mata sejak Nona sadar," bisik Sarah dengan nada keibuan yang hati-hati. Ia melangkah masuk ke kamar VVIP yang senyap itu, meletakkan nampan berisi teh hangat di meja samping. Matanya melirik Nara dengan rasa sayang yang tulus. "Nona Nara butuh suaminya dalam keadaan kuat saat dia bangun nanti." Devan tidak menjawab. Ia tetap duduk diam di kursi kulit samping ranjang, sosoknya tampak seperti bayangan besar yang menjaga harta paling berharga sekaligus paling rapuh. Matanya yang merah tidak sedetik pun beralih dari jemari Nara yang pucat. "Dia tidak bergerak sama sekali, Sarah," suara Devan terdengar serak, nyaris seperti gumaman pada dirinya sendiri. "Apa dia membenciku sampai ke dalam mimpinya?" Sarah menghela napas pendek, lalu mulai memeras handuk hangat un

