“Pak, di luar banyak wartawan.” Pada akhirnya Jullian dipanggil menghadap oleh Devan, setelah sekian lama dirinya sengaja menarik Nara bersembunyi di pulau terpencil. Devan masih duduk dengan tenang menemani Nara yang sudah terlelap. Pikirannya dengan liar memikirkan keadaan anaknya yang ada di dalam kandungan wanita itu. “Mereka mulai mengendus kehadiran anda.” Julian menyerahkan tablet PC kepada Devan, menunjukkan headline berita-berita yang sedang tayang dan naik di media sosial. Devan mendesah panjang. “Siapa?” Julian diam saja, tak segera menjawab. Lantas dia segera menjawab saat tatapan Devan tertuju lurus padanya. “Nona Bianka.” Devan mendecih, “lucu ya. Oke, gue akan menegaskannya sekarang.” Nara sendiri masih terlelap, tidak begitu terganggu dengan percakapan yang memang su

