Satu minggu kemudian
Terlihat seorang perempuan berjalan memasuki Perusahaan Alvarendra Group. Perusahaan yang dipimpin langsung oleh Danish. Perempuan itu mendatangi resepsionis untuk bertanya karena ia ingin bertemu seseorang.
“Pagi!” sapa perempuan itu
Pihak resepsionis tersebut mendongak. Ia mengernyitkan kening karena merasa tidak asing dengan sosok perempuan di hadapannya saat ini. “Selamat pagi! Ada yang bisa saya bantu?”
“Danish’nya ada?”
Pihak resepsionis tersebut menatapnya heran sekaligus bertanya-tanya. Siapa dia sampai berani memanggil Danish tanpa menggunakan kata yang sopan? Ia sudah lupa siapa perempuan tersebut.
“Maaf, anda siapa?” tanya pihak resepsionis dengan sopan.
“What?” perempuan itu menaikkan sebelah alisnya setelah mendengar pertanyaan pihak resepsionis.
Apa benar dia bertanya seperti itu padanya? Atau ia hanya salah dengar? “Apa saya tidak salah kamu bertanya seperti itu padaku?”
“—“
“Siapa sebenarnya perempuan ini? Aku seperti tidak asing dengannya.” ucap pihak resepsionis dalam hati
“Ooh.. ayolah! Kamu benar-benar tidak mengingatku.”
“Saya Talia Zaneta!” ucapnya dengan wajah dingin
Pihak resepsionis terkejut mendengarnya. Dan sekarang ia baru teringat siapa perempuan di hadapannya saat ini. Ia lupa karena sudah lama tidak bertemu dengan beliau. “M-maaf, Bu! Saya lupa dengan Bu Zaneta.” ucapnya sembari menunduk sopan
Talia Zaneta adalah mantan istri dari Danish. Mereka sudah lama berpisah, karena itu ia sudah lupa dengannya. Lagipula Talia sudah lama tidak pernah berkunjung ke Perusahaan ini. Begitupun dengan Danish, yang hanya sesekali berkunjung.
“Sekali lagi saya minta maaf, Bu.”
“Apa ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan sopan
“Saya ingin bertemu dengan Mas Danish!”
“Em… maaf, tapi Pak Danish tidak ada di kantor, Bu.”
“Ke mana dia?”
Pihak resepsionis tersebut menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu, karena hal tersebut termasuk urusan pribadi. Yang tahu hanyalah sekretaris Danish, karena dia yang mengatur semuanya. Dan selalu menggantikan Danish jika laki-laki itu berhalangan hadir dalam urusan penting.
“Maaf, saya tidak tahu, Bu.”
“Ck, kamu gimana sih? Seharusnya kamu tahu.”
Ia hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Talia. Ia sudah terbiasa dengan sikapnya. Karena sejak dulu sikap beliau terlihat arogan dan sedikit ketus saat berbicara. “Atau mungkin Bu Zaneta bisa tanya ke Pak Bastian langsung. Karena beliau orang kepercayaan Pak Danish.”
“Ck,” Talia berdecak kesal mendengarnya.
“Di mana ruangan Pak Bastian?”
“Di dekat ruangan Pak Danish, Bu. Berada di sebelah kanan.”
“Hmm.” dan setelah itu Talia melangkah pergi meninggalkan pihak resepsionis begitu saja. Bahkan ia tidak mengucap terima kasih padanya.
“Huhh.. sabar!”
Ia mengelus d**a melihat sikap Talia yang terkesan sombong dan angkuh. Untung saja ia sudah melatih kesabarannya. “Wajar Pak Danish dan Bu Zaneta bercerai, mungkin karena Pak Danish tidak tahan dengan sikap mantan istrinya itu.”
“Bahkan sampai sekarang sikap angkuhnya tidak hilang.” gumamnya
Talia berjalan menuju ruangan Bastian. Ia ingin menanyakan keberadaan Danish karena sudah lama tidak bertemu dengan putranya. Ia merindukan putra kecilnya itu. Ia tidak bisa berkomunikasi karena Danish membatasi Zidan untuk berhubungan dengannya.
Tok.. tok.. tok
“Masuk!” ujar Bastian dari dalam ruangannya
Talia masuk ke dalam ruangan Bastian. Bastian mendongak melihat siapa yang datang ke ruangannya. Ia terkejut melihat siapa yang datang. “Bu Zaneta!” Ia langsung berdiri menyambut kedatangannya.
“Ada keperluan apa Bu Zaneta datang kemari?” tanya Bastian
“Aku ingin menemui Mas Danish!”
“Maaf, tapi pagi ini Pak Danish tidak datang ke kantor, Bu.”
“Ke mana dia? Apa ada urusan di luar?”
Bastian terdiam sejenak. Ia tidak bisa memberitahu Tali apapun tentang Danish karena hal itu bukan lagi urusannya. “Maaf, kalau Bu Zaneta ada apa-apa bilang saja ke saya! Saya akan menyampaikannya pada Pak Danish.”
“Ck, susah sekali menemui Mas Danish sekarang.” gerutu Talia dalam hati
“Aku ingin bertemu putraku, Zidan.”
Bastian mengangguk. “Saya akan sampaikan pada Pak Danish secepatnya, Bu.”
“—“ Talia terdiam.
Begitupun dengan Bastian yang ikut terdiam. Ia merasa urusan mereka sudah selesai, dan seharusnya Talia segera pergi dari ruangannya. Ia bersikap dingin bukan berarti tidak suka dengan kedatangan Talia, tapi wanita itu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Danish. Karena itu sebisa mungkin ia menjaga privasi atasannya tersebut.
“Em.. apa Bu Zaneta ada keperluan lain?” tanya Bastian
“Em.. kemungkinan besar Danish datang ke kantor jam berapa?”
“Saya kurang tahu, Bu.”
“Ck, kamu gimana sih? Harusnya tahu dong.”
“Kamu kan orang kepercayaan Mas Danish, masa gitu aja nggak tahu.” Talia kesal karena tidak ada yang mau berkata jujur padanya.
Bastian tersenyum setelah mendengar perkataan Talia. Meskipun di dalam hatinya terasa kesal. Ia tetap menjalankan tugasnya dengan baik. “Maaf, lagipula Pak Danish tidak ada urusan apapun lagi dengan Bu Zaneta. Karena itu saya tidak bisa memberitahu Bu Zaneta apapun mengenai Pak Danish.”
“Sekali lagi saya minta maaf.” ucapnya sembari tersenyum sopan
“Sialan!” ucap Talia dalam hati
“Ini semua pasti perintah Mas Danish.”
“Ck, nggak guna.”
Setelah mengatakan itu Talia melangkah pergi meninggalkan ruangan Bastian begitu saja. Perasaannya kesal karena sejak tadi tidak menemukan jawaban. Kedatangannya seolah dipermainan oleh pegawai Danish. Mereka sudah tidak menghargainya seperti dulu lagi.
“Mereka benar-benar kelewatan.” gumamnya dengan nada kesal
“Huhh..” Bastian menghela nafas kasar.
Ia mengelus dadanya sabar. Untung saja ia sudah hafal dengan sikap Talia, karena itu ia tidak perlu terkejut. Ia hanya perlu mengumpulkan kesabaran agar tidak mengusir wanita itu dari ruangannya, dan tetap bersikap sopan.
“Sikapnya tidak berubah, sama seperti dulu.” gumam Bastian
“Sebaiknya aku beritahu Pak Danish tentang kedatangan Bu Zaneta.”
Jika Danish tidak ada di kantor Bastian yang akan bertanggung jawab secara penuh tentang Perusahaan ini. Setelah itu ia akan melaporkan semuanya pada Danish. Bahkan ia seperti saudara dengan Danish. Ia mengetahui semua tentang atasannya itu.
***
Siang harinya
Hari ini Thania pulang lebih awal karena Dosen’nya ada yang berhalangan hadir. Sungguh nikmat yang tidak mungkin ia sia-siakan. Setelah sampai rumah ia berjalan naik ke lantai atas untuk istirahat. Baru saja naik tangga tiba-tiba bel rumah berbunyi menandakan ada Tamu yang datang.
“Siapa?” gumamnya
Ting tong
“Huhh.. baru aja pulang.” Thania menghela nafas saat bel rumah kembali berbunyi.
“Bibi!” panggil Thania
Tidak lama terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. “Iya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?”
“Ada tamu, Bi. Tolong buka pintunya dulu, saya mau ke kamar sebentar.”
Pembantu tersebut mengangguk sembari tersenyum kecil. “Baik, Nona.”
Setelahnya Thania melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Padahal ia ingin cepat-cepat istirahat karena kebetulan hari ini ia memiliki banyak waktu untuk bersantai. Thania tersenyum saat memasuki kamar. Rasa lelahnya hilang seketika.
Brugh
Thania menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Posisinya terlentang, sangat menikmati waktu di hari ini. “Akhirnya aku bisa pulang lebih awal.” gumamnya sembari tersenyum bahagia.
Thania memejamkan mata. Ia lupa jika di bawah sana ada Tamu yang harus ditemui. Tubuhnya terasa lelah karena setelah menikah aktivitasnya bertambah. Ia harus mengurus suami dan putranya. Belum lagi ia harus mengurus dirinya sendiri.
Di sisi lain
Ceklek
Pembantu itu membuka pintu rumah. Dan betapa terkejutnya saat melihat kedatangan Talia. Sudah lama wanita itu tidak berkunjung ke rumah ini, jadi wajar jika ia terkejut melihatnya. Namun respon Talia justru tersenyum manis. Ia seolah menganggap tidak pernah terjadi sesuatu padanya.
“Bu Zaneta!” ucapnya dengan nada gugup
“Hai, Bi!”
Talia tersenyum. Ia menatap sekeliling rumah Danish. Dan ternyata rumah Danish semakin besar dan mewah. Banyak yang berubah dari rumah ini setelah kepergiannya yang bisa dibilang bukan waktu yang sebentar. Tiba-tiba ia berandai-andai jika tidak berpisah dari Danish, pasti rumah ini masih menjadi miliknya.
“Ada keperluan apa Bu Zaneta datang kemari?”
Talia mengernyitkan keningnya tidak suka mendengar pertanyaan pembantu itu. Apa dia lupa siapa dirinya di rumah ini? Tapi itu dulu. Namun seharusnya dia tidak pantas bertanya seperti itu padanya. Tidak sopan!
“Saya ke sini ingin mencari Mas Danish. Apa dia ada di rumah?” tanya Talia to the point
“Tidak ada, Bu. Pak Danish belum pulang.”
“Kalau begitu saya ingin bertemu Zidan.”
“Em.. Den Zidan juga belum pulang sekolah.”
“Ck.” Talia berdecak kesal mendengar jawaban pembantu itu.
“Masa jam segini Zidan belum pulang? Saya tidak percaya.” ujar Talia dengan nada ketus
Pembantu itu menunduk sopan. Meskipun Talia bukan lagi Nyonya di rumah ini ia tetap menghormatinya sebagai Ibu dari Zidan. Jika tidak, ia sudah mengusirnya sejak tadi. “Memang benar, Bu. Den Zidan belum pulang dari sekolah.”
“Kalau gitu saya akan menunggu di sini sampai Zidan pulang.” ucapnya dengan nada tidak terbantahkan.
“—“ pembantu itu terdiam. Ia tidak berani menolak perkataannya.
Tanpa menunggu jawaban dari pembantu itu Talia duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Ia akan menunggu Zidan dan Danish sampai pulang. Lagipula ia akan betah sampai kapanpun berada di rumah ini. Ia juga sangat rindu dengan moment yang ada di rumah ini.
“Baiklah, Bu. Kalau gitu saya buatkan minum sebentar!”
“Hmm.” Talia hanya bergumam sebagai jawaban.
Next>>