“Aarrgghh..” reflek Thania memekik saat Danish tiba-tiba menggendong tubuhnya.
“Sstt.. jangan berisik!”
Danish menggendong Thania ala bridal style. Ia membawanya keluar dari kamar Zidan dan akan pindah ke kamar mereka sendiri. Mereka akan melanjutkan aktivitas barusan yang tertunda. Danish tidak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk putranya sendiri.
Thania mengalungkan kedua tangannya pada leher Danish untuk berpegangan. “Pak, gimana kalau Danish terbangun dan nyariin Thania?” tanyanya dengan tatapan sayu
“Saya akan mengunci kamar.”
“Tapi…”
Cup
Belum selesai Thania bicara Danish lebih dulu menyatukan bibir keduanya. Hal itu membuat perkataan Thania terhenti seketika. Ia tidak membutuhkan bantahan ataupun jawaban apapun dari istrinya. Yang terpenting malam ini mereka menghabiskan waktu berdua. Danish sudah tidak sabar melakukannya.
Ceklek
Thania menutup pintu kamar lalu menguncinya atas permintaan Danish. Ia tidak ingin ada yang mengganggu malam kebersamaan mereka. Danish berjalan menuju tempat tidur dengan tatapan tidak pernah lepas dari istrinya.
Brugh
“Awhss..” Thania merintih pelan.
Danish melempar tubuh Thania ke atas tempat tidur. Ia tersenyum smirk yang membuat Thania sedikit ketakutan. Ia menatap tubuh istrinya yang terlentang di atas tempat tidur. Ia menelan ludahnya kasar. Danish semakin tidak sabar melakukannya.
“Sangat cantik!” ucapnya dalam hati
Danish melepas kaos rumahan yang ia kenakan lalu melemparnya ke sembarang arah. Dan setelah itu ia bergerak menindih tubuh Thania. Thania menahan d**a bidang suaminya untuk memberi jarak di antara keduanya.
Tidak ada penolakan dari Thania. Mereka saling menginginkan. Bahkan Thania menatap suaminya lekat. Tidak ada yang berpaling satu sama lain. Tangan Danish bergerak mengelus pipi istrinya dengan lembut. Tatapannya berkabut, pertanda siap menerkam.
“Pak, bagaimana jika Zidan…”
“Sstt..” Danish mengarahkan jari telunjuknya ke arah bibir Thania meminta istrinya untuk diam.
“Kamu tidak perlu khawatir, karena Zidan tidak akan bangun malam ini. Dia sudah tidur dengan nyenyak.”
“Dan sekarang waktunya kamu menidurkan saya.” lanjutnya sembari tersenyum penuh arti
Glek
Thania menelan ludahnya kasar. Ia mengerti apa yang dimaksud suaminya tanpa perlu Danish menjelaskan secara rinci. Danish mendekatkan wajahnya pada Thania. Jarak wajah keduanya semakin dekat. Bahkan hidung mereka sudah bersentuhan. Nafas keduanya terasa saling beradu satu sama lain.
Dan…
Cup
“Uumhh..”
Danish menyatukan bibir keduanya. Danish tersenyum karena Thania menerima tanpa melakukan pemberontakan sedikitpun. Ia bergerak menggenggam kedua tangan sang istri dengan erat. Ia seolah menyalurkan kekuatan pada istrinya.
“Enghh..”
Suara decapan lembut mulai terdengar memenuhi ruangan. “Emhh..” Thania melenguh pelan.
“Uumhh..”
“Awhss..”
Danish memberikan gigitan kecil di area bibir istrinya membuat Thania merintih pelan. Keduanya tersenyum di sela-sela aktivitas mereka. Entahlah, hati Thania terasa berbunga-bunga malam ini.
Setelah merasa cukup Danish beralih pada leher jenjang istrinya. Ia meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Bukan hanya satu melainkan ada banyak, agar semua orang tahu jika Thania adalah miliknya. Thania menoleh ke samping seolah memberi akses lebih pada suaminya.
“Sshh..” Thania merintih pelan
“Emhh..”
“Pelanhh-pelanhh, Pak!” ujar Thania dengan nada meracau.
Thania memejamkan mata menikmati apa yang dilakukan suaminya. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya agar tidak kelepasan. “Enghh..”
Fyuhh
“Emhh.. Pak..”
Dengan sengaja Danish menghembuskan nafas di leher jenjang istrinya. Hal itu menimbulkan sensasi menggelitik padanya. Thania meremas sprei sebagai pelampiasan. Lama-kelamaan Danish semakin brutal melakukannya.
“Owhh..”
“Pak Danish!” panggil Thania dengan nada meracau.
Danish tersenyum mendengar suara indah istrinya. Itulah yang membuat ia semakin bersemangat. “Terus panggil nama saya, Thania!”
“Enghh..” Ia melenguh pelan.
Danish menegakkan tubuhnya untuk mengambil nafas sebentar. Seketika Thania mengambil nafas sebanyak mungkin karena perbuatan Danish menghambat oksigen masuk ke dalam hidungnya.
“Huhh…”
“Huhh..” nafas keduanya terengah
Wajah Thania memerah karena malu. “Thania hampir kehanisan nafas, Pak.”
Danish terkekeh geli mendengarnya. Hal ini belum apa-apa. Ia bisa melakukan lebih dari ini, bahkan bisa membuat pernafasan Thania seolah berhenti sejenak. Danish mengelus pipi Thania dengan Ibu jarinya. Tatapannya begitu lembut dan penuh arti.
“Kamu benar-benar membuat saya gila, Thania.” lirihnya
“Memangnya apa yang Thania lakukan, Pak?”
“Kamu membuat saya merasa candu untuk terus melakukannya.”
Thania mengalihkan pandangan setelah mendengar perkataan suaminya. Kedua pipinya bersemu merah menahan malu sekaligus salah tingkah secara bersamaan. Entah apa yang sebenarnya ada di pikiran Danish.
Danish tersenyum smirk. Ia menggerakkan jemari kekarnya untuk membuka satu per satu baju yang dikenakan istrinya. Thania menunduk melihat apa yang Danish lakukan. Tidak ada penolakan darinya. Ia memilih diam dan pasrah dengan apa yang suaminya lakukan. Ia akan mendapat pahala jika menyenangkan suaminya.
Srett
Dalam satu tarikan baju itu tergelatak di lantai. Danish dengan mudah melepasnya, bahkan dengan satu tangan sekalipun. Dan sekarang terlihatlah pemandangan indah di hadapannya. Namun ia belum cukup puas karena masih ada satu penghalang yang menutupi keindahan tersebut.
“Kenapa harus memakai benda ini? Saya tidak menyukainya.” ujar Danish
“I-itu kan…”
“Jika di rumah tidak perlu memakai ini! Saya tidak menyukainya.”
Tangan Danish bergerak ke arah punggung Thania lalu melepas pengait benda tersebut. Dalam satu tarikan ia melepasnya lalu melempar barang itu ke sembarang arah. Dan sekarang terlihatlah pemandangan indah yang membuatnya terkagum-kagum. Danish tersenyum manis menatapnya. Bahkan matanya seketika berkabut karena kagum dengan keindahan tepat di hadapannya saat ini.
“Waw.. sangat indah!”
Blush
Kedua pipi Thania bersemu merah mendangarnya. “Jangan menatapnya seperti itu, Pak!”
“Saya sangat menyukainya, Thania.”
Danish menelan ludahnya kasar. Sayang sekali jika pemandangan indah seperti ini hanya ditatap tanpa dinikmati. Ia menunduk mendekatkan wajahnya pada area favoritnya. Danish memejamkan mata sembari menghirup dalam aroma wangi yang keluar dari tubuh istrinya.
“Hmm.. kamu harum sekali, Thania. Saya menyukainya.”
Thania meremas sprei dengan cukup kuat. Ia memejamkan mata karena merasakan sensasi aneh dalam dirinya. Nafasnya memburu. Jantungnya berdebar kencang karena perbuatan suaminya.
“Stop, Pak!” jerit Thania dalam hati
“Thania sudah tidak tahan.”
Danish menatap keindahan yang dimiliki istrinya. Bahkan ia tidak berpaling sedikitpun. Dan…
“Aahh..”
“Pak… Emhh..”
Thania mendongak dengan mata terpejam. Danish tiba-tiba minum seperti bayi yang sedang kehausan. Bahkan ia melakukannya cukup kuat membuat Thania terkejut. Thania belum sempat menerima sentuhan suaminya.
“Enghh..”
“Owhh.. Pak..” panggil Thania dengan nada meracau.
Thania beralih meremas rambut suaminya sebagai pelampiasan. Bahkan sesekali ia menekan kepala Danish agar semakin dalam melakukannya. Ia menggigit bibir bawahnya. Suaranya tercekat di tenggorokan membuat ia tidak bisa berkata-kata. Hanya terdengar suara rintihan memenuhi ruangan.
“Aakkhh..”
“Pak, teruss!”
“Emhh..”
Danish memberikan gigitan kecil di sana. “Sshh.. jangan digigit, Pak!”
“S-sakitt!”
“Awhhss..”
Tubuh Thania bergetar hebat karena perbuatan suaminya. Bahkan ia tidak bisa berkata-kata. Suara rintihan kenikmatan terus keluar dari mulutnya. “U-udahh, Pak! Stopp!”
“E-enak, Thania.”
Danish tidak bisa berhenti melakukannya. Justru lama-kelamaan ia semakin kasar. Bahkan tangannya tidak tinggal diam. Tangannya bergerak sesuka hati sesuai keinginannya. Untung saja kamar mereka memiliki kedap suara. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi. Apalagi sejak tadi Thania tidak berhenti bersuara.
“Pakk.. cukupphh!”
“Sedikit lagi! Emhh..”
Setelah merasa cukup Danish bergerak turun ke bawah. Ia berhenti tepat di perut rata istrinya. “Huhh..” nafas Thania terengah. Jantungnya berdebar kencang karena perbuatan Danish.
“Pak Danish benar-benar gila.” ucapnya dalam hati
Danish tersenyum saat menatap perut istrinya. Ia mengelusnya dengan lembut. Tatapannya penuh harap. Tentu, sebagai pasangan yang sudah menikah pasti menginginkan seorang anak. Itulah yang diinginkan Danish.
Cup
“Emhh..”
Seolah ribuan kupu-kupu berterbangan di atas perutnya. Thania tidak bisa berkata-kata setelahnya. “Sentuhan Pak Danish membuatku terhipnotis.” ucapnya dalam hati
Danish tidak ingin menunggu lama. Ia akan melakukannya setelah ini. Ia kembali menyamakan tubuhnya dengan Thania. Ia menggenggam tangan Thania dengan lembut lalu membisikkan sesuatu padanya.
“Bersiaplah istriku!”
Jlebb
“Aahh..”
Thania melenguh panjang. Bahkan ia belum sempat menjawab perkataan suaminya. Danish langsung melakukannya begitu saja tanpa persetujuannya. “Bahkan Thania belum sempat menjawab, Pak. Owhh..” ucapnya dengan nada meracau
“Terlalu lama jika menunggu jawaban kamu, Thania.”
“Saya sudah tidak sabar melakukannya.” ujar Danish dengan suara berat
Danish mulai menggerakkan tubuhnya. Malam ini mereka akan menikmati malam panjang yang romantis dan penuh kehangatan. Ditemani heningnya malam dan tanpa ada yang mengganggu. Padahal sebelumnya Thania sedang marah pada Danish. Namun semua itu hilang seketika di saat mendapat sentuhan lembut dari sang suami, Danish.
Next>>