BAB 14

1407 Kata
Malam harinya Pukul 22.00 WIB Ceklek Saat Thania membuka pintu kamar bertebatan dengan Danish yang ingin masuk ke dalam. Ia enggan menatap suaminya. Wajahnya terlihat dingin. Bahkan ia membuang muka saat Danish menatap ke arahnya. “Mau ke mana?” tanya Danish “—“ Thania diam enggan menjawab pertanyaan suaminya. Thania melangkah pergi begitu saja meninggalkan Danish dengan sejuta pertanyaan di kepalanya. Danish menatap kepergian istrinya dengan penuh tanda tanya. “Mau ke mana Thania?” ucapnya dalam hati Dan ternyata Thania masuk ke dalam kamar Zidan. Danish mengernyitkan kening. Untuk apa malam-malam Thania masuk ke dalam kamar putranya? Tidak lama Danish menyusul Thania menuju kamar Zidan. Ia ingin tahu apa yang Thania lakukan karena tidak biasanya dia ke kamar Zidan malam-malam. “Zidan, kamu belum tidur?” tanya Thania setelah membuka pintu kamar putranya. “Loh, Bunda!?” Zidan terkejut melihat kedatangan Thania ke kamarnya, karena hari sudah malam. Ia menatap jam yang menempel di dinding kamarnya dan ternyata menunjukkan pukul 10 malam. Tidak biasanya Thania ke kamarnya malam-malam seperti ini. “Bunda ngapain ke kamar Zidan? Ini kan sudah malam.” “Em.. Zidan belum tidur?” bukannya menjawab pertanyaan Zidan, Thania justru balik bertanya. Zidan menggelengkan kepalanya. “Zidan belum bisa tidur, Bunda.” Ia sedang membaca buku untuk menemaninya malam ini. Zidan takut saat ingin menemui Thania ke kamar Ayahnya. Karena ia sudah berjanji pada Danish agar bisa lebih mandiri dan tidak meminta Thania untuk menemaninya tidur setiap malam. Thania duduk di pinggir kasur. Ia tersenyum hangat pada putranya. Entah kenapa setiap menatap Zidan ia merasa ibah. Ia yakin Zidan sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang Ibu. Danish terlalu keras selama ini. Thania mengelus rambut putranya dengan lembut dan penuh kasih sayang. “Tidur, yuk!” ucapnya sembari tersenyum. “Bunda tidur di sini?” Thania mengangguk. “Iya. Bunda akan tidur di sini sama Zidan.” “Tapi.. Papa?” “Zidan tidak perlu memikirkan Papa. Nanti kalau Papa protes biar Bunda marahin.” “Beneran Bunda?” Zidan sedikit ragu karena ia tahu bagaimana Papa’nya. Thania menangkup wajah Zidan. Ia menatapnya lembut dan penuh kasih sayang. Ia tahu kekhawatiran yang dirasakan Zidan saat ini. Namun hal itu tidak menjadi masalah, karena ia bisa mengatasi semuanya. “Zidan nggak perlu takut karena di sini ada Bunda!” Thania menarik Zidan ke dalam pelukannya. Pelukannya terasa hangat membuat Zidan merasa nyaman. Anak itu sudah menganggap Thania seperti Ibu kandungnya sendiri. Saat berada di dekatnya ia merasakan kenyamanan dan kebahagiaan. “Terima kasih, Bunda.” “Sama-sama, sayang.” Thania dan Zidan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mereka bersiap untuk tidur bersama. Bahkan Zidan sudah memeluk Ibunya erat. Namun tidak lama mereka mendengar suara pintu kamar terbuka dari luar. Ceklek Zidan dan Thania menatap ke arah pintu. Dan ternyata Zidan pelakunya. “Bunda, itu Papa!” ujar Zidan dengan nada berbisik. Danish terkejut saat melihat istrinya tidur bersama sang putra. Ia menghampiri istri dan putranya setelah menutup pintu kamar. “Thania, kamu ngapain tidur di sini?” Mendengar pertanyaan Danish, Zidan langsung memeluk Thania semakin erat. Ia menyembunyikan wajahnya di d**a Thania karena takut. Zidan takut Danish marah padanya karena Thania tidur bersamanya. “Sstt.. Zidan nggak perlu takut, ya.” bisik Thania dengan lembut. “Pak Danish ngapain ke sini?” nada bicara Thania terdengar ketus dan tidak suka. “Justru seharusnya saya yang tanya, kamu ngapain tidur di sini?” “Terserah Thania.” “Huhh..” Danish menghela nafas kasar mendengar jawaban istrinya. Setelah itu Thania kembali memeluk putranya dengan erat. Ia menepuk punggung Zidan agar anak itu cepat tertidur. Bahkan ia sudah memejamkan mata mulai menyusul putranya untuk tidur. Ia mengabaikan Danish yang masih berdiri di belakang tubuhnya. Entah, terserah Danish mau melakukan apa setelah ini. “Pasti Thania masih marah karena kejadian tadi siang makanya memilih untuk tidur bersama Zidan.” ujar Danish dalam hati “Huft!” Danish menghela nafas. Danish tersenyum kecil. Ia tidak meminta Thania untuk pindah ke kamar mereka. Ia justru ikut membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur Zidan. Mereka akan tidur sama-sama di kamar ini. Danish membaringkan tubuhnya tepat di belakang Thania karena masih ada space di belakang tubuh istrinya. Thania terkejut saat merasakan ranjang di belakangnya bergerak. Saat menoleh ke belakang ternyata Danish membaringkan tubuhnya di sana. “Pak Danish ngapain tidur di sini juga?” ucapnya dengan nada protes. “Memangnya kenapa?” “Nggak boleh!” “Siapa yang nggak izinin? Ini kamar siapa?” “Kamar Zidan.” “Rumah siapa?” “—“ seketika Thania terdiam membisu. Karena rumah ini adalah rumah suaminya, Danish. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan laki-laki itu. “Ck,” Thania berdecak kesal. Danish tersenyum penuh kemenangan. Thania tidak akan bisa menjawab ataupun mengusirnya, karena rumah ini miliknya. “Saya akan tidur di sini juga malam ini!” ucapnya tidak terbantahkan “Terserah!” Thania malas berdebat dengan suaminya, apalagi hari sudah malam. Sudah waktunya mereka istirahat. Besok pagi mereka harus menjalankan aktifitas masing-masing seperti biasa. Bahkan Zidan sudah terlelap dalam dekapannya. Anak itu merasa sangat nyaman dan terjaga saat berdekatan dengan Thania. Padahal mereka baru beberapa hari saling dekat. Thania merasa kurang nyaman dengan keberadaan Danish di kamar ini. Apalagi kamar Zidan tidak sebesar kamar tidurnya. Hal itu membuat mereka sedikit berdesakan. Thania bergerak tidak nyaman seolah meminta Danish untuk pindah tempat. “Pak Danish sebaiknya pindah deh!” ujar Thania dengan nada berbisik “Nggak mau.” “Di kamar Zidan cukup sempit jika dibuat tidur bertiga seperti ini, Pak.” Danish mengangkat bahunya acuh. Ia tidak peduli dengan perkataan istrinya. “Biarin aja.” “Ck, Pak Danish nyebelin banget sih!” “Biarin.” Danish terus menjawab membuat Thania semakin kesal. Thania berbalik badan menghadap suaminya setelah melepas pelukan Zidan secara perlahan. Ia menatap Danish tajam. Ia mendorong tubuh Danish agar laki-laki itu pindah tempat. Saat ingin terjatuh dengan cepat Danish menarik Thania ke dalam pelukannya. Hal itu membuat tubuh keduanya jatuh ke lantai. Brugh “Aaakkhh..” pekik Thania Keduanya jatuh ke lantai dengan posisi Thania berada di atas tubuh Danish. “Awhss..” “Seharusnya saya yang merintih kesakitan, Thania.” ujar Danish Bugh “Aduh!” Danish memekik kesakitan saat Thania memukul d**a bidangnya. “Ini semua karena Pak Danish!” ucapnya dengan nada kesal Thania memberontak meminta untuk dilepaskan. Ia berniat bangun. Namun bukannya dilepaskan Danish justru semakin mengeratkan pelukannya. Ia menahan pinggang Thania agar wanita itu tidak bisa lari darinya. “Lepasin Thania!” “Nggak akan!” “Ck, Thania mau bangun, Pak.” “Saya mau tetap seperti ini.” “Pak Danish sudah gila, ya!?” Bukannya tersinggung Danish justru tertawa mendengarnya. “Iya. Saya memang sudah gila karena kamu, Thania.” “—“ Thania terdiam. Ia terus memberontak meminta untuk dilepaskan. Ia berusaha melepaskan pelukan Danish namun tidak bisa. Pelukan Danish cukup kuat membuatnya tidak bisa berkutik. Karena Thania terus memberontak membuat Danish semakin kesal. “Diam, Thania!” desis Danish “Nggak mau. Lepasin Thania du…” Cup “Uumhh..” Danish menyatukan bibir keduanya agar Thania berhenti berbicara. “Emhh..” Thania masih memberontak. Danish mendorong tengkuk Thania agar ia semakin leluasa melakukannya. “Enghh..” “Pak.. lewpass!” “Sshh..” Thania merintih pelan saat Danish menggigit bibir bawahnya. Danish menyelipkan anak rambut Thania ke belakang telinga agar tidak menghalangi wajah cantiknya. Suara decapan lembut memenuhi ruangan. Ia berusaha membuat Thania luluh padanya. Jika Thania terus memberontak Zidan bisa terbangun karena berisik. “Uumhh..” Dan, lama-kelamaan Thania mulai luluh dengan perbuatan suaminya. Ia sudah tidak memberontak. Bahkan ia mulai menerima sentuhan Danish. Thania mulai mengimbangi pergerakan suaminya. Hal itu membuat Danish tersenyum. “Enghh..” Danish tersenyum manis. Ia memberikan gigitan kecil pada bibir Thania membuat wanita itu merintih keenakan. “Sshh..” “Uuumhh..” lenguhnya “Pak Danish berhasil membuatku luluh.” ujar Thania dalam hati “Dia tahu kelemahanku.” Thania mulai mengimbangi pergerakan Danish. Bahkan mata Thania terpejam menikmati sentuhan darinya. Semakin lama pergerakan Danish semakin kasar. Ia mulai hanyut dengan permainannya sendiri. Mereka tidak bisa tetap berada di sini jika ingin berlanjut panjang. Hal itu bisa mengganggu tidur Zidan. "Emhh.." Thania melenguh panjang saat Danish menarik diri darinya. "Huhh.." nafas Thania terengah. Danish mengelus pipi Thania dengan lembut. Matanya terlihat sayu. Ia menginginkan lebih dari ini. "Kita harus pindah, Thania. Saya nggak mau mengganggu tidur Zidan." Thania mengangguk sebagai jawaban. Ia menginginkan hal yang sama seperti suaminya. Next>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN