Bab 2. Skenario baru

1101 Kata
"Apa kubilang. Ganteng, kan?” Kinanti tidak menutupi kekagumannya pada sosok lelaki bernama Adrian yang tidak bukan merupakan mantan suami Alifa. Wanita itu tersenyum menggoda, setelah memergoki Alifa menatap ke arah Adrian untuk beberapa saat, sebelum memutus pandang dan menundukkan kepalanya, buka tatapan kagum seperti dirinya, tapi tatapan terkejut. "Lap tuh air liurnya” Kinanti tertawa. “Kalau masih single bakal aku kejar tuh dokter.” Alifa kembali menundukan wajahnya, tentu saja bukan karena tidak mau ketahuan mengagumi ketampanan lelaki yang kini lewat tepat di hadapannya itu. Tapi Alifa justru mencoba menutupi rasa sakit yang kini kembali mencuat di hatinya. Lelaki itu hidup dengan baik, bahkan menyelesaikan gelar dokter dengan sangat cepat yang artinya dia tidak sedikitpun mengingat Alifa. Bagi Adrian, perceraian sudah menjadi batas final dan menjadi akhir dari hubungannya. Namun bagi Alifa tidak seperti itu. Tidak hanya Alifa, lelaki itu pun menyadari kehadirannya. Adrian terkejut melihat kehadiran Alifa yang tidak disangka olehnya, kembali bertemu setelah sekian lama berpisah di tempat yang tidak pernah Adrian bayangkan sebelumnya, yakni rumah sakit. Tempat kerja barunya. Adrian pun berusaha tidak melihat ke arah Alifa terlalu sering, tapi saat tatapan keduanya bertemu, waktu terasa berhenti berputar. Terkejut dan panik tentu saja terlihat jelas di wajah Alifa, dan Adrian menyadari hal tersebut. Rombongan Adrian melewatinya, bersyukur tidak ada obrolan apalagi tegur sapa yang memungkinkan Alifa gemetar berlebihan. Rombongan Adrian melewatinya begitu saja.. "Kamu kenapa?" tanya Kinanti, menyadari perubahan yang terjadi pada Alifa. "Sedikit nggak enak badan. Ayo, aku mau pulang.” Alifa memalingkan wajah menuju jalan berlawanan arah. "Minum dulu deh, kamu kelihatan pucet banget." Kinanti sedikit khawatir melihat perubahan yang terjadi pada Alifa, beberapa waktu lalu kondisinya masih terlihat sangat baik tapi sekarang berubah drastis. Alifa berjalan tergesa menuju kantin, bahkan dengan gerakan cepat dan tangan gemetar ia membeli air mineral lantas meneguknya sebanyak mungkin.. Tenggorokannya terasa kering, tapi sebanyak apapun ia minum tetap saja tidak membuat rasa haus itu hilang. "Sial!" Alifa mengumpat, memegang bagian depan tubuhnya, dimana jantungnya berdegup sangat kencang. Enam tahun berlalu tidak lantas membuat keadaan berubah. Adrian masih berpengaruh besar dalam hidupnya, memegang kendali atas sakit yang dirasakannya. Sementara itu, dari kejauhan Adrian menatap kepergian Alifa dengan tatapan sendu. Apa yang diharapkannya setelah kembali bertemu wanita itu. Mantan istrinya. Dengan perasaan campur aduk, Adrian sulit mendeskripsikan bagaimana hatinya saat ini. Sesal yang begitu dalam, tatapan luka yang terlihat jelas di kedua sorot mata Alifa hingga maaf yang tidak pernah terucap. Semua itu bercampur satu dalam hatinya, momen yang ditunggu sekaligus ditakuti akhirnya tiba. Adrian tahu, kembali ke Jakarta sama saja dengan kembali membuka jalan pertemuan antara dirinya dan Alifa, hanya saja Adrian tidak pernah menyangka akan secepat ini. Adrian sadar betul kesalahan apa yang sudah dilakukannya hingga membuat wanita itu menatapnya penuh rasa benci, Adrian pun tidak akan terkejut jika tadi Alifa menghampiri, memakinya bahkan menamparnya di depan umum. Namun hal tersebut tidak terjadi, Alifa justru pergi. Alifa pergi dengan tidak mengucapkan caci maki sedikitpun. "Mau Jus?" tanya Rijal untuk kedua kalinya dengan tatapan tidak percaya, saat ini Alifa sudah berada di rumahnya, menikmati jus buatan sang Kakak. Makanan berat tidak mampu ditelannya dengan baik, hanya jus buah yang mampu melewati tenggorokan tanpa merasa sakit saat menelan. "Iya. Jus sehat, andalan kamu." Ijal sangat menjaga pola makan, jika Alifa selalu mengabaikan makanan yang masuk ke dalam lambungnya, berbanding terbalik dengan Ijal yang begitu peduli akan kesehatan. Alifa pun sebenarnya sangat peduli akan kesehatan dirinya, hanya saja kesibukan kerap membuat Alifa lupa. "Sedikit aneh," Ijal memiringkan kepalanya menatap Alifa dengan tatapan menyelidik. "Spesial untukmu." Jus buatannya selesai dibuat, keduanya duduk berdampingan di meja bar kecil yang ada di dekat dapur bersih. Spot paling disukai Alifa saat menikmati secangkir kopi panas, teh atau jus seperti saat ini. Alifa bisa menghabiskan waktu berjam-jam di ruangan tersebut, setelah merasa puas dan bosan, barulah ia akan masuk kedalam kamar atau melanjutkan kesibukan lain. Alifa selalu menyibukkan diri dengan kegiatan apapun, menghindari waktu luang yang akan membuat pikirannya semakin kacau balau. "Ada apa?" Ijal kembali bertanya. "Kenapa?" Alifa justru balik bertanya. "Wajahmu terlihat begitu berantakan." ijal memperhatikan wajahnya dengan seksama, menyelidik dengan begitu teliti. "Sesuatu hal buruk terjadi?" tanya Ijal lagi. Hubungan keduanya begitu erat, pernah ada di posisi Alifa begitu bergantung pada kakaknya dari segi finansial dan mental, saat ini Alifa sudah berhasil berdiri di kedua kakinya namun ia masih selalu butuh sosok Ijal. Sedikit perubahan yang terjadi pada Alifa selalu mudah disadari Ijal. Alifa mengangguk, mengiyakan. Percuma saja berbohong, Ijal pasti akan menyadarinya. "Sangat buruk." Alifa menghela lemah. "Dimarahi Bos seharian?" Alifa menggeleng, "Lebih dari itu." "Apa?" Ijal benar-benar penasaran, menggeser duduknya menatap serius ke arah Alifa. "Dia kembali." Alifa menatap, menerawang ke arah lain dengan tatapan kosong. "Dia datang kembali." Alifa menoleh dan tersenyum samar. "Siapa?" Ijal penasaran, hanya saja setelah melihat tatapan sendu dan sorot mata muramnya di wajah Alifa, ijal akhirnya mengerti. "Adrian?!" "Mm," Alifa menggumam pelan, kembali meneguk sisa jus di gelas hingga benar-benar habis. "Nyaris setiap hari aku berdoa untuk tidak bertemu dengannya lagi, di kebetulan manapun. Ternyata doaku tidak didengar, kami kembali bertemu dengan kesialan yang nyaris sama.” Helaan berat meyakinkan ada luka di hatinya yang belum sembuh, waktu tidak lantas membuat luka itu mengering, masih saja berdarah dan sakit. "Aku benci dia. Sangat benci.” “Jangan temui dia!” Alifa terkekeh, menoleh dengan senyum dipaksa. “Menurut Abang, aku ingin bertemu dia?” “Hindari dia, jangan pernah membiarkan apapun membuat kalian bertemu.” “Sialnya, dia adalah dokter yang akan menangani operasi cangkok jantung Kaira.” Alifa menundukkan kepalanya. “Skenario apa lagi ini, Bang? Aku benar-benar sudah kehabisan tenaga untuk sekedar menyapanya, tapi semesta seolah kembali menertawakanku, mempertemukan kami lagi.” Alifa sedih bercampur kecewa, kedua matanya memerah menahan tangis. “Kita akan mencari jalan lain, kamu tenang saja.” Ijal berusaha menenangkan, mengusap punggung Alifa dengan lembut. Menjadi saksi bagaimana perjuangan Alifa selama ini dalam mempertahankan Kiara dan juga hidupnya sendiri membuat Ijal tahu persis luka separah apa yang dirasakan Alifa selama enam tahun. Jatuh bangun merawat Kiara dalam kondisi anak itu sakit, bahkan Alifa masih sempat melanjutkan kuliah ditengah perannya menjadi ibu muda. "Apakah kalian bertegur sapa?" tanya Ijal penasaran. "Tentu tidak!" jawab Alifa cepat. “Bersikaplah seolah kamu tidak mengenakan, jangan biarkan lelaki itu kembali menindas kita.” Alifa baru bisa memejamkan kedua matanya sekitar pukul dua dini hari dan kembali terbangun saat alarm berdering tepat pukul enam pagi. Hanya mampu tidur sekitar dua jam saja, sepertinya ia mulai mengalami insomnia parah dan harus segera memeriksakan keadaannya lagi. sepertinya kunjungan dengan dokter Sita akan kembali dibuka setelah tiga tahun melewati masa sulit yang begitu menguras emosi dan air mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN