Bab 1. Kisah masa lalu
“Adrian, jangan!” Alifa menahan satu tangan Adrian yang mulai membuka kancing seragam sekolah yang masih dikenakannya.
“Cukup.” Alifa berusaha menahan satu tangan lelaki itu yang hendak masuk kedalam roknya.
“Udah cukup, aku nggak mau!” Alifa berusaha memberontak, namun tenaga lelaki itu jauh lebih besar.
“Aku akan bertanggung jawab,” Adrian kembali mencari celah, mencium bibir Alifa untuk menggiring hasrat wanita itu. Adrian bisa merasakan, bukan hanya dirinya yang mulai terbakar gairah, tapi juga Alifa hanya saja wanita itu memiliki banyak ketakutan, berbanding terbalik dengan Adrian yang sudah ada di fase turn on.
“Adrian…” Alifa berusaha menahan, tapi hasrat dan kekuatan lelaki itu sulit untuk dikendalikan.
“Kamu sayang aku, kan?”
Alifa mengangguk
“Kalau begitu, jangan menolak. Aku akan bertanggung jawab, aku janji.”
Adrian menciumnya, melucuti pakaian Alifa dan hasrat membara itu pun membakar dua jiwa muda yang baru saja beranjak remaja.
Usia yang masih sangat muda dengan luapan hasrat yang tidak dapat ditahan, keduanya larut dalam gairah melupakan konsekuensi besar yang dihadapi setelahnya. Erangan kecil terdengar lirih, membuat Adrian semakin gencar mengejar kenikmatan.
“Adrian.. ah..”
"Jus buah naga bagus untuk kesehatan, Mbak.”
Seseorang menepuk pundaknya, menarik Alifa dari bayangan kisah kelam yang baru saja teringat kembali. “Memenuhi asupan nutrisi juga, kalau sewaktu-waktu nggak sempat makan.”
Alifa mengerjap, menghela lemah lalu tersenyum. “Iya, terimakasih.”
Rupanya bayangan masa lalu itu masih memeluknya erat, masih menjadi momok menakutkan yang kerap menghantui Alifa. Sekeras apapun ia melupakan, namun tetap tidak pernah hilang dalam ingatan justru semakin sakit dan menyiksa.
Seorang wanita datang dengan senyum manis, melambaikan tangannya ke arah Alifa. Dia adalah Kinanti, sahabatnya.
“Gue kira belum datang, Al.” Kinanti duduk, langsung mengambil jus milik Alifa dan menyedotnya tanpa jeda hingga tinggal separuh.
“Baru aja gue beli.” kelihatan Alifa, saat melihat jus miliknya tinggal separuh.
“Beli lagi nanti. Dari rumah buru-buru banget, Al. Takut dokter Andri keburu pergi.”
Kinanti tidak ada kepentingan dengan dokter Andri, selain mengantarnya. Hubungan Kinanti dan dokter Andri adalah saudara, cukup dekat bahkan Alifa pun tahu sosok dokter spesialis jantung itu dari Kinanti.
“Udah sarapan belom? Mau makan nasi kuning?” tanya Kinanti.
“Udah makan bubur ayam, minum kopi dan roti. Kenyang banget..” Alifa mengusap perutnya yang rata.
“Makan banyak nggak gemuk-gemuk, heran deh!”
Alifa tertawa pelan. "Sejak dulu aku memang tidak pernah gemuk. Sebanyak apapun aku makan, tetap akan seperti ini."
"Tapi dulu kamu terlihat jauh lebih segar."
Alifa meringis pelan.
Namanya juga ibu-ibu, makin lama pasti makin jelek.”
“Bukan jelek, Al. Tapi layu, kayak nggak ada semangat aja.”
“Masa sih?” Alifa menatap pantulan wajahnya di layar ponsel.
“Padahal setelah punya Kiara aku justru jauh lebih semangat.” ia menepuk wajahnya beberapa kali.
“Menjadi orang tua tunggal nggak mudah, Al. Apalagi dengan kondisi Kia sakit, Lo pasti capek banget. Tapi Lo ibu yang hebat, gue salut sama Lo.”
“Gue masih belum jadi ibu yang hebat, karena selama ini gue masih banyak kurangnya.”
Menyandang status ibu sekaligus janda setelah enam tahun lamanya membuat Alifa mengalami banyak perubahan. Tidak hanya penampilan tapi juga bagaimana cara ia menyikapi kehidupan ini.
Alifa sangat bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidupnya saat ini, selain memiliki anak juga bisa hidup lebih baik setelah ia berhasil melewati badai besar dalam hidupnya. Menjadi janda dan ibu di usia yang sangat mudah tidaklah mudah. Enam tahun yang penuh perjuangan dan air mata.
Yang dinanti akhirnya tiba, Alifa bertemu dengan dokter Andri di ruang kerjanya. Ditemani Kinanti, mereka berdua masuk ke ruangan tersebut untuk membahas beberapa hal penting tentang kesehatan Kiara. Hari ini Kita absen ikut, selain karena tidak ada kondisi serius juga kedatangan Alifa bukan untuk kontrol seperti biasanya. Hanya untuk membahas beberapa hal penting mengenai cangkok jantung untuk Kiara.
"Bagaimana keadaan Kiara hari ini? Baik?” tanya dokter Andri.
“Baik, dok.”
“Syukurlah.” dokter Andri menatap layar komputer yang ada di depannya secara bergantian dengan Alifa yang juga duduk persis di hadapannya, di depan meja kerja.
“Ada kabar gembira untuk kamu dan Kiara,” dari senyumnya saja sudah menunjukkan kabar tersebut benar-benar baik, membuat hari Alifa berdebar tidak sabar ingin segera mendengar..
"Kabar gembira apa, dok?”
Alifa membetulkan posisi duduknya, siap untuk mendengarkan.
“Kemungkinan operasi cangkok untuk Kiara akan dipercepat, selain karena kondisi anak itu sudah semakin baik, juga karena akhirnya kami menemukan dokter yang tepat untuk Kiara. Dia adalah junior saya sewaktu kuliah di luar negri, kemampuannya tidak perlu diragukan lagi karena telah menangani banyak kasus seperti cangkok hati. Semuanya sukses besar, dia dijuluki si tangan malaikat.” tuturnya.
Alifa tidak dapat menyembunyikan kegembiraan yang dirasakannya, senyumnya lebar membentuk sempurna di wajahnya. Ia senang mendengar informasi yang sangat penting itu.
“Si tangan malaikat itu akhirnya datang ke Indonesia, lebih tepatnya pindah ke rumah sakit ini. Sebuah keberuntungan untuk Kiara karena dia akan menjadi pasien pertamanya.”
“Akhirnya,,,” karena ikut merasa senang, Kinanti memegang tangan Alifa dengan erat.
“Terimakasih, dok. Saya benar-benar senang mendengarnya.” nyaris menangis karena terlalu bahagia dan terharu.
“Dokter yang mana, Kak? Aku nggak pernah dengar,” karena Kinanti memiliki banyak keluarga yang berprofesi dokter, ia mengenal banyak dokter terbaik di negri ini.
“Teman waktu kuliah dulu, hanya setelah lulus dia tidak langsung pulang ke Indonesia tapi memilih untuk bekerja di luar negri dulu. Dokter yang sangat berbakat, bahkan lulus dengan nilai terbaik. Sangat singkat untuk mendapatkan gelar dokter spesialis, tidak sepertiku yang butuh waktu sangat lama.”
“Pinter banget sepertinya.”
“Sangat jenius lebih tepatnya.”
Alifa semakin penasaran dengan sosok yang digadang-gadang sebagai tangan malaikat itu, bisa dibayangkan betapa berkarisma dia dengan kemampuan yang dimilikinya.
“Kalau tidak ada kendala hari ini dia akan datang ke rumah sakit ini. Kalau beruntung kalian bisa bertemu sebentar sebelum kami mengadakan acara penyambutannya di gedung utama.”
“Wah,,,, kebetulan banget ya? Kita harus ketemu dia. Aku penasaran.” Kinanti begitu antusias, begitu juga dengan Alifa hanya saja ia tidak menunjukan secara langsung.
“Hari ini kami cuti bersama di kantor, khusus untuk bertemu si tangan malaikat.”
“Ingat, dia sudah menikah. Jangan ganjen.”
Kinanti terkekeh. “Kukira masih single.”
“Nggak tahu pasti sih, tapi gosipnya sudah menikah.”
“Yah,,, pupus sudah harapan kita, Al.”
Alifa hanya tersenyum. “Aku udah nggak ada niat mau menikah lagi, sudah beristri atau belum nggak ngaruh buatku.” balasnya dengan tatapan jahil.
“Yang terpenting Kiara sembuh.”
"Oh,, katanya selain bertangan dingin juga ganteng.” Kinanti tengah bertukar pesan dengan temannya yang juga memiliki profesi dokter.
Kinanti ada di lingkungan yang nyaris semuanya berprofesi dokter atau perawat, entah apa yang ada dalam pikiran Kinanti hingga ia memutuskan untuk berprofesi sebagai karyawan kantor.
Alifa hanya bergumam pelan, seolah tidak ingin menanggapi ucapan Kinanti, tampan atau tidak tentunya tidak terlalu penting untuk Alifa.
Alifa justru sibuk dengan ponselnya, membuka beberapa catatan penting yang harus disiapkan menghadapi proses cangkok jantung nanti.
"Kamu nggak denger aku ngomong!" kesal Kinanti.
"Dengar." jawab Alifa, lantas mematikan ponselnya lalu memasukan benda tersebut ke dalam kantong celana.
"Gosip apa lagi?" tanya Alifa.
“Dokternya nya ganteng, masih muda dan kaya raya?" lanjut Alifa.
"Kok tau."
"Kamu nggak mungkin seheboh ini kalau gosip yang kamu dengar bukan tentang lelaki kaya dan tampan."
“Di kantor kita stok lelaki ganteng udah punah, Al. Mataku butuh penyegaran, sayang sekali dokter kita kali ini sudah menikah.” Kinanti terkekeh.
"Jangan tertipu karena ganteng, aku contohnya. Karena ganteng akhirnya aku bunting, setelah itu aku di tinggal.”
Kinanti tertawa.
"Kamu apes aja, Al. Nggak semua lelaki ganteng itu buaya, tapi rata-rata emang jadi biawak sih.”
Keduanya tertawa bersama.
Kinanti dan Alifa menunggu dengan sabar, hingga saat mereka melihat rombongan beberapa orang berjas putih yang diyakini sebagai rombongan para dokter. Dokter Andri pun ada dalam rombongan tersebut.
“Itu dokternya, Al. Dokter Adrian.” Kinanti menunjuk ke salah satu dokter yang berada persis di samping dokter Andri.
“Ganteng kan? Ganteng banget sih kata gue mah!”
Saat Kinanti terkesima dengan ketampanan sosok itu, Alifa justru terpaku dengan jantung berdegup kencang.
Tidak mungkin!
Lelaki itu tidak mungkin dokter yang akan menolong Kiara. Lelaki itu yang meminta Alifa untuk menggugurkan Kiara saat masih dalam kandungannya.
Mimpi buruknya itu kembali setelah, enam tahun berlalu, dia adalah Adrian Adiputra, mantan suami sekaligus ayah Kiara.