“Alifa tunggu,” Adrian mengejar, tidak membiarkan Alifa pergi begitu saja. “Tunggu dulu!” Adrian berhasil meraih satu tangan Alifa yang dengan mudah dikejar, menahannya dengan sekuat tenaga agar wanita itu tidak kembali menghindar. Adrian tahu, cengkraman tangannya bisa menyakiti wanita itu, tapi tidak ada pilihan lain sebab, Alifa pasti akan selalu berusaha menghindar. “Dengarkan aku,” Adrian memegang kedua pundak Alifa, memaksa wanita itu menghadap ke arahnya. “Aku salah, bahkan aku sangat menyesal untuk semua yang pernah terjadi diantara kita. Antara kamu, aku dan anak kita, tapi itu dulu. Aku akan bertanggung jawab, sungguh.” “Tidak perlu. Aku nggak butuh tanggung jawab darimu, lagipula kamu tidak pernah mau bertanggung jawab sejak dulu!” Alifa berontak. Keduanya ada di lorong

