Bab 16 - Mamah Mertua

1070 Kata

Suasana pagi yang tadinya cukup tenang berubah begitu langkah Ibu Barra terdengar menuruni tangga. Semua orang otomatis menoleh. Kirana yang sedari tadi berusaha bersikap sopan segera berdiri dan tersenyum. “Selamat pagi, Mah. Sarapan dulu, ya? Aku sudah masak—” Tapi sebelum Kirana selesai bicara, Ibu Barra langsung menjawab dingin tanpa menatapnya. “Tidak usah. Saya tidak makan kalau kalian yang masak dan duduk di sini.” Davina yang sedang memotong roti langsung berhenti. Nenek memicingkan mata, tidak suka dengan nada suara itu. Sedangkan Barra hanya diam. Tidak satu kata pun keluar dari mulutnya. Kirana mencoba mempertahankan suaranya agar tetap ramah. “Kalau Mamah mau dibawakan juga bisa. Aku—” “Saya bilang tidak,” ulang Ibu Barra, lebih keras. Ia meraih tasnya di meja kecil dek

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN