Pagi ini Kirana terbangun lebih dulu. Cahaya matahari baru menyelinap dari balik tirai ketika ia meraih cardigan tipisnya dan melangkah pelan keluar kamar. Barra masih terlelap di sofa. Selimutnya berantakan. Semalam mereka sama-sama kelelahan dengan keadaan rumit yang menekan.
Suasana rumah besar itu masih sunyi. Kirana berjalan menuju dapur. Berusaha tidak menimbulkan suara. Aroma sabun dan kebersihan memenuhi ruangan saat ia membuka kulkas. Mencari bahan yang bisa ia olah.
Belum sempat ia mulai memotong bawang, suara langkah terburu-buru terdengar.
“Nyonya… Nyonya Kirana, jangan. Biar saya saja yang menyiapkan sarapan,” ujar salah satu asisten rumah tangga sambil terlihat panik.
“Nenek biasanya tidak mengizinkan tamu, apalagi keluarga baru untuk masuk dapur.”
Kirana menunduk sopan.
“Maaf… Tapi saya sudah terbiasa masak sendiri. Lagi pula, saya ingin menyiapkan sesuatu untuk keluarga ini. Sebagai tanda terima kasih karena saya sudah diteirma di rumah ini.”
“Tidak bisa, Nyonya. Kalau Nenek tahu—”
“Tolong… Izinkan saya sekali ini saja,” potong Kirana lembut namun tegas. Ada keteguhan dalam suaranya. Bukan membangkang, lebih seperti kebutuhan untuk tetap menjadi dirinya sendiri di rumah yang bukan miliknya.
Asisten rumah tangga itu saling pandang dengan yang lain. Ragu, tapi akhirnya menyerah. Mereka mundur beberapa langkah. Tetap mengawasi dengan canggung.
Kirana menyalakan kompor. Suara minyak yang mulai panas, aroma bawang tumis, dan piring-piring yang ia tata membuat dapur megah itu terasa sedikit lebih hangat, sedikit lebih manusiawi. Ia membuatkan beberapa menu masakan sederhana.
Tak lama kemudian, ia menghidangkan semuanya di meja makan besar. Kontras meja mewah yang biasanya penuh hidangan dari juru masak profesional, kini menampilkan masakan rumahan sederhana buatan tangan seorang perempuan yang bahkan belum diterima sepenuhnya oleh keluarga Barra.
Kirana menarik napas panjang.
Ia berdiri di ujung meja, menatap hasilnya. Dalam hati ia bertanya. Apakah ini cukup? Apakah setidaknya Barra akan menghargainya?
Sementara itu dari arah ruang tamu, terdengar suara pergerakan pelan. Barra mulai bangun.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan terjadi rumah besar itu dipenuhi aroma masakan yang terasa seperti rumah kecil milik Kirana dulu.
Barra melangkah ke ruang makan dengan wajah masih kusut, rambut sedikit acak, dan ekspresi yang jelas menunjukkan ia bangun dalam keadaan terburu-buru. Begitu melihat jam di tangannya, ia langsung mengumpat pelan.
“Gila… Udah jam segini?” gumamnya tajam.
Kirana yang sedang menata sendok terakhir menoleh. Sedikit terkejut melihat Barra bangun dengan wajah tegang.
“Mas, sarapannya sudah—”
“Kirana!” suaranya meninggi tanpa memberi kesempatan.
“Kamu kenapa nggak bangunin saya?! Saya ada meeting penting jam sembilan! Kamu tahu itu, kan?!”
Kirana tertegun. Tangannya refleks menggenggam apron yang ia pakai.
“Maaf… Aku pikir kamu butuh istirahat. Kamu kelihatan sangat lelah semalam, jadi—”
“Justru karena saya lelah dan penting, kamu harusnya bangunin!” potong Barra kasar.
“Sekarang saya telat! Kamu mau saya keliatan tidak profesional di depan klien?!”
Asisten rumah tangga yang sebelumnya melihat Kirana memasak mendadak menunduk. Tak berani mencampuri. Suasana meja makan yang hangat beberapa menit lalu berubah tegang.
Kirana menelan ludah.
“Aku sudah menyiapkan—”
“Saya nggak butuh makanan!” Barra menyentak, melempar jas kerjanya ke kursi.
“Saya butuh kamu ngerti situasi, Kirana!”
Nada suaranya membuat Kirana memejamkan mata sepersekian detik. Ada rasa perih yang tak bisa ia sembunyikan. Tapi ia menahan diri agar tidak menangis di depan Barra.
“Aku cuma mau bantu…” ucapnya lirih.
Barra menghela napas panjang. Tapi bukan karena menyesal. Lebih seperti frustasi yang ditumpahkan pada orang pertama yang ada di depannya.
“Saya benar-benar nggak ada waktu buat ini.”
Ia meraih tasnya, mengenakan dasi dengan gerakan cepat dan kasar.
Kirana hanya berdiri diam. Menatap makanan yang ia buat. Masih hangat, masih mengepul, tapi tak tersentuh.
Saat Barra berjalan melewati pintu, ia berkata tanpa menoleh.
“Tolong jangan bikin masalah pagi-pagi begini lagi.”
Dan Kirana akhirnya membiarkan napasnya jatuh pelan. Seperti ada sesuatu di dadanya yang ikut retak bersama bunyi pintu itu.
Davina yang baru keluar dari kamar menghentikan langkahnya begitu mendengar suara keras Barra dari ruang makan. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kakaknya itu meninggalkan meja makan dengan wajah marah. Sementara Kirana berdiri mematung, menunduk dengan tatapan yang kosong.
Davina merasakan dadanya ikut sesak. Ia tahu Barra sedang tertekan, tapi membentak Kirana seperti itu lebih-lebih pagi-pagi sama sekali tidak bisa dibenarkan.
Begitu langkah Barra menghilang di luar, Davina perlahan mendekat. Suaranya lembut, berbeda jauh dari suasana yang baru terjadi.
“Kak Kirana…,” panggilnya pelan.
Kirana tersentak kecil. Berusaha tersenyum walaupun garis merah terlihat jelas di sudut matanya.
“Dek… Kamu dari tadi di situ?”
Davina mengangguk, sedih.
“Aku lihat semuanya, kak.”
Kirana langsung menggeleng pelan.
“Mas Barra cuma… Lagi capek. Meeting nya penting. Kakak yang salah. Kakak—”
“Kak,” potong Davina. Kali ini dengan nada tegas namun penuh empati.
“Kakak nggak salah sedikit pun. Sama sekali nggak.”
Kirana menunduk lagi. Kedua jemarinya menggenggam apron erat-erat. Davina mendekat. Memegang kedua bahu Kirana dengan hati-hati.
“Kak Kirana… Aku tahu rumah ini besar. Keluarga ini punya nama besar. Tapi kalau setiap hari kakak harus nahan sakit kayak gini…” Davina menarik napas panjang.
“Mending Kakak ikut aku balik ke rumah orang tua kita dulu.”
Kirana mengangkat wajahnya. Menatap Davina dengan mata yang mulai berair.
“Davina…”
“Serius,” lanjut Davina. Suaranya mantap namun tetap hangat.
“Rumah kami cuma sederhana. Nggak ada meja makan sepanjang ini, nggak ada chandelier kristal, nggak ada asisten rumah tangga yang selalu melihat setiap gerak kita.”
Davina tersenyum kecil. Tapi senyumnya penuh makna.
“Tapi di rumah itu… Kakak bisa tidur tanpa takut dibentak. Bisa masak tanpa dilarang. Bisa jadi diri sendiri.”
Kirana menutup mulutnya dengan tangan. Menahan isak kecil yang akhirnya lolos. Semua tekanan yang ia tahan sejak semalam, sejak pemakaman, sejak pernikahan mendadak itu seakan runtuh bersamaan.
Davina memeluknya erat.
“Ayo pulang sama aku, kak. Walaupun sederhana… Itu rumah yang benar-benar bisa bikin kita merasa tenang.”
Dan pagi itu, di tengah rumah besar yang terasa dingin dan asing, Kirana akhirnya menemukan satu-satunya tempat yang terasa seperti keluarga. Yaitu pelukan Davina.