Kirana dan Davina berdiri bersamaan. Cepat-cepat mendekat.
“Iya, Dok! Kami anaknya!”
Dokter menjelaskan dengan nada penuh kehati-hatian.
“Kami sudah melakukan yang terbaik… Kondisinya masih kritis. Saat ini kami akan memindahkannya ke ruang ICU. Kami butuh keluarga untuk tanda tangan persetujuan perawatan lanjutan.”
Kirana nyaris tak bisa bicara.
“Saya… Saya yang tanda tangan, Dok. Tolong selamatkan Ayah saya… Apa pun caranya.”
“Baik. Silahkan urus dengan suster tersebut. Saya permisi.”
“Baik, terima kasih, Dok.”
Sementara itu, Barra hanya bisa berdiri diam. Sesekali melirik ke arah Kirana dan Davina dengan rasa bersalah yang begitu jelas tergambar di wajahnya. Ia sudah berulang kali meminta maaf. Namun kata maafnya tidak berarti bagi mereka berdua. Terutama Davina yang sangat marah kepadanya. Karena ia melihat sendiri dengan mata kepalanya atas kejadian yang dialami oleh Ayahnya. Alya pun tampak berusaha menenangkan Barra. Meski dirinya sendiri tak kalah gugup.
Ia tahu, posisi dirinya bisa terancam. Meski dirinya seorang CEO besar, kesalahan ini nyata dan tidak bisa dihapuskan dengan kekuasaan. Karena banyak pasang mata yang menjadi saksinya. Dalam kepanikan, Barra akhirnya mengambil ponselnya dan menelpon dua orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya. Dia adalah Mamah dan Neneknya. Dua wanita kuat yang memiliki koneksi luas dan kuasa besar di kalangan pejabat maupun pengusaha.
“Mah… Mamah bisa ke rumah sakit sekarang? Aku… Aku menabrak seseorang, Mah. Dia kritis sekarang. Aku takut, Mah… Aku takut dibawa ke polisi.”
“Apa? Kok bisa?”
“Ceritanya panjang, Mah. Yang penting sekarang Mamah ke sini dulu.”
“Oke. Tenang, Barra. Jangan lakukan apa pun dulu. Mamah dan Nenek akan ke sana sekarang.”
“Iya, Mah.”
Tak butuh waktu lama, mobil mewah berhenti di depan rumah sakit. Seorang wanita elegan paruh baya dengan pakaian rapi dan langkah cepat memasuki lobi. Disusul oleh seorang Nenek tua berpenampilan berwibawa didampingi dua pengawal. Kehadiran mereka seketika menarik perhatian banyak orang di rumah sakit.
Mereka langsung menuju ruang tunggu tempat Barra berada. Sang Ibu langsung memeluknya. Sementara Neneknya menatapnya tajam namun berusaha tenang.
Ibu Barra mendekat. Memegang bahu Barra.
“Nak, kamu nggak apa-apa?”
Barra gelisah.
“Aku takut, Mah. Orang itu belum sadar… Anak-anaknya marah sekali.”
Nenek Barra berbicara dengan nada dingin, menatap sekeliling. Takut ada orang lain yang mendengarnya.
“Lagi pula kenapa kamu bisa menabrak dia?”
“Aku ga sengaja, Nek. Kejadiannya terjadi begigu cepat.”
“Kalau mereka melaporkan kamu ke polisi, habis sudah nama perusahaan kita yang sudah Nenek jaga sejak dulu.”
“Iya, Nek. Aku minta maaf. Aku janji akan lebih berhati-hati lagi.”
Setelah mendengar penjelasan singkat dari Barra, keduanya saling berpandangan. Lalu berjalan mendekati keluarga korban yang masih duduk di bangku tunggu dengan wajah sedih.
Dengan nada lembut namun penuh kuasa, Mamahnya mencoba membujuk Kirana dan Davina. Ia menjelaskan bahwa putranya tidak bermaksud mencelakai siapa pun dan menawarkan sejumlah uang sebagai bentuk “tanggung jawab.” Ia bahkan mencoba menenangkan dengan kata-kata manis. Berharap masalah ini bisa selesai secara damai tanpa harus ke jalur hukum.
Mamah Barra berbicara dengan nada yang lembut namun tegas.
“Nak, saya Ibu dari Barra. Kami semua turut prihatin atas kejadian ini. Anak saya sama sekali tidak berniat mencelakai Ayah kalian. Tolong… Biarkan kami membantu Ayah kalian.”
Kirana menatap waspada.
“Membantu bagaimana maksudnya, Bu?”
“Kami akan tanggung semua biaya pengobatan. Bahkan kami siap memberi kompensasi… Asalkan masalah ini tidak dibawa ke jalur hukum.”
Kirana terkejut.
“Kompensasi? Jadi Ayah kami cuma angka bagi kalian?”
Davina ikut bersuara dengan bergetar menahan marah.
“Uang tidak bisa membeli nyawa, Bu. Kami tidak butuh kompensasi. Kami cuma mau Ayah kami hidup dan pelaku bertanggung jawab sebagaimana mestinya.”
Kata-kata itu membuat suasana di rumah sakit menjadi tegang. Sang Ibu menatap mereka dengan kaget. Sementara Nenek Barra mulai kehilangan kesabarannya. Namun melihat tatapan mata penuh luka dari kedua gadis itu, bahkan Barra sendiri tak sanggup bicara. Ia tahu seberapa besar pun uang dan kuasanya, ia tidak bisa menghapus kesalahan yang sudah terjadi. Kejadian fatal yang mempunyai banyak saksi mata.
Seorang Dokter tampak berjalan cepat kembali keluar dari ruang UGD. Wajahnya yang semula tegang kini sedikit mengendur. Menampilkan kelegaan yang hati-hati. Ia menghampiri keluarga yang menunggu dengan cemas. Lalu berhenti tepat di hadapan dua anak perempuan yang sejak tadi menggenggam tangan satu sama lain.
Dengan nada lembut namun jelas Dokter itu menjelaskan keadaan Ayah mereka saat ini.
”Ayah kalian kini sudah sadar. Dia ingin bertemu dengan kedua anaknya.”
Berita itu turun seperti hujan hangat setelah hari yang panjang. Membuat d**a terasa lebih ringan dan napas sedikit lebih lega.
Dokter itu kemudian memberi isyarat agar mereka bersiap masuk. Di balik pintu UGD yang masih terbuka sedikit, terdengar suara-suara peralatan medis. Namun kini terasa kurang menakutkan. Kirana dan Davina mengangguk pelan. Mata mereka berkaca-kaca oleh rasa syukur dan kelegaan. Lalu mengikuti Dokter menuju Ayah yang sudah menunggu untuk melihat mereka.
Ayah mereka mengatur napasnya pelan, lalu memandangi kedua putrinya yang kini berdiri di samping ranjang. Ada kegelisahan yang jelas di matanya. Berbeda dari kelegaan yang mereka harapkan saat mendengar ia sudah sadar.
“Ayah cari seseorang,” ujarnya lirih.
Kedua putrinya saling menoleh tak mengerti.
“Siapa, Yah?” tanya Kirana.
Ayah mereka menelan ludah, lalu menatap mereka lebih serius.
“Orang yang menabrak Ayah tadi. Dia ada di luar, kan?”
Davina mengerutkan kening.
“Iya, Yah… Dia masih di lorong. Dia kelihatan takut sekali. Tapi kami kira...”
“Ayah mau dia masuk,” potong Ayah mereka. Suaranya tegas meski tubuhnya masih lemah.
“Tolong panggil dia. Ayah perlu bicara.”
Kirana dan Davina terdiam. Mereka tak menyangka bahwa di tengah kondisinya yang masih belum stabil, hal pertama yang Ayah mereka pikirkan adalah orang yang menyebabkan kecelakaan ini. Ada campuran bingung, khawatir, dan sedikit ragu yang melintas di wajah mereka.
“Tapi, Yah… Apa Ayah yakin? Ayah baru sadar,” gumam Kirana.
Ayah menatap tepat ke mata Kirana.
“Ayah yakin. Jangan khawatir. Ada sesuatu yang harus Ayah sampaikan… Dan Ayah tidak mau menundanya.”
Suasana di ruangan menjadi lebih sunyi. Seolah semua suara monitor meredup. Kirana dan Davina akhirnya mengangguk pelan. Saling menggenggam tangan untuk menenangkan satu sama lain.