Bab 03 - Berawal Dari Sini

1068 Kata
Barra membanting rem. Wajahnya langsung pucat. Alya yang duduk di sebelahnya menutup mulut. Matanya membulat ngeri. Mereka berdua segera keluar dari mobil. Laki-laki paruh baya itu terbaring di aspal. Darah mengalir dari pelipis dan lengannya. Anak itu menangis keras sambil mengguncang tubuh Ayahnya yang tak sadar. Orang-orang mulai berkerumun. “Kalian tunggu apa? Cepat bawa Ayah saya ke rumah sakit,” teriak anak tersebut. Dengan tangan gemetar, Barra berlutut. “Tolong hubungi ambulans… Atau tidak, bawa dia ke mobilku!” katanya panik. Alya membantu. Wajahnya pucat pasif. Mereka dengan hati-hati mengangkat tubuh korban ke kursi belakang mobil. Sementara anak itu di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit terus menangis sambil memeluk Ayahnya. Mobil hitam itu pun melaju cepat menuju rumah sakit terdekat. Kini tanpa lagi ada suara selain tangisan dan doa lirih. Barra menatap jalan dengan pandangan kosong. Wajahnya penuh rasa bersalah. Beberapa menit kemudian mereka semua tiba di rumah sakit. Suara roda brankar bergema di sepanjang koridor rumah sakit. Laki-laki paruh baya itu segera dibawa masuk ke ruang UGD. Tubuhnya penuh luka dan darah yang sudah mulai mengering di pelipisnya. Para perawat dan Dokter bergegas. Saling memberi instruksi cepat. Pintu ruang UGD menutup rapat. Di luar, suasana terasa berat. Anak itu duduk di kursi tunggu, masih terisak pelan. Seragam sekolahnya berantakan, dan tangannya memegangi ponsel dengan gemetar. Barra berdiri tak jauh darinya. Wajahnya pucat, jasnya masih berlumur debu dan bercak darah. Alya berdiri di samping Barra. Berusaha menenangkannya dengan suara lembut. Anak itu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Kemudian ia menelepon seseorang. “Halo, Kak… Kakak dimana?” “Kamu kenapa? Kenapa suara kamu gemetar begitu?” terdengar suara perempuan muda dari seberang. “Kak… Ayah… Ayah kecelakaan… Dia ditabrak mobil waktu mau berangkat kerja…” Di seberang, terdengar helaan napas tertahan. “Apa? Kok bisa? Di mana kamu sekarang?” “Di rumah sakit… Ayah lagi di ruang UGD,” jawabnya dengan tangis yang makin pecah. Barra menunduk dalam-dalam. Mendengarkan percakapan itu tanpa berani menatap siapa pun. Di dalam dadanya, rasa bersalah menekan seperti batu besar. Alya menatapnya sekilas. Mencoba memberi ketenangan. “Ya sudah kalau gitu kakak ke sana sekarang. Kamu yang tenang, ya. Temani Ayah dulu.” “Iya, kak.” Sambungan telepon dimatikan. Kini yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa. Menunggu Dokter yang sedang menangani Ayahnya keluar dari dalam ruangan dan memberikan kabar baik tentang Ayahnya. Sambil menunggu kedatangan kakaknya. ***** Di dalam toko bunga yang wangi dengan aroma mawar dan melati, seorang wanita berusia dua puluh tiga tahun sedang menata rangkaian bunga pesanan pelanggan. Jarinya cekatan mengikat pita di sekitar vas kaca ketika suara ponselnya tiba-tiba berdering dari saku celemeknya. Ia melihat layar. Nama adiknya muncul di sana. Senyumnya sempat muncul sebentar sebelum kemudian lenyap begitu saja setelah mendengar suara di seberang. “Kak… Ayah… Ayah kecelakaan… Dia ditabrak mobil waktu mau berangkat kerja…” Wanita itu terdiam. Pita yang tadi dipegangnya terlepas. Meluncur jatuh ke lantai. “Apa? Kok bisa? Kamu dimana sekarang?” suaranya tercekat, hampir tak keluar. “Di rumah sakit… Ayah lagi di ruang UGD.” “Ya sudah kalau gitu kakak ke sana sekarang. Kamu yang tenang, ya. Temani Ayah dulu.” Tanpa pikir panjang, wanita itu menaruh gunting bunga di meja. Lalu berlari ke arah pemilik toko. “Bu, saya… Saya harus pergi sekarang. Ayah saya kecelakaan!” ucapnya dengan napas tersengal, matanya mulai berkaca. Pemilik toko yang lebih tua itu terkejut. Tapi segera mengangguk. “Pergi, Nak. Cepat ke sana. Jangan pikirkan toko ini dulu. Biar Ibu yang menyelesaikannya.” Wanita itu mengangguk cepat. Mengambil tas kecilnya, lalu berlari keluar dari toko. Langkahnya terburu-buru. Hampir tersandung di ambang pintu. Ia bahkan lupa melepas celemek yang masih menempel di tubuhnya. Di luar, udara pagi terasa menyesakkan. Tangan gemetarnya berusaha memesan ojek online lewat ponsel. Sementara pikirannya sudah melayang ke rumah sakit. Wajah Ayahnya terbayang dengan senyum lembut dan tangan yang dulu sering mengantarnya ke sekolah. Air mata akhirnya jatuh. Meski ia berusaha keras menahannya. Yang ada di benaknya hanya satu hal. Semoga ia tidak terlambat. Kirana berlari tergesa-gesa memasuki ruang UGD rumah sakit dengan wajah pucat dan napas terengah. Matanya tampak sembab karena air mata yang sejak tadi tak berhenti menetes. Tubuhnya sedikit gemetar, namun ia tetap berusaha kuat. Di tangannya masih tergenggam erat tas kecil yang bahkan belum sempat ia letakkan sejak menerima kabar bahwa Ayahnya tertabrak mobil. Begitu tiba di depan ruang UGD, ia mendapati beberapa orang sudah berada di sana. Seorang pria berpenampilan rapi dengan jas hitam berdiri dengan wajah tegang. Dia adalah CEO pemilik mobil yang menabrak Ayahnya. Di sampingnya, seorang wanita muda yang merupakan sekretaris pribadinyaa. Tak jauh dari mereka, adik dari Kirana duduk di kursi tunggu sambil menggenggam ponselnya. Menatap pintu ruang UGD dengan cemas. Suasana rumah sakit terasa begitu sunyi dan menekan. Hanya terdengar suara langkah petugas medis yang berlalu-lalang serta bunyi mesin monitor dari dalam ruangan. Kirana mendekat ke arah adiknya dan memeluknya erat. Hatinya hancur melihat adiknya yang menangis tanpa suara. “Gimana keadaan Ayah?!” tanya Kirana kepada Davina, adik kandungnya. Davina menatap kakaknya dengan mata merah. “Kak… Dokter masih di dalam. Katanya… Ayah luka parah di bagian kepala dan dadanya.” Kirana menutup mulut, menahan tangis. “Ya Tuhan… Kenapa bisa begini?” “Semua ini karena salah mereka berdua. Mereka berdua yang udah nabrak Ayah. Padahal Ayah ga salah. Ayah ada di pinggir jalan. Tapi laki-laki itu menabrak Ayah dengan mobilnya sampai Ayah seperti ini,” jawab Davina dengan suara gemetar dan menunjuk ke arah Barra. Kirana menoleh. Barra berjas hitam berdiri agak jauh ditemani sekretaris pribadinya. Wajah Barra tampak menegang penuh rasa bersalah. “Iya, saya… Saya yang mengemudi. Saya minta maaf. Saya tidak bermaksud… Semuanya terjadi begitu cepat.” Davina menahan amarah. “Cepat? Karena Anda terburu-buru? Karena mobil Anda terlalu mahal untuk berjalan pelan?” Alya menjawab dengan pelan. Mencoba menengahi. “Tolong… Pak Barra sudah membawa Ayah Anda ke rumah sakit secepatnya. Beliau juga yang menanggung semua biaya pengobatan...“ Davina memotong dengan mata berkaca-kaca. “Saya tidak peduli soal biaya! Saya cuma mau Ayah saya selamat!” “Saya paham… Dan saya tidak akan lari dari tanggung jawab. Saya berjanji akan lakukan apa pun yang bisa saya lakukan sampai Ayah kalian sembuh kembali.” Kirana menatap tajam. “Janji tidak bisa menyembuhkan luka, Tuan.” Suasana semakin tegang hingga pintu UGD terbuka. Seorang Dokter keluar dengan wajah serius sambil menurunkan masker. “Keluarga pasien atas nama Pak Aditya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN