Bab 02 - Tragedi Mobil Hitam

1316 Kata
Pagi itu, sinar matahari menembus lembut melalui tirai besar berwarna gading yang menutupi jendela ruang makan megah keluarga Buana. Meja makan panjang dari marmer putih berkilau dihiasi vas kristal berisi mawar segar dan peralatan makan berlapis emas. Aroma roti panggang, kopi, dan telur truffle memenuhi udara. Di ujung meja duduk Barra Buana, pria berusia dua puluh lima tahun dengan jas hitam rapi dan dasi sutra biru tua. Wajahnya tenang, tapi tatapannya tegas. Sosok muda yang sudah menjadi CEO perusahaan keluarga milik Neneknya. Ia menyesap kopi hitamnya sambil sesekali memeriksa ponsel dan berkas di tangannya. Di sebelahnya, Clara, adik perempuannya yang masih duduk di bangku kuliah tampak ceria mengenakan gaun santai berwarna pastel. Ia memotong croissant dengan santai sambil sesekali menggoda kakaknya. “Kak Barra, jangan tegang terus. Bahkan sarapan pun kayak rapat direksi.” Barra hanya tersenyum tipis. “Kalau aku nggak siap dari pagi, rapat benerannya nanti bisa berantakan.” Mamah mereka, wanita elegan dengan perhiasan berlian di pergelangan tangan hanya tertawa kecil mendengar percakapan kedua anaknya. Ia tampak tenang, meski aura wibawanya masih begitu terasa. “Barra memang harus disiplin, Clara. Tapi tetap saja, keluarga lebih penting dari laporan keuangan.” Sementara itu, Nenek, sosok paling tua di meja itu duduk di kursi khasnya di ujung lain meja. Ia mengenakan kebaya lembut warna krem dan tersenyum penuh kasih sambil menyeruput teh melatinya. “Dulu waktu Ayahnya Barra masih muda, sarapan kita cuma nasi goreng dan teh manis. Sekarang, lihatlah. Semuanya serba mewah. Tapi yang paling penting, kalian masih mau duduk bersama begini.” Nenek Barra adalah Ibu dari Ayah Barra. Sehingga ia tahu betul bagaimana Ayah Barra dulu. Dan perusahaan yang dipegang oleh Barra saat ini adalah milik Neneknya. Yang sebelumnya juga dipimpin oleh Ayahnya. Namun setelah Ayahnya meninggal dunai, kini perusahaan itu dipimpin oleh Barra sebagai generasi ketiga. Setelah itu mungkin Clara, sang adik akan mengikuti jejak Barra untuk memimpin perusahaan tersebut. Ruangan makan dipenuhi dengan tawa kecil dan suasana hangat meski di tengah kemewahan yang mencolok. Cahaya kristal dari lampu gantung besar di atas meja menambah kesan anggun. Sementara pelayan berdiri sopan di sisi ruangan siap melayani setiap permintaan. Setelah selesai sarapan, Barra berdiri dan merapikan jasnya. Ia mengecup tangan Mamahnya dan Neneknya dengan hormat lalu menepuk kepala Clara pelan. “Doakan aku, ya. Hari ini ada presentasi penting.” Mamah tersenyum bangga. “Selalu. Kamu anak kebanggaan keluarga ini.” Dengan langkah mantap, Barra berjalan keluar dari ruang makan meninggalkan aroma parfum mahal dan gema langkahnya yang tenang di lantai marmer. Sementara keluarganya melanjutkan sarapan pagi yang damai di rumah mewah itu. ***** Sebuah mobil hitam mewah berhenti perlahan di tepi jalan depan sebuah rumah sederhana. Mesin mobil berdesing halus tanda dari kendaraan kelas atas yang diperlakukan dengan penuh perawatan. Di balik kemudi duduk Barra, dengan jas hitam elegan dan jam tangan mahal di pergelangan tangannya. Ia menatap jam sebentar, lalu menatap jalan kecil di depan rumah itu dengan senyum tipis di wajahnya. Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka. Seorang perempuan muncul dengan langkah cepat dan senyum gugup. Ia adalah Alya, sekretaris pribadinya di kantor sekaligus kekasih hatinya yang hubungannya harus mereka sembunyikan rapat-rapat dari rekan kantor maupun keluarga. Rambutnya tergerai lembut dan ia mengenakan blus putih sederhana serta rok hitam formal. Dengan makeup yang ia kenakan pagi ini membuatnya terlihat sangat cantik. Apalagi lipstik yang berwarna merah merona di bibirnya membuat Alya terlihat semakin seksi. Ia sengaja berdandan seperti itu agar Barra semakin tertarik dan jatuh cinta dengannya. Alya tidak akan membiarkan wanita lain mendapatkan hatinya selain dirinya. Setelah ia berusaha keras untuk bisa mendapatkan Barra selama ini. Ketika Alya membuka pintu mobil dan masuk, aroma parfum lembutnya langsung memenuhi kabin. Ia tersenyum kecil, sedikit canggung. “Maaf ya, Mas… Aku nggak mau bikin orang rumah curiga. Makanya aku suruh Mas jemput aku di sini. Maaf juga lama. Soalnya aku bikinin kamu ini,” katanya pelan sambil memberikan kotak bekal kecil kepada Barra yang berisikan roti bakar rasa cokelat kesukaannya. Barra tersenyum lembut. “Nggak apa-apa, sayang. Aku juga baru sampai. Lagipula, aku lebih suka nunggu kamu daripada nunggu rapat di kantor.” Alya tersenyum kecil, menatapnya sekilas. “Kamu bisa aja, Mas. Tapi kita tetap harus hati-hati, ya. Kalau sampai orang kantor tahu, apalagi keluarga kamu… Terutama Mamah dan Nenek kamu.” Barra menghela napas, pandangannya lurus ke wajah Alya. “Aku tahu. Mamah sama Nenek nggak akan terima hubungan kita. Buat mereka, semua hal harus “setara”.” Alya menunduk, suaranya pelan. “Aku cuma sekretaris biasa, Mas. Mereka pasti pikir aku nggak pantas buat kamu. Karena aku cuma bawahan kamu di kantor.” Barra menatap Alya serius. “Jangan pernah ngomong kayak gitu. Aku jatuh cinta sama kamu bukan karena jabatan, Alya. Kamu harus tahu itu.” Alya tersenyum lembut, tapi matanya agak redup. “Aku tahu, Mas. Tapi kadang aku takut… Aku takut kalau hubungan kita ketahuan, semua yang kamu bangun bakal hancur karena aku. Kalau itu semua terjadi, aku akan jadi orang yang sangat menyesal karena sudah berani menjalin hubungan dengan kamu.” Barra menggenggam tangannya pelan. “Denger ya, sayang… Apapun yang terjadi nanti, aku nggak akan nyalahin kamu. Aku yang pilih jalan ini, dan aku nggak akan ninggalin kamu.” Alya menatap tangannya yang digenggam. “Mas… Kalau Mamah dan Nenek kamu tahu, kamu yakin masih mau berjuang dengan hubungan kita? Kamu ga akan tinggalin aku?” Barra menatapnya penuh keyakinan. “Aku yakin. Aku cuma butuh waktu buat meyakinkan mereka. Tapi sampai saat itu datang, biarin hubungan ini jadi rahasia kita berdua, ya?” Alya tersenyum manis, meski matanya berkaca. “Aku janji, Mas. Aku bakal jaga rahasia ini baik-baik.” Barra tersenyum tipis, lalu menyalakan mobil. “Baik. Sekarang, kita berangkat sebelum staf lain datang. Nanti mereka curiga kenapa sekretaris CEO tiba bersamaan dengan bosnya.” Alya tertawa pelan. “Iya, nanti dibilang aku dapet “privilege khusus” lagi.” Barra menatapnya sekilas dengan senyum hangat. “Kalau mereka tahu alasannya, mungkin mereka bakal iri.” Mobil perlahan melaju meninggalkan rumah itu. Dari luar, hanya tampak seorang bos dan sekretarisnya yang berangkat kerja. Tapi di balik kaca mobil yang buram, tersimpan kisah cinta yang bersembunyi di antara batas profesional dan perasaan yang tak bisa dikendalikan. Udara di dalam mobil terasa tenang. Hanya terdengar deru mesin dan musik lembut dari radio. Barra sesekali melirik ke Alya. Memperhatikan bagaimana sinar matahari pagi menembus kaca dan memantul di rambutnya. Suasana di dalam mobil perlahan berubah. Lebih lembut, lebih akrab. Tangan mereka saling menyentuh di antara kursi. Tanpa sengaja tapi tidak juga dihindari, sekretaris itu menunduk malu. Sementara Barra menatapnya dengan tatapan yang penuh kasih. Tiba-tiba Alya menyenderkan kepalanya di bahu tegap milik Barra. Alya tersenyum kecil sambil memainkan ujung kerah kemeja Barra. “Kamu tahu nggak?” katanya manja, suaranya setengah berbisik. “Aku paling suka saat seperti ini… Cuma berdua sama kamu, dan nggak mikirin apa-apa.” Barra menoleh. Tersenyum sambil mengusap rambutnya perlahan. “Kalau bisa, aku juga mau waktu berhenti di sini saja,” jawabnya lembut. Alya tertawa kecil. Lalu menyandarkan kepalanya lebih dekat. “Jangan manis-manis gitu, nanti aku jadi nggak mau turun dari mobil,” godanya. Mereka saling menatap, tertawa pelan. Tak ada kata yang perlu dijelaskan. Hanya kebersamaan sederhana yang terasa begitu hangat dan tulus. Barra tidak sengaja menoleh ke arah wajah Alya. Kini wajah mereka berdua sangat dekat. Hampir tidak ada jarak diantara kedua wajah mereka. Barra memerhatikan wajah cantik milik Alya. Matanya yang bulat sempurna berwarna cokelat tua, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis terlihat begitu sempurna. Kini mereka berdua saling bertatapan. Wajah mereka semakin dekat. Barra mendekatkan bibirnya ke bibir Alya. Lebih dekat lagi. Alya pun menejamkan matanya. Saat mereka sedang b******u tiba-tiba saja… Duar!! Benturan keras terdengar. Tubuh laki-laki paru baya itu terpental bersama motornya. Jatuh di sisi jalan. Anaknya yang baru beberapa langkah masuk gerbang sekolah menoleh spontan, menjerit histeris, lalu berlari kembali ke arah Ayahnya. “AYAH!!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN