BAB 2-Peraturan di Meja Makan

582 Kata
Perjalanan pulang di dalam mobil sedan hitam itu terasa jauh lebih lama bagi Naya. Arlan tetap fokus pada kemudi, wajahnya sedatar papan tulis di kelas tadi. Tidak ada musik, tidak ada obrolan hangat layaknya pasangan pengantin baru. Hanya suara deru mesin yang halus. Begitu sampai di rumah minimalis dua lantai milik Arlan, Naya langsung turun tanpa menunggu dibukakan pintu. Ia melangkah cepat menuju dapur, merasa perutnya sudah berdemo minta diisi. "Mas Arlan mau makan apa? Aku cuma bisa masak nasi goreng atau mie instan," tanya Naya ketus saat Arlan baru saja meletakkan kunci mobil di meja ruang tamu. Arlan melepas jam tangannya, lalu menggulung lengan kemejanya lebih tinggi. "Nasi goreng saja. Tapi jangan terlalu banyak cabai. Aku masih ada rapat koordinasi lewat Zoom satu jam lagi." Naya mendengus pelan sambil mengambil wajan. "Rapat lagi, rapat lagi. Apa nggak capek jadi orang paling sibuk se-kampus?" Arlan tidak menjawab. Ia justru mendekati Naya yang sedang memotong bawang. Bukannya membantu, pria itu malah berdiri sangat dekat di belakang Naya, memperhatikan cara istrinya memegang pisau. "Potongannya tidak rapi. Pantas saja tadi mengerjakan soal di papan tulis juga berantakan," komentar Arlan tepat di dekat telinga Naya. Naya hampir saja menjatuhkan pisaunya. Ia berbalik badan dengan cepat, membuat jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. "Bisa nggak sih sehari saja jangan mengkritik aku? Di kampus sudah, masa di rumah juga masih disidang?" Arlan menatap mata Naya dengan tenang. "Kualitas di rumah mencerminkan kualitas di kampus, Naya. Kedisiplinan itu tidak bisa dicopot pasang seperti baju." "Terserah Mas saja!" Naya kembali membalikkan badannya, menyalakan kompor dengan gerakan kasar. Sepuluh menit kemudian, dua piring nasi goreng sudah tersaji di meja makan. Mereka makan dalam diam. Naya sibuk dengan ponselnya, sementara Arlan tetap terlihat elegan bahkan saat hanya menyantap nasi goreng buatan mahasiswinya. "Besok kamu ada kelas jam berapa?" tanya Arlan tiba-tiba. "Jam delapan pagi. Ada kelas bimbingan skripsi juga setelahnya," jawab Naya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Arlan mengetuk meja dengan jarinya, memberi tanda agar Naya meletakkan ponselnya. "Simpan ponselmu saat sedang makan. Itu tidak sopan." Naya menghela napas panjang, namun ia tetap menurut. "Iya, Pak Dosen. Puas?" "Satu hal lagi," lanjut Arlan. "Besok jangan berangkat bareng aku. Ada audit dari dekanat di parkiran dosen pagi-pagi. Kamu turun di halte depan kompleks saja, nanti naik ojek online ke kampus." Naya tertegun. Sendoknya tertahan di udara. "Maksudnya aku harus naik ojek lagi? Padahal kita searah, Mas?" "Risikonya terlalu besar, Naya. Jika ada yang melihatmu turun dari mobilku di area kampus saat jam audit, rahasia kita selesai. Kamu mau beasiswamu dicabut karena melanggar aturan pernikahan mahasiswi?" tanya Arlan dengan nada logis yang menyebalkan. Naya hanya bisa menggigit bibir. Menikah dengan Arlan memang memberinya kemewahan tempat tinggal, tapi juga merenggut kenyamanannya sebagai manusia biasa. Semua harus serba rahasia, serba hati-hati. "Aku tahu. Aku nggak akan bikin Mas malu," gumam Naya pelan. Arlan terdiam sejenak melihat raut wajah Naya yang mendadak lesu. Ia mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Naya dengan gerakan yang sangat singkat sebelum kembali menariknya. "Selesaikan makanmu. Setelah ini, bawa draf skripsimu ke ruang kerjaku. Aku akan memeriksanya sebelum rapat dimulai," ucap Arlan sambil berdiri dari kursinya. "Hah? Sekarang? Ini kan sudah jam istirahat, Mas!" protes Naya. "Di rumah ini tidak ada jam istirahat untuk otak yang malas. Aku tunggu sepuluh menit lagi," pungkas Arlan sambil melangkah pergi menuju ruang kerjanya. Naya menatap piringnya yang masih setengah penuh dengan perasaan campur aduk. Menikah dengan Arlan Dirgantara ternyata bukan hanya soal status, tapi soal menjalani pelatihan militer berbalut rumah tangga setiap harinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN