BAB 1-Dosen Killer Itu Suamiku
Suara ketukan penggaris besi di atas meja kayu jati memecah keheningan mencekam di ruang empat ratus dua. Semua kepala tertunduk dalam, bahkan suara napas pun seolah sengaja ditahan agar tidak memicu ledakan amarah dari pria yang berdiri angkuh di depan sana.
Arlan Dirgantara. Dia tidak perlu berteriak untuk membuat seisi ruangan gemetar. Cukup dengan tatapan tajam di balik lensa kacamata berbingkai tipis itu, nyali mahasiswa tingkat akhir sudah menciut seketika.
"Jika menurut kalian jurnal setebal tiga puluh halaman itu hanya untuk alas tidur, silakan keluar sekarang. Saya tidak menggaji waktu saya untuk melihat wajah-wajah kosong tanpa isi kepala," suara bariton Arlan terdengar datar, namun dinginnya meresap hingga ke tulang.
Kanaya Putri meremas ujung blusnya di bawah meja. Ia mencoba "menghilang", mengecilkan tubuhnya sebisa mungkin di balik punggung teman di depannya. Sialnya, nasib baik sedang enggan menyapanya pagi ini.
"Saudari Kanaya Putri," panggil Arlan. Namanya disebut tanpa intonasi, tapi sanggup membuat jantung Naya seolah berhenti berdetak.
Naya memberanikan diri mendongak. Ia langsung disambut oleh tatapan mengintimidasi pria yang—ironisnya—tadi pagi masih sempat menaruh segelas s**u di meja makannya tanpa sepatah kata pun.
"I-iya, Pak?" jawab Naya, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
"Anda sedang menghitung semut di lantai atau sedang menunggu keajaiban agar jawaban soal di depan muncul sendiri?" sindir Arlan judes. Bibirnya membentuk garis tipis yang sangat tidak bersahabat.
Beberapa mahasiswa di barisan belakang mulai berbisik, membuat wajah Naya panas karena malu.
"Maju ke depan. Selesaikan analisis variabel ini sekarang. Atau Anda lebih suka saya beri nilai E di pertemuan pertama?"
Naya berdiri dengan kaki lemas. Ia melangkah maju, merasakan tatapan sinis dari teman-teman sekelasnya. Saat ia melintas di samping Arlan, aroma parfum *sandalwood* yang maskulin menyerang indranya. Aroma yang sangat familiar, namun terasa begitu asing di tempat ini.
Naya meraih spidol dengan tangan gemetar. Ia mulai menuliskan rumus-rumus rumit di bawah pengawasan ketat Arlan. Pria itu berdiri tepat di belakangnya, cukup dekat hingga Naya bisa merasakan radiasi panas dari tubuh Arlan.
"Gunakan logika, Kanaya. Bukan perasaan. Angka-angka ini tidak akan berubah hanya karena Anda terlihat kasihan," bisik Arlan dingin, cukup pelan agar hanya Naya yang mendengar.
Naya menggigit bibir bawahnya. Ia menyelesaikan soal itu dengan terburu-buru. "Sudah, Pak."
Arlan memperhatikan papan tulis selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. "Kembali ke tempat dudukmu. Dan pastikan setelah ini Anda tidak membuat saya kehilangan kesabaran lagi."
Bel tanda berakhirnya kelas akhirnya berbunyi. Mahasiswa berhamburan keluar seolah baru saja bebas dari penjara. Naya sengaja melambatkan gerakannya, menunggu hingga kelas benar-benar kosong dan koridor mulai sepi.
Ia berjalan menuju parkiran basement sudut yang paling gelap. Sebuah mobil sedan hitam mewah sudah menunggu di sana dengan mesin yang menyala halus. Tanpa membuang waktu, Naya segera masuk ke kursi penumpang depan dan mengembuskan napas panjang. Ia melempar tasnya ke kursi belakang dengan kasar.
"Capek?" suara dingin yang tadi menghakiminya di kelas kini terdengar sedikit lebih santai, meski tetap datar.
"Bapak keterlaluan! Kenapa harus mempermalukan aku di depan anak-anak tadi? Aku kan sudah belajar semalam!" protes Naya sambil menoleh pada pria di samping kemudi.
Arlan melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya sejenak sebelum menatap Naya. "Itu konsekuensi karena kamu tidak fokus, Naya. Di kampus, aku dosenmu. Tidak ada perlakuan istimewa hanya karena kita berbagi ranjang."
Naya mendengus kesal, wajahnya memerah. "Tapi nggak perlu sejahat itu juga, kan? Aku ini istrimu, bukan musuhmu!"
Arlan tidak menjawab. Ia justru memajukan tubuhnya, membuat Naya refleks memundurkan punggung ke pintu mobil. Tangan Arlan bergerak melewati bahu Naya, menarik sabuk pengaman dan memasangkannya dengan bunyi *klik* yang tegas. Jarak mereka begitu dekat hingga Naya bisa melihat pantulan dirinya di mata Arlan.
"Di luar rumah, kita orang asing yang kebetulan berada di institusi yang sama. Kamu tahu peraturannya, kan? Tidak ada yang boleh tahu tentang pernikahan ini sampai kamu lulus," ucap Arlan pelan, namun penuh penekanan.
Naya hanya bisa terdiam, memalingkan wajah ke arah jendela. Inilah kenyataan pahit hidupnya. Menikah karena wasiat kakek dengan pria paling dingin di kampus, dan harus berpura-pura tidak saling kenal setiap harinya.
"Ayo pulang. Aku lapar," gumam Naya ketus.
Arlan mulai menjalankan mobilnya keluar dari area kampus. Tidak ada yang menyadari bahwa mahasiswi yang baru saja dimarahi habis-habisan itu, kini duduk manis di samping sang dosen killer menuju rumah yang sama.