"Berhenti kalian!" Suara teriakan lantang diikuti oleh langkah kuda yang menghentak keras di tanah membuat Panglima Zhang menoleh cepat, lalu berdiri tegak. Xin Yao ikut menoleh, dan matanya langsung membesar. “Kaisar …” bisiknya. Kaisar Zhen turun dari kudanya dengan sorot mata berkilat marah. Jubahnya berkibar tertiup angin, auranya menekan seisi lapangan seperti badai siap menerjang. “Xin Yao!” suaranya bergemuruh, membuat Xin Yao refleks meringkuk kecil. “Apa yang kau lakukan di sini bersama Panglima Zhang?” Xin Yao tersentak, bibirnya bergetar. “Paduka, saya … saya hanya—” Namun Kaisar tak membiarkannya menyelesaikan kalimat. “Aku sudah melarangmu keluar istana! Namun kamu terus saja membujukku. Dan sekarang aku melihatmu berdiri berdua dengan seorang pria, di tempat asing! Katak

