Bab 1: Penyesalan, Mengakhiri Semuanya
Menjelang hari pernikahan, Arga menghilang. Nadira mencarinya ke seluruh penjuru Jakarta, tetapi tidak menemukan jejaknya sedikit pun. Tubuh dan pikirannya sudah lelah ketika sebuah pesan anonim masuk ke ponselnya.
[Pak Arga ada di Surabaya.]
Di bawah pesan itu tertera lokasi yang sangat rinci.
Tanpa ragu, malam itu juga Nadira memesan tiket dan langsung terbang ke Surabaya. Ia akhirnya menemukan Arga di sebuah lounge bisnis mewah.
Pintu ruangan tidak tertutup rapat, menyisakan sedikit celah. Dari sana, Nadira melihat pria yang selama ini dicintainya duduk santai di tengah sofa, dikelilingi teman-temannya. Ia mengenakan setelan jas rapi, menyilangkan kaki, lalu mengembuskan asap rokok dengan gerakan yang sangat terbiasa.
Salah seorang temannya mengangkat gelas.
“Arga, tiga hari lagi kau akan menikah dengan Nadira. Selamat, akhirnya berhasil mendapatkan wanita cantik itu.”
Nadira pernah mendengar bahwa sebagian pria mengalami kecemasan menjelang pernikahan. Mereka membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan mengatur emosi. Mungkin Arga juga seperti itu. Rasa iba baru saja muncul di hatinya ketika suara dingin pria itu terdengar.
“Dulu aku menerima lamarannya karena terpaksa.”
Nadira membeku.
“Kalau dipikir-pikir sekarang, dia sama sekali tidak membantu perkembangan karierku. Memang lumayan cantik, tapi bunga secantik apa pun akan membosankan jika dilihat terus-menerus.”
Seketika wajah Nadira memucat.
“Nadira sudah dua puluh tiga tahun. Beberapa tahun lagi kecantikannya pasti memudar. Mana bisa dibandingkan dengan gadis-gadis delapan belas tahun yang masih muda dan segar?”
Seseorang langsung bertanya,
“Jangan-jangan kau ingin membatalkan pernikahan?”
Arga terkekeh pelan.
“Perempuan tidak boleh terlalu dimanjakan. Dia berani memaksaku menikah, jadi aku harus memberinya sedikit pelajaran. Kalau tidak, setelah menikah nanti aku bahkan tidak punya ruang bernapas.”
“Kau memang hebat menghadapi wanita. Dia sudah menemanimu selama tiga tahun. Setelah kau sukses seperti sekarang, mana mungkin dia tega meninggalkanmu?”
Tawa memenuhi ruangan.
Kemudian salah satu temannya melirik wanita yang duduk di samping Arga.
“Dengan Maya yang secantik dan sepintar ini selalu menemanimu, aku juga pasti sulit melepaskannya.”
Arga menoleh ke samping.
Tanpa rasa sungkan, ia mengecup pipi wanita itu.
“Kalau iri, cari sendiri.”
Maya langsung bersandar manja di dadanya.
“Ih, Mas Arga selalu saja menggodaku.”
Keduanya bermesraan tanpa peduli siapa pun yang melihat.
Sementara teman-teman mereka tampak sudah terbiasa.
Jelas ini bukan pertama kalinya.
“Maya, kau sudah lama bersama Arga. Tidak pernah berpikir menggantikan posisi Nadira?”
Maya menatap Arga penuh kekaguman.
“Asal bisa bersama Mas Arga, aku tidak peduli soal status.”
Dibandingkan Nadira yang dianggap memaksa menikah, Maya terlihat jauh lebih penurut dan pengertian. Arga menikmati tatapan penuh pemujaan itu. Melihat sosok Nadira yang berdiri di luar pintu, Maya menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan. Ia melingkarkan kedua tangannya lebih erat di leher Arga.
“Mas Arga, kamu benar-benar tidak akan datang ke pernikahan? Bagaimana kalau Kak Nadira marah lalu memutuskan hubungan denganmu?”
“Dia tidak akan berani.”
Suara Arga terdengar begitu yakin.
“Selain aku, siapa lagi yang mau menerimanya?”
Asap rokok mengaburkan sebagian wajah tampannya.
Namun setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar sangat jelas di telinga Nadira. Jemarinya mencengkeram telapak tangan sendiri hingga terasa sakit. Tubuhnya terasa dingin. Tiga tahun lalu, ayahnya pernah mengatur perjodohan antara dirinya dan pewaris Keluarga Wijaya.
Nadira menolak. Ia tidak ingin menjalani pernikahan tanpa cinta. Karena itu, ia kabur dari rumah demi mencari kebahagiaannya sendiri. Namun tak lama setelah menyewa tempat tinggal, ia hampir menjadi korban kejahatan. Beberapa pria berusaha merampok dan mencelakainya. Di saat paling berbahaya itulah Arga muncul.
Pemuda kurus dengan kemeja putih dan celana hitam itu menghadapi tiga orang sekaligus demi menyelamatkannya. Meski tubuhnya dipenuhi luka, ia tetap menenangkan Nadira dengan suara lembut. Saat mengobati luka-lukanya sambil menangis, Nadira mengetahui bahwa Arga sedang mencari tempat tinggal. Karena itu, ia menyewakan satu kamar kepadanya dengan harga yang sangat murah.
Arga perhatian. Rajin bekerja. Pandai memasak. Dan selalu menjaganya.
Lambat laun, mereka menjalin hubungan.
Karena tidak tega melihat Arga bekerja terlalu keras, Nadira diam-diam meminta seseorang menanamkan modal untuk usaha yang sedang dirintisnya.
Arga pun tidak mengecewakan.
Dalam waktu tiga tahun, ia berhasil membawa Arkana Group berkembang pesat. Pada hari perusahaan itu mencapai kesuksesan besar, Nadira diam-diam menyewa sebuah restoran, membeli cincin berlian, lalu melamarnya di depan banyak orang.
Saat itu, ia mengira Arga sama bahagianya dengan dirinya. Namun kini, ketika mengingat kembali berbagai detail yang dulu ia abaikan…
Ternyata Arga tidak pernah benar-benar ingin menikahinya. Dalam pikirannya, Nadira hanyalah wanita yang memaksanya menikah.
Nadira mendorong pintu hingga terbuka. Suasana ruangan yang semula ramai langsung sunyi. Senyum santai di wajah Arga menghilang. Ia buru-buru menjauhkan Maya dari pelukannya.
“Nadira? Kenapa kamu ada di sini?”
Ia melangkah maju dan berusaha meraih tangannya.
Namun Nadira mundur menghindar.
“Kalau aku tidak datang, bagaimana mungkin aku bisa mendengar isi hatimu yang sebenarnya?”
Matanya memerah.
“Kalau memang tidak ingin menikah, kau bisa mengatakannya. Aku tidak akan memaksamu.”
“Bukan seperti yang kamu pikirkan. Kamu salah paham.”
Arga langsung panik.
Ia memberi isyarat kepada teman-temannya untuk pergi. Satu per satu mereka keluar dari ruangan. Maya menjadi orang terakhir yang keluar. Saat melewati Nadira, wanita itu tersenyum mengejek.
“Hubungan Kak Nadira dan Pak Arga memang mesra sekali. Ke mana pun Pak Arga pergi, Kak Nadira pasti mengikuti.”
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah Maya.
Nadira menatapnya dingin.
“Kamu ini siapa? Sejak kapan urusan kami menjadi hakmu untuk ikut bicara?”
Maya menutupi pipinya dan menahan tangis.
“Pak Arga…”
“Sudah cukup!”
Arga langsung berdiri di depan Maya. Kalimat berikutnya menusuk hati Nadira.
“Kalau kamu marah, lampiaskan padaku. Jangan melibatkan orang yang tidak bersalah.”
Orang yang tidak bersalah?
Nadira mengepalkan jemarinya.
“Sejak kapan hubungan kalian dimulai?”
Arga menarik dasinya dengan kesal.
“Kita sudah bersama selama tiga tahun. Apa kamu bahkan tidak percaya kepadaku?”
Justru karena terlalu percaya, Nadira tidak pernah mencurigainya.
Ia tersenyum tipis.
“Pecat dia.”
Arga terdiam sesaat.
Lalu menggeleng.
“Tidak bisa.”
Jawaban itu keluar begitu cepat.
“Dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Kalau aku memecatnya, apa kata karyawan lain?”
Arga memegang bahu Nadira.
“Nadira, hidup kita baru mulai membaik. Bisakah kamu berhenti curiga berlebihan? Aku bekerja keras demi masa depan kita. Aku dan Maya tidak ada hubungan apa-apa. Bagaimana bisa kamu menuduhnya seperti itu?”
Semakin keras ia membela diri, semakin jelas rasa bersalah yang berusaha disembunyikannya.
Nadira menatap pria di depannya dengan tatapan kosong.
Lelaki yang berbohong bagaikan tembok retak. Sebagus apa pun ditambal, celahnya tetap terlihat. Pemuda yang dulu hanya memiliki dirinya di dalam hati telah lama menghilang. Dunia bisnis yang gemerlap telah mengubahnya. Keserakahan dan ambisi membuatnya mengkhianati cinta mereka.
“Nadira…”
“Tak perlu bicara lagi.”
Ia menarik napas panjang.
“Arga, aku akan memberimu satu kesempatan terakhir.”
Tatapan Arga sedikit berubah. Namun harapan itu hanya bertahan sesaat.
“Pilih. Aku atau Maya.”
Tanpa ragu, Arga menjawab,
“Aku tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah. Maya sangat kompeten dan banyak membantuku. Perusahaan tidak bisa kehilangan dia.”
Maya.
Panggilan yang begitu akrab. Perusahaan yang tidak bisa kehilangan dia?
Atau sebenarnya Arga yang tidak bisa melepaskannya? Tiba-tiba Nadira merasa semua pertanyaan itu tidak lagi penting. Saat ia berbalik hendak pergi, Arga langsung mencengkeram lengannya.
“Kalau hari ini kamu tidak meminta maaf, pernikahan minggu depan dibatalkan.”
Nadira tersenyum tipis.
“Menurutmu pernikahan itu masih perlu dilanjutkan?”
Tanpa menunggu jawabannya, ia pergi meninggalkan ruangan. Begitu masuk ke dalam mobil, seluruh kekuatannya runtuh. Air mata yang selama ini ditahannya akhirnya jatuh. Tiga tahun pengorbanannya terasa begitu tidak berharga. Persetan dengan cinta sejati.
Di perjalanan menuju bandara, Nadira menatap lampu-lampu kota yang melintas di luar jendela. Lalu ia menghubungi sebuah nomor yang sudah lama tidak pernah dihubunginya. Begitu panggilan tersambung, suaranya terdengar pelan.
“Ayah…”
Ia menutup mata.
“Aku menyesal.”
“Aku bersedia pulang dan menerima perjodohan itu.”
“Beri aku waktu satu minggu.”
“Aku akan mengakhiri semuanya.”