Aku ingin meronta, berteriak, bahkan menangis sekencang-kencangnya ketika Mario mencumbuiku dengan kasar dan tanpa kelembutan sedikit pun. Pria ini bukan Mario yang kukenal. Pria ini ibl*s yang bersemayam di dalam dirinya atau ... mungkin seperti inilah Mario yang sebenarnya. Aku tidak tahu. Meskipun begitu, aku tidak bisa menyalahkan Mario. Aku sendiri yang menantangnya untuk melakukan hal ini. Hidupku sudah kepalang hancur. Harga diriku sudah terlanjur jatuh. Aku tidak punya kekuatan untuk mempertahankan citraku sebagai gadis baik-baik dari keluarga Pratama. Kenyataannya, sudah berulang kali Oma tidak menganggapku seperti itu dan aku sudah dinilai buruk oleh publik karena ulah pria gila ini. “Ah ...!” Eranganku lolos saat kurasakan remasan tangan Mario di salah satu p4y*daraku setelah d

