Diamku ternyata tidak membuat Mario berhenti melontarkan kata-kata tajamnya. Sekali lagi dia berusaha menyerangku dengan sengatan kalimat berbisanya. “Kakak tercintamu akan bersedih jika kamu mati,” imbuhnya. Aku tidak ingin menanggapi dengan kalimat yang sama pedasnya. Sekuat yang kubisa, aku segera beranjak dari tempatku berdiri menuju ke ruang makan mini yang didesain dengan sentuhan futuristik, berwarna serba silver, di seberang ruang tidur. Tanpa ragu, aku duduk di sana. Di hadapanku, di atas meja makan bulat bercat abu-abu, sudah ada sepiring roti lapis dan segelas s**u. Entah makanan dan minuman itu diperuntukan buat siapa, aku segera memakan dan meneguk habis s**u yang tersaji. Kulihat si gila Mario tengah memperhatikanku dari celah lebar partisi yang memisahkan ruang makan dan

