Mau apa si gila itu ke sini? Bukankah dia tadi membiarkanku pergi begitu saja? Aku menelan ludah dengan susah payah sambil berpikir untuk tetap di sini atau kabur. Resolusi belum sempat kuputuskan ketika Mario tiba-tiba saja sudah berada di hadapanku dengan tatapan yang sengaja dibuat sedikit mengancam. Kupikir Mario tidak benar-benar sedang mengancamku dengan sorot matanya yang menggelap. Aku yakin itu. Namun, akhirnya aku menyadari jika itu bukan sekadar ancaman. Si bule gila itu menarik tanganku dengan kasar hingga aku nyaris menabrak tubuh atletisnya. “Kamu harus menjelaskan apa yang kamu bicarakan tadi,” titah Mario yang terasa seperti sebuah paksaan. Aku mengangkat alisku sambil menatap heran. “Kurasa kamu sudah terlambat untuk menanyakan hal itu. Sebaiknya kamu pergi dari sini.

