bc

Tujuh Kali Klimaks Semalam

book_age18+
125
IKUTI
1.5K
BACA
one-night stand
family
playboy
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
witty
city
office/work place
small town
addiction
substitute
like
intro-logo
Uraian

"Nai, kamu...keberatan enggak tidur sama suamiku?"

Naira mengira Sukma hanya bercanda. Mana mungkin seorang istri menawarkan suaminya sendiri kepada sahabatnya?

Namun, di balik tawaran itu, tersimpan rencana busuk yang melibatkan Sukma, kedua orang tuanya, dan Rinto, suami Naira sendiri. menguasai harta warisan Naira demi dendam masa lalu

Zidan mengetahui semua itu dan memilih membalas dengan mendekati Naira.

"Mas, aku takut ketahuan Sukma."

"Aku lebih takut membiarkan mereka terus menyakitimu, Nai."

chap-preview
Pratinjau gratis
Mau Tidur Sama Suamiku?
"Nai, kamu...keberatan enggak tidur sama suamiku?" Naira terkejut mendengar perkataan Sukma, sahabatnya sekaligus tetangga sebelah rumah. Jam sembilan malam, dia tiba tiba datang ke rumah, curhat tentang suaminya saat Zidan tengah memperbaiki mobil di rumahnya. "Astaga Sukma, kamu sadar bicara seperti itu?" Tanya Naira. Sukma mengangguk. Dia memandang wajah Naira yang masih diliputi ketidak percayaan. "Iya, Nai. Jujur aku sudah tidak sanggup. Tubuhku lemah, kamu tahu sendiri kan badanku gampang capek. Aku gak mampu mengimbangi Mas Zidan yang nafsunya kuat." Naira masih tak mampu berkata-kata. Dia tahu kalau wanita di hadapannya ini sedang putus asa. Dia sering curhat tentang mas Zidan. Pria bertubuh gempal berotot. Kulit eksotis. Dan wajah sangarnya yang sering membuat Naira membayangkan yang tidak-tidak. Naira menggelengkan kepala. Kenapa dia justru membayangkan perawakan suami orang yang gagah. Wanita itu sedikit mengeser duduknya supaya lebih dekat dengan Sukma yang tengah jatuh mentalnya. Mengusap-usap pundaknya. "Sukma, kamu jangan berkecil hati seperti itu. Pasti ada cara lain." "Enggak ada, Nai. Masalahnya mas Zidan itu tidak pernah memaksa. Dia selalu mengerti kondisiku. Aku tidak enak terus-terusan menolak. Apalagi saat aku melihat wajahnya yang kecewa, meskipun dia berusaha menutupinya. Kamu dengar sendiri kan setiap waktu suamiku selalu memukuli samsak di belakang rumah. Itu sebagai bentuk kekecewaannya, Nai." Ucap Sukma panjang lebar. Naira tertegun. Memang di belakang Rumah Sukma, sering terdengar suara hantaman tinju di samsak yang menggantung. Naira pernah mengintip karena cukup berisik. Di bawah temeraman lampu dia bisa melihat sosok itu menggunakan kaos singlet yang terasa sesak oleh otot ototnya yang besar. Kepalan tangannya besar jadi terlihat mantap dan berbunyi keras kalau memukul samsak. Naira hendak menegur. Tapi dia sungkan. Dia akhirnya tidur dengan menggunakan headset. Sekarang dia tahu penyebab pria berwajah sangar itu memukul samsak setiap malam. "Lagian apa kamu gak butuh, Nai. Suami kamu kan jarang pulang semenjak ayah kamu meninggal. Suami kamu kalau pulang juga sering marah marah kan? Hubungan kalian gak harmonis." Naira terdiam. Dia merasa ditelanjangi oleh Sukma. Suaminya, Rinto memang sering keluar kota belakangan Ini karena ada proyek yang Naira tidak tahu proyek apa itu. Sukma wajar bilang begitu karena setiap pulang dari luar kota masih marah-marah seolah olah mencari kesalahan Naira. "Suamiku baik-baik saja kok. Dia marah marah karena kecapekan saja." Ucap Naira membela suaminya. "Sudahlah, Nai. Jangan berbohong. Mau secapek apapun mas Rinto, dia tidak pantas berkata kasar. Kamu terlalu penyabar jadi istri, Nai." "Sukma, mau bagaimanapun dia suamiku. Biarlah permasalahan rumah tangga menjadi urusan kami. " "Iya, Nai. Aku tahu. Aku paham. Tapi suami kamu itu keterlaluan. Kamu di abaikan jarang disentuh, sampai sampai kamu pakai alat bantu kan?" Naira tertohok. Wajahnya merah padam karena malu. Benda itu sengaja dia simpan dilaci bawah yang terkunci. Sukma menemukan benda itu saat dia ingin meminjam pengering rambut. Pada saat itu Naira sudah selesai memakai dan meletakan ke dalam laci tapi lupa menguncinya. Naira menggigit bibir. Dia sendiri tidak tahu kenapa harus pakai alat bantu. Seperti sebuah dorongan naluri kewanitaannya yang membutuhkan nafkah batin. Apalagi semenjak enam bulan ini, suaminya jarang menyentuh dia. Kalau pun disentuh, itupun terasa tanggung, karena dia belum keluar. "Sukma, jangan bahas hal itu. Aku malu." "Buat apa malu, Nai. Itu bukan hal tabu lagi buat kita. Kita sama sama wanita dewasa, Nai. Aku mengerti akan kebutuhan kamu. Itulah makanya kamu mau ya tidur sama suamiku." Sukma memegang erat tangan sahabatnya. Memandangnya dengan tatapan memohon. Naira mengalihkan pandangannya. Meskipun dia tidak menampik kalau Zidan adalah salah satu khayalan indahnya saat menggunakan alat bantu. Tapi itu hanya khayalan. Kenyataannya dia tidak ingin melakukan hal itu. "Enggak, Sukma. Apa kamu gak berpikir sama perasaan suamiku kalau tahu omonganmu begini. Apa kamu juga tidak mikirin mas Zidan juga kalau istrinya malah meminta orang lain untuk tidur dengannya." Naira mengelak. "Mas Zidan tidak tahu, Nai. Ini murni inisiatif dariku. Suamimu di luar kota. Mana peduli dia denganmu." Naira memberanikan diri memandang wajah sahabatnya lekat -lekat. Wanita bertubuh kurus bak model adalah orang yang paling ceria sejak kecil. Tapi semenjak Sukma menderita sebuah penyakit. Membuatnya tubuhnya menjadi gampang capek. Sampai detik ini Naira tidak tahu apa penyakit Sukma. Sukma selalu berusaha menyembunyikannya. "Nai, tolong. Kali ini saja. Kamu turuti permintaanku. Aku janji tidak akan bilang siapa siapa. Semua ini demi suamiku. Aku gak tega melihat dia terus terusan menahan. Daripada aku melihat dia bersama wanita lain. Aku lebih iklas kalau dia denganmu, Nai." Naira menahan nafas. Permintaan konyol Sukma sukses mengobrak-abrik perasannya. Tapi dia harus sadar kalau sahabatnya ini butuh dukungan. Mentalnya sedang jatuh. Naira anggap pertanyaan konyolnya adalah sebuah bentuk keputusan. "Maaf, Sukma. Aku gak bisa untuk permintaan kamu yang satu ini." Sukma melepas pegangan tangannya ke tangan Naira. Tatapan Sukma masih sendu. Sementara Naira mengalihkan pandangannya dengan menunduk tidak mau menantang sorot mata Sukma yang membuatnya tak karuan. "Aku tahu, Nai. Kamu masih malu malu. Kamu pikir aku tidak tahu kalau pandangan matamu berbeda saat melihat mas Zidan?" Naira mendongak. Menatap wajah Sukma. "Aku sering melihat kamu curi pandang saat melihat mas Zidan cuci mobil di depan rumah. Kamu perhatikan badannya yang besar berotot yang hanya tertutup celana pendek saja kan. Terus aku sering melihat kamu menatap lama wajah suamiku saat menyetir mobil." Sukma menegaskan tingkah laku Naira yang terakhir karena Naira sering membonceng Sukma saat di antar jemput suami. Naira sendiri tidak sadar melakukan itu. Iya memang dia akui dia kagum, tapi itu hanya dipendam dalam hati. Tapi dia tidak menyangka kalau Sukma memperhatikannya sejauh ini. "Maafkan aku, Sukma. Aku gak sadar kalau sering menatap suamimu. Aku hanya kagum sama perawakan badannya saja, Sukma bukan berarti aku suka sama Suami kamu." "Sama saja, Nai. mas Rinto memang putih tampan. Tapi dia tidak punya perawakan maskulin yang dimilki suamiku. Hal yang sebenernya kamu butuhkan kan?" Naira seperti tertohok. Sebagai sahabatnya semenjak kecil. Sukma seolah bisa membaca dengan tegas tingkah lakunya. "Aku beri kamu waktu berpikir, Nai. Aku tahu kamu masih ragu. Daripada kamu menggunakan alat bantu terus terusan. Kenapa gak yang nyata saja. Punya suamiku juga tak kalah besar." Sukma berdiri. Dia memandang Naira sesaat. Kemudian berjalan keluar dari rumah itu. Naira berdiri berjalan untuk mengunci pintu dari dalam. Tepat setelah bunyi cklek. Naira terbengong sesaat. ucapan Sukma tentang dirinya yang sering memperhatikan Zidan terus berputar di kepala. Naira merasa malu. Sebagai wanita, ia memang sulit mengalihkan pandangan dari sosok Zidan. Pria itu memiliki perawakan khas mantan preman yang beralih menjadi pengusaha bengkel dan gym. Tubuh setinggi 180 cm dengan berat 90 kg yang dipenuhi otot padat, serta tatapan mata yang tajam dan menusuk, selalu berhasil membuat Naira panas dingin. Setiap kali melihat Zidan bertelanjang d**a di teras atau saat pria itu memukul samsak di belakang rumah, ada desiran aneh yang mengumpul di bawah perut Naira. Perkataan Sukma tentang sosok suaminya yang "besar dan keras" terus terngiang, membuat bagian sensitif tubuhnya mengencang secara refleks. Naira bergegas masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya. Namun, bayangan tubuh Zidan tetap menari-nari di kepalanya. Bahkan saat dia selesai memakai perawatan wajah dan merebahkan diri di kasur, bayangan Zidan masih ada. Dia mengubah posisi tidurnya yang semula telentang menjadi miring, berusaha memejamkan mata. Namun, konsentrasinya buyar saat mendengar suara nyaring dari rumah sebelah. "Ah, Mas. Kok main nyosor aja sih!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
818.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
379.0K
bc

Not just, the Beta

read
360.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook