Kesibukan yang dijalani Erlangga hari benar-benar menyita tenaga dan waktu, nyaris ia tidak punya kesempatan untuk mengisi perutnya yang sejak semalam tidak disisi apapun.
“Aku lapar!” ucap Erlangga melalui sambungan telepon, menghubungi sekretarisnya, Dita.
“Bapak mau makan apa?” tanya wanita muda itu dengan suara lembut.
“Apa saja terserah! Pokoknya saya mau makan!” Erlangga lantas menutup panggilan sepihak, menaruh kembali telepon ke tempatnya semula dengan cukup kencang sehingga menimbulkan suara nyaring.
Suasana hatinya benar-benar buruk, mungkin karena ia terlalu lelah dan lapar, tapi jauh di lubuk hatinya ada hal lain yang juga mengganggu hatinya, tapi Erlangga enggan untuk mengakuinya.
Dua puluh menit berlalu, Dita muncul dengan membawa kantong plastik berisi nasi kotak. Wanita itu segera menyiapkan makanan untuk Erlangga, menatanya di atas meja.
“Makanannya sudah siap, Pak.”
“Keluar!” Bukannya berterimakasih, Erlangga justru mengusirnya.
“Baik, selamat makan.”
Erlangga hanya menggumam pelan, mengabaikan sikap baik wanita itu.
Usut punya usut, keduanya pernah terlibat hubungan terlarang dan sempat beberapa kali menghabiskan malam bersama di hotel. Hanya saja Erlangga merasa wanita itu terlalu banyak menuntut, dan kerap bersikap seenaknya. Erlangga tidak lagi menerima ajakan Dita, mengabaikan wanita itu setelah tahu bagaimana sifat aslinya.
Mungkin jika bukan karena kinerja Dita yang begitu kompeten dan serba bisa, Erlangga pasti sudah memecatnya.
Hidangan yang disajikan pun sesuai dengan selera Erlangga, nasi campur dengan extra ayam goreng. Seharusnya ia sangat berselera melihat hidangan dalam kondisi perut sangat lapar, sayangnya ia kembali kehilangan selera hanya dalam hitungan detik.
“Sial!” Umpatnya.
Satu Minggu ini Erlangga menjalani hari dengan penuh emosi. Hal sekecil apapun bisa memancing emosinya, termasuk ayam goreng yang sekilas mirip buatan istrinya, Kirana.
Iya, Erlangga dan Kirana masih berstatus sebagai suami istri, ia belum menyerahkan berkas perceraiannya pada Pak Burhan, pengacara yang ditunjuk untuk menyelesaikan perceraian keduanya. Seharusnya berkas itu sudah ada di tangan Pak Burhan, dan proses perceraian bisa segera dimulai. Tapi nyatanya Erlangga tidak kunjung melakukan itu, justru menaruh berkasnya di laci, di ruang kerjanya. Bahkan Erlangga mulai merasa bingung, sebab ia merasa ragu, padahal beberapa waktu lalu ia begitu yakin Inggris berpisah dengan Kirana.
Usai menikmati makanan yang masih tersisa separuhnya itu, Erlangga segera menuju laci dimana surat itu berada.
“Sekarang waktunya!” ucapnya dengan keyakinan.
“Iya, sekarang Er! Sekarang!” Ulangnya lagi, sebab di satu sudut hatinya ia merasa keraguan yang begitu mengganggu.
Sebelum menghubungi Pak Burhan, Erlangga membuka surat tersebut yang sudah dimasukkan ke dalam map coklat, disana ia melihat tanda tangan Kirana, yang didapatnya setelah syarat itu dipenuhi. Surat itu mengusik Erlangga selama satu minggu ini.
Hadiah anniversary dari istrinya, seharusnya menjadi hadiah yang begitu manis tapi anehnya tidak terasa demikian.
Ia semakin yakin bahwa istrinya menyembunyikan sesuatu yang tidak diketahuinya, bahkan sang Ibu pun belum menunjukkan reaksi apa-apa, padahal rumah tangganya dengan Kirana sudah berada di ujung tanduk.
“Harus cari tahu dulu! Nggak bisa kayak gini!” Ia kembali gelisah. “Aku harus cari tahu rencana licik apa yang tengah dilakukan Kirana, setelah itu baru surat ini akan diberikan pada Pak Burhan.”
Karena merasa penasaran dengan sikap Kirana, yang menurutnya terlalu aneh dan menghadirkan sebuah tanda tanya besar, Erlangga pun tidak akan menyerah surat tersebut pada Pak Burhan tapi ia berencana untuk melakukan penyelidikan terlebih dahulu terhadap sikap istrinya yang dianggap mencurigakan.
“Baiklah Kirana, aku akan mengikuti permainanmu!”
Gumamnya pelan, lantas meletakkan kembali surat itu ke dalam laci.
Sore harinya saat Erlangga tengah berjalan menuju area parkir, ponselnya berdering yang membuat langkahnya terhenti. Niken, nama itu tertera di layar ponselnya. Jika sebelumnya Erlangga akan merasa senang saat wanita itu menghubunginya, tapi tidak kali ini.
Keengganan terlihat jelas di wajahnya, bahkan ia sengaja mengabaikan panggilan itu sampai akhirnya dering ponsel kembali berhati, namun tidak berselang lama ponselnya kembali berbunyi dan masih dengan wanita yang sama. Dengan malas-malasan, akhirnya Erlangga pun menerima panggilannya.
“Iya, kenapa?” tanya Erlangga setelah panggilan terhubung.
“Kamu mengabaikanku!” Kesal Niken dari seberang sana.
“Aku sibuk,” alibi Erlangga, entah Niken akan mempercayai atau tidak, tapi ia benar-benar malas mencari alasan lain.
“Sibuk kamu bilang? Padahal aku nggak minta waktu kamu seharian. Kamu sering mengabaikan pesanku!”
Benar, Erlangga memang kerap mengabaikan pesan singkat Niken bahkan menghapus sebelum membacanya.
“Aku mau ketemu kamu sekarang!”
Erlangga menghela, memijat pelipisnya.
“Nggak bisa, aku sibuk.”
“Kapan bisa ketemu aku?!”
“Aku nggak bisa memastikan, tapi aku benar-benar sibuk. Udah dulu, ya?” Bahkan tidak menunggu persetujuan dari wanita itu terlebih dahulu, Erlangga segera mematikan sambungan dan menaruh ponselnya dalam kantong celana. Ia tidak akan menerima panggilan Niken lagi, Meski wanita itu terus menghubunginya.
Suasana hatinya benar-benar buruk, hingga Erlangga memutuskan untuk menemui temannya Kevin.
Lelaki berparas tampan bak aktor Korea itu berprofesi sebagai owner sebuah cafe yang cukup terkenal. Mungkin juga karena ketampanan yang dimiliki Kevin, membuat cafe miliknya itu selalu ramai pengunjung terutama kaum wanita.
Erlangga berdecak kesal, saat mendapati Kevin tengah berbincang dengan beberapa wanita. Senyum lelaki itu jelas mengisyaratkan bahwa ia sedang tebar pesona.
Erlangga mengacungkan satu tangannya ke arah Kevin, yang juga membalas dengan mengacungkan ibu jarinya ke arah Erlangga.
Ia memilih duduk di salah satu meja, yang letaknya dekat dengan kaca jendela besar.
Seorang pelayan menghampiri, membawa buku menu.
“Aku nggak mau pesan, suruh orang itu yang membawa buku menu padaku.” ucapnya dengan senyum jahil, menatap ke arah Kevin.
“Baik,” Erlangga cukup sering berkunjung hingga pelayan itu tahu bahwa dirinya berteman baik dengan si pemilik cafe.
Kevin mengacungkan tinju ke arahnya, usai si pelayan berbisik. Sementara Erlangga haya tersenyum jahil. Tapi senyumnya memudar seketika, saat melihat sosok wanita muncul di balik pintu. Penampilannya begitu mencolok, mengenakan dress berwarna hitam sebatas lutut dengan rambut hitam diikat menjadi satu. Dan lihatlah riasan yang menempel sempurna di wajahnya, kenapa dia menjadi cantik?
Bahkan selama satu tahun tinggal bersama Erlangga tidak pernah melihat Kirana merias wajahnya atau mengenakan dress seperti itu. Erlangga beranjak dari tempat duduknya, hendak menghampiri tapi Kirana sudah terlebih dulu menghampiri Kevin.
Dan Erlangga kembali dibuat terkejut melihat keduanya yang terlihat begitu akrab.
Apakah selama ini mereka berdua saling mengenal dan diam-diam bertemu?
Erlangga tidak tahu akan hal itu, atau mungkin selama ini ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri hingga ia tidak menyadari bahwa istrinya yang selalu terlihat cupu itu, ternyata pemain yang sebenarnya.