Bab 1. Malam tahun baru
Kirana mengetuk pintu dengan ragu.
Awalnya tidak ada respon. Sampai ketukan kesekian, akhirnya ia mendengar suara pintu terbuka. Sosok wanita berbalut handuk sebatas paha muncul, seringai ejekan terlihat di wajah cantiknya.
“Nyali lo besar juga,” ucap wanita itu dengan nada sinis.
“Erlangga mana?” tanya Kirana, mengedarkan pandangan ke arah belakang wanita yang diketahui bernama Niken. Keduanya sudah saling mengenal, Niken adalah mantan kekasih suaminya atau lebih tepatnya saat ini mereka masih menjalin hubungan di belakang Kirana.
“Ada, tuh! Masih tidur.” Niken menggeser tubuhnya, seolah memberi izin Kirana untuk masuk.
Tanpa ragu, ia pun segera masuk mencari sosok lelaki yang ternyata tengah terlelap di atas tempat tidur dengan tubuh tertutup selimut putih. Kiran tahu, lelaki itu tidak mengenakan sehelai pakaian pun, lelaki itu dalam keadaan telanjang.
“Dia kecapean setelah menghabiskan malam tahun baru bersamaku,” ucap Niken dengan bangga, sementara Kirana hanya menggumam pelan.
Kirana memunguti pakaian Erlangga satu-persatu, mengumpulkannya dalam satu genggaman. Ia juga mengambil dompet, serta kunci mobil yang diletakkan sembarang begitu saja di atas meja.
“Mau dibawa ke mana? Erlangga nggak akan ke mana-mana, dia akan tetap bersamaku di sini!” cegah Niken.
“Aku harus membawanya pulang,” jawab Kirana santai, bahkan setelah tahu suaminya menghabiskan malam tahun baru bersama wanita lain, Kirana tidak terlihat marah ataupun kesal. Ekspresinya sangat datar, padahal sudah terlihat jelas bahwa sang suami berselingkuh dengan wanita lain.
“Nggak bisa! Erlangga harus bersamaku.”
Kirana mengangguk, “Tentu, dia akan bersamamu, tapi setelah urusannya denganku selesai. Aku harap kamu mau menunggu. Setelah semuanya selesai, kalian bisa bersama.”
“Apa?!” Niken pun terkejut dengan sikap Kirana, bahkan ia sudah sangat siap untuk menunjukkan bekas percintaan dirinya dan Erlangga semalam jika Kirana berani memuntahkan amarahnya. Namun, yang terjadi wanita itu justru terlihat acuh, padahal bekas percintaan terlihat jelas di beberapa bagian tubuhnya, terutama leher.
“Erlangga,” panggil Kirana dengan mengguncangkan lengan suaminya secara lembut. “Bangun, kita harus pulang.”
Sejujurnya Erlangga sudah terbangun sejak beberapa saat lalu saat Kirana masuk ke dalam kamar hotel, hanya saja ia tetap memilih diam dan ingin mengetahui apa saja yang akan dilakukan wanita itu. Seperti yang sudah pernah terjadi sebelumnya, Kirana tetap bersikap tenang di saat wanita lain justru marah besar, mengetahui suaminya berselingkuh, tapi Kirana justru sebaliknya.
“Bangun, kita harus pulang sekarang.” ulangnya lagi.
Erlangga membuka kedua matanya, menatap ke arah Kirana yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
“Pakai pakaianmu, kita pulang sekarang! Aku tunggu di bawah.” Kirana memberikan pakaian yang sudah terlebih dulu diambilnya.
“Aku tidak mau pulang,” jawab Erlangga yang membuat Niken tersenyum penuh kemenangan.
“Kamu pulang saja sendiri.”
“Kita harus pulang bersama,” jawab Kirana tenang. “Dan, aku akan menandatangani surat perceraian kita.”
“Keputusan tepat.” Erlangga tersenyum puas.
“Tapi dengan satu syarat.” Kirana menambahkan.
“Yang benar saja.” Erlangga tersenyum pelan. “Oke, kasih tau apa syaratnya!”
“Aku akan kasih tau, asal kita pulang bersama.”
“Pulang duluan, aku masih ingin bersama Niken.”
“Nggak bisa, kita harus pulang bersama. Aku tunggu di bawah!” Kirana seolah tidak menerima tawaran apa pun lagi.
“Pulang sekarang atau aku akan membuat ini menjadi sulit!” ancam Kirana sebelum meninggalkan kamar tersebut.
Erlangga mengernyit samar menangkap ada penekanan yang kentara pada ucapan istrinya. Selama ini, wanita itu diam tak pernah berulah, tapi tiba-tiba berlagak punya kuasa atas dirinya. Erlangga pun beranjak dari tempat tidurnya, menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
“Maaf, Sayang, aku harus pergi,” ucapnya sambil kembali memakai pakaiannya satu-persatu. “Aku balik setelah urusan ini selesai, oke?” sambungnya sambil mengusap pipi Niken dengan lembut.
“Aku tunggu.” Niken mengecup singkat pipi Erlangga.
Lelaki itu keluar dari kamar hotel yang sudah ditempatinya sejak malam terakhir di tahun kemarin. Langkahnya tergesa untuk menyusul istrinya yang sudah terlebih dulu ada di lobi utama hotel.
Wanita bernama Kirana itu adalah istrinya, tepat satu tahun lalu mereka menikah.
Tidak ada cinta yang terjalin di antara keduanya, bahkan Erlangga terkesan sengaja melakukan hal-hal yang akan membuat Kirana jengah dengan sikapnya yang masih ingin hidup bebas dan kembali menjalin hubungan dengan kekasihnya Niken.
Jika bukan karena paksaan sang ibu, tentu saja Erlangga tidak akan mau menikahi wanita pendiam dan super misterius seperti Kirana. Ia tidak menyukainya, sebab di mata Erlangga, Kirana tidak lebih dari seorang wanita bermuka dua yang memanfaatkan kebaikan ibunya.
Meski begitu, Erlangga tetap mengikuti keinginan ibunya untuk menikahi Kirana.
Erlangga mengira wanita itu tidak akan mampu bertahan lama dengan sikapnya yang terkesan acuh dan tidak peduli padanya, rupanya dugaan Erlangga salah, sebab Kirana mampu bertahan sampai satu tahun. Wanita itu masih bertahan sampai saat ini, luar biasa sekali bukan? Tapi Erlangga yakin, sebentar lagi Kirana akan melayangkan gugatan cerai dan tidak akan lama lagi mereka berpisah.
Erlangga bisa kembali hidup bebas atau mungkin menikahi Niken, wanita yang dicintainya.