Esok paginya, mereka berdua pulang lebih awal dari rencana Kirana. Erlangga memaksa wanita itu untuk segera pulang dengan alasan lapar, padahal di panti pun menyediakan banyak makanan, tapi Erlangga menolak dengan alasan ingin makan di rumah. “Serius, aku harus jual ini?” Lelaki itu mengangkat satu tangannya yang berisi biskuit buatan Sita. “Iya, kamu udah janji. Nggak boleh di beli pake uang sendiri, harus dijual ke karyawan kantor.” Bukan hanya Erlangga, tapi Kirana pun turut membawa biskuit buatan Sita, bahkan jumlahnya jauh lebih banyak. “Aku bisa beli semua ini dengan harga mahal!” Erlangga berusaha menawar, ia tidak mungkin menjualnya secara langsung. Seperti kekurangan uang saja, sampai jual biskuit, batinnya. Tapi sepertinya Kirana tidak setuju dengan cara itu, memang le

