Bab 8. Dua kali

1086 Kata
Erlangga butuh pengalihan untuk kekesalan yang dirasakannya saat ini. Pilihannya hanya satu, yakni menghubungi wanita yang selalu bersedia menemaninya. Erlangga tidak menghubungi Niken, wanita itu dianggap terlalu rumit untuk saat ini. Lebih memilih menghubungi wanita lain, yang mungkin bisa menyenangkannya hanya untuk malam ini saja. Erlangga punya banyak koleksi wanita, ia bisa memilih sesuka hatinya. “Hai, sayang.” Sambungan terhubung, diiringi sapaan lembut dan manja dari seberang sana. “Ada waktu?” tanya Erlangga. Jelas, bukan hanya menginginkan waktu sebentar saja, tapi waktu untuk menemaninya, menghilangkan penat yang ada dalam otaknya. “Tentu, datanglah ke apartemenku.” “Baiklah.” Erlangga tersenyum penuh kemenangan. Lihatlah, ia tidak pernah kesulitan mencari wanita bukan? Hanya dengan satu panggilan saja, ia bisa menghilangkan kepenatan yang dirasakannya dengan bersenang-senang. Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, ia pun segera bergegas menuju kediaman Fani, salah satu wanita yang selama ini dekat dengannya. Dekat dalam artian tidak memiliki kejelasan dalam hubungan, wanita itu memiliki kekasih tapi mereka kerap bertemu jika salah satu diantaranya membutuh teman, teman tidur maksudnya. Fani memiliki dua apartemen, satu apartemen yang ditinggalinya bersama sang kekasih, satu lagi apartemen yang kerap ia tempat di waktu tertentu saja, misalnya malam ini, saat ia kedatangan tamu spesial. “Udah lama nggak pernah main, kukira udah lupa.” ucapnya dengan senyum manis menyambut Erlangga. “Sibuk.” jawab Erlangga, melepas jas dari tubuhnya. “Sibuk atau ada yang lain nih?” Selidik Fani. “Menurutmu gimana?” Erlangga balik bertanya dengan tatapan jahil. Fani hanya tertawa saja, seberapa banyak wanita yang dikencani Erlangga bukan urusannya. Mereka hanya saling membutuhkan di ranjang, saling mencari kepuasan tapi tidak dengan ikut campur urusan masing-masing. “Mau makan dulu, nggak? Aku punya makanan enak dari tetangga sebelah yang baru aja pindah beberapa hari lalu.” Sejujurnya Erlangga sudah tidak berselera makan, tapi mencium bau harum dari masakan tersebut membuatnya merasa lapar. “Baunya enak,” balas Erlangga. “Mau makan dulu, atau makan yang lain?” Fani menatap, menggoda ke arah Erlangga. “Aku butuh makan yang lain dulu,” kedatangannya bukan untuk makan, ia bisa membeli makanan dengan mudah tapi Erlangga datang untuk menghilangkan kepenatan yang ada dalam kepalanya. Sejak tadi pikirannya benar-benar kacau, apalagi setelah bertemu Kirana. Fani tersenyum penuh arti, menyambut lelaki itu dengan senang hati. Erlangga menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, mencium bibirnya dengan lembut dan menuntut. Satu tangan Erlangga menyentuh kulit Fani yang terasa halus, tapi sayangnya tidak sehalus kulit Kirana. Bahkan sentuhan lembut bibir Fani tidak seperti lembutnya bibir Kirana. Sial! Kenapa disaat seperti ini pun ia masih teringat Kirana? Erlangga kesal sendiri. Ia semakin mengeratkan tubuhnya pada tubuh Fani, berharap bayang Kirana lenyap dan ia bisa menikmati malam bersama Fani seperti biasanya. Tapi sayangnya, momen kebersamaan bersama Kirana beberapa waktu lalu kembali muncul dan berpura-pura dalam pikirannya. Tidak bisa dilenyapkan walau ingin. “Sial!” Umpat Erlangga, melepas ciuman dan menjauhkan tubuh Fani darinya. “Kenapa?” tanya Fani bingung, tidak biasanya lelaki itu bereaksi seperti itu. “Ada yang salah?” Tanyanya lagi. “Nggak. Mungkin aku nggak fokus,” Erlangga menjauh, saat Fani hendak kembali mendekat “Kita bisa pakai cara lain kalau kamu mau.” “Nggak perlu, kayaknya aku kecapean lain kali saja kita lakukan lagi.” Bahkan niat ingin bersenang-senang tidak terealisasikan, hasrat itu sudah terlanjur hilang dan Erlangga kehilangan minat untuk melanjutkannya. “Baiklah, sepertinya kamu butuh istirahat. Bagaimana kalau makan dulu, setelah itu bisa langsung tidur.” Tawar Fani, berusaha mengerti kondisi Erlangga padahal sejujurnya ia pun merasa kecewa. “Duduklah, aku akan menyiapkan makanannya.” Erlangga menurut saja, ia duduk di kursi makan, sementara Fani menyiapkan hidangan untuk mereka berdua. Bau harum masakan yang begitu menggiurkan, bahkan hanya dengan menciumnya saja, Erlangga sudah bisa membayangkan betapa nikmatnya makanan tersebut. Selang beberapa saat kemudian, hidangan sudah tersaji. Sop buntut lengkap dengan sambal merah kesukaannya. “Beli dimana?” tanya Erlangga penasaran, sebab ia sedikit familiar dengan bentuk dan bau harumnya. “Nggak beli, aku bilang kan di kasih dari tetangga sebelah yang baru pindah.” Jelas Fani. “Oh, masih ada tradisi kasih makanan saat pindah rumah ternyata, kukira sudah mulai punah.” Erlangga mengambil nasi dan sop buntut kedalam piring yang sudah disediakan Fani. “Mungkin masih, baru kali ini juga dapat dan rasanya memang benar-benar enak. Kayaknya selain pintar masak, dia juga baik dan ramah.” “Oh,” Erlangga hanya menanggapi singkat, baginya siapapun tetangga yang dimaksud ia tidak peduli. “Katanya sih janda, kalau nggak salah namanya Kirana.” Tiba-tiba Erlangga terbatuk-batuk, setelah mendengar nama yang begitu familiar disebut Fani. “Apa? Siapa tadi kamu bilang?” “Namanya Kirana, katanya sih janda. Pantesan aja penghuni yang lain heboh banget.” “Dimana dia tinggal?” tanya Erlangga. Keyakinan bahwa Kirana yang dimaksud adalah Kirana istrinya semakin kuat, setelah mencicipi rasa dari sop buntut yang dihidangkan Fani. Rasanya begitu mirip dengan buatan Kirana. “Masih di lantai ini, di nomor 167.” Erlangga langsung beranjak dari tempat duduknya. “Kamu mau kemana?” tanya Fani bingung. “Aku mau pulang.” “Kamu kenapa sih, Er?! Aneh banget hari ini, nggak kayak biasanya.” Keluh Fani, sebab sikap lelaki itu sangat aneh, dimulai dengan keduanya nyaris berhubungan badan tapi akhirnya gagal Kedua, Erlangga tiba-tiba saja hendak pulang, bahkan sebelum lelaki itu menghabiskan makanannya. “Sorry, aku udah ganggu waktu kamu. Tapi, aku harus pulang.” Ia tidak menghiraukan raut kesal Fani, sebab fokusnya tertuju pada Kirana dan ingin mengetahui apakah wanita itu benar-benar tinggal di apartemen ini, atau hanya sebatas kebetulan saja dan masakannya serupa. “Erlangga!” Panggil Fani, ia pun berusaha mengejar Erlangga. “Tunggu, setidaknya habiskan dulu makananmu.” Cegah Fani, saat lelaki itu sudah berhasil membuka pintu. “Aku nggak lapar.” Keinginan Erlangga untuk pulang tidak bisa dicegah Fani. “Tapi,” Belum sempat Fani menuntaskan ucapannya, ia melihat sosok wanita yang baru saja keluar dari dalam lift tersenyum padanya. “Selamat malam Fani,” sapa nya dengan ramah. “Hai, Kiran. Baru pulang?” tanya Fani, pada sosok Kirana yang baru saja keluar dari dalam lift. “Iya nih, habis beli keperluan rumah. Aku duluan ya,” ucapnya, sambil berlalu meninggalkan Fani dan Erlangga. Lelaki itu tertegun melihat sosok wanita itu lagi untuk yang kedua kalinya di hari yang sama. Tadi di restoran Kevin dan sekarang di apartemen Fani. Sikap Kirana benar-benar menyebalkan, berlagak tidak mengenal Erlangga. “Sial!” Umpatnya. Menepis tangan Fani yang ada di pergelangan tangannya, Erlangga pun segera bergegas mengejar Kirana. “Kirana tunggu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN