Seorang CEO tidak dituntut hadir setiap hari ke proyek renovasi Gudang Cempaka. Secara struktur, itu hanya proyek kecil. Namun sejak minggu pertama, Naira mendapati dirinya datang lebih sering dari rencana awal.
Naira turun dari mobil, dengan setelan formal dan sepatu flat. Pakaiannya cukup modis untuk lapangan berdebu seperti ini.
Reina menyusul di belakangnya. Wajahnya terlihat pasrah, dan keringat bahkan sudah muncul di pelipis. Tablet ada di tangan kanan, ciri khas sekretaris yang siap mencatat kapan saja dibutuhkan.
Mereka berjalan masuk ke area proyek. Obrolan mengalir tentang jadwal pengiriman, cuaca, dan cadangan waktu. Tidak ada yang personal. Namun langkah mereka seirama, efisien, dan saling paham.
"Pagi, Bu," sapa beberapa pekerja.
"Pagi."
Naira membalas dengan anggukan kecil, gestur yang sudah menjadi kebiasaannya sejak mendirikan perusahaan sendiri. Tidak ada lagi papan nama besar Surya Group di gerbang proyek. Hanya logo perusahaannya yang lebih kecil dan sederhana, tapi miliknya sendiri.
Di tengah lapangan, Zidan berdiri dengan helm putih dan rompi oranye. Dia memegang papan gambar dengan satu tangan, sementara tangan lain menunjuk sesuatu di kejauhan. Seorang pria usia akhir dua puluhan berdiri di sebelahnya, mendengarkan instruksi. Pria itu Wisnu Syahputra, Koordinator lapangan.
Wisnu tertawa kecil sambil menunjuk sesuatu di kertas gambar. “Kalau sudutnya melenceng segini, nanti pintu gudangnya jadi pintu rumah hantu.”
Zidan menggeleng tipis. “Makanya dicek sekarang. Jangan nanti.”
Naira berhenti melangkah sesaat. Ada sesuatu yang selalu menarik perhatiannya saat melihat Zidan bekerja. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis, nyaris tak terlihat.
“Bos,” bisik Reina pelan.
Naira tersadar, lalu melangkah maju.
“Pagi.”
Zidan menoleh, lalu mengangguk singkat. “Pagi, Bu.”
Nada mereka sama-sama datar dan profesional. Seolah mereka hanya dua orang yang kebetulan bertemu karena pekerjaan.
Reina menyenggol siku Naira pelan. “Bu, itu pengawas lapangan barunya?”
“Iya.”
“Oh.” Reina mengangguk pelan. Matanya menilai. “Pantes.”
Naira tidak menanggapi. Pandangannya sudah beralih ke lapangan, ke tumpukan material, ke rangka besi yang berdiri setengah jadi.
“Bagaimana progresnya?” tanyanya.
“Elevasi aman, Bu. Sore ini finishing. Kalau cuaca mendukung, besok rangka bisa mulai dipasang.” Zidan menunjuk garis di gambar.
“Bagaimana drainase sementara?”
“Sudah dibuka, Bu.”
“Baik.”
Reina mencatat. Wisnu menyesuaikan waterpass, dan melangkah ke samping untuk memberi ruang. Semua bergerak pada porsinya.
Hari itu, kunjungan Naira hanya sepuluh menit. Namun esoknya dia kembali. Lalu lusa kembali lagi. Dalam hitungan minggu, Gudang cempaka menjadi tujuan rutinnya.
Kadang dia hanya berdiri di pinggir lapangan. Kadang masuk lebih dalam, menanyakan detail yang sudah dia hafal dari laporan. Alasannya selalu ada; cek progres, cek vendor, atau cek akses. Sampai Wisnu mulai hafal suara mobilnya.
“Bang,” katanya ke Zidan suatu siang, tanpa menoleh dari pekerjaannya, “Bu Bos datang lagi.”
Zidan tidak mengangkat kepala. “Tetap fokus kerja.”
“Iya, iya. Fokus.” Wisnu nyengir. “Tapi fokusnya jadi dobel.”
Minggu kedua, angin bertiup lebih kencang. Gambar kerja di meja lipat bergeser, lalu terangkat.
Zidan dan Naira bergerak hampir bersamaan untuk meraih kertas. Ujung jari mereka bertemu di tepi kertas. Itu hanya singkat, tapi terasa hangat.
“Maaf,” kata Naira refleks.
“Tidak apa,” jawab Zidan. Dia menarik tangannya lebih dulu, merapikan gambar, lalu menahannya dengan penjepit.
Wisnu menatap mereka, seringai jahilnya muncul. “Oh.”
Reina menoleh. “Oh apa?”
“Enggak. Oh… angin, nyanyikanlah... katakan padanya aku rindu...." Wisnu malah bernyanyi.
"Burung, bukan angin," celetuk Reina, sinis.
"Eh? Udah ganti lirik, kah?"
"Tau ah, capek."
Pekerja lain tertawa. Zidan hanya menggeleng kecil. Naira tidak ikut bereaksi.
Percakapan berlanjut seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang bergeser—tipis, nyaris tak terasa. Zidan berdiri sedikit lebih jauh saat menjelaskan. Naira menyadari denyut kecil di ujung jarinya, lalu menertawakannya dalam hati. Pasti hanya kebetulan, pikirnya.
Minggu ketiga, panas meninggi. Lantai beton mengilap. Naira berdiri di sisi barat, mengamati pemasangan rangka. Reina berada setengah langkah di belakangnya, memastikan area aman.
“Bu,” kata Reina pelan, “bagian itu materialnya tajam.”
Naira menoleh terlambat. Lengannya hampir menyentuh bagian tajam andai Zidan tidak lebih cepat menahan pergelangannya.
“Sebentar,” katanya.
Sentuhannya singkat. Dia melepas segera setelah merasa Naira aman. Dia lalu menyodorkan sepasang sarung tangan kerja dari kantong rompinya. “Pakai ini kalau mau sentuh material, Bu.”
Naira menerima. “Terima kasih.”
Zidan mengangguk.
Wisnu sudah membuka mulut untuk bernyanyi lagi sebelum satu kata pendek dari Zidan menghentikannya.
“Wisnu.”
“Oke, Bos.”
Naira menggenggam sarung tangan itu sedikit lebih erat. Ada jeda yang tidak dia beri nama, dan dia tidak tahu apa namanya. Di permukaan, ekspresinya tetap tenang, profesional. Tapi di dalam, jantungnya sudah berdebar gila-gilaan.
Sejak itu, Zidan lebih berhati-hati. Jarak dijaga, instruksi tetap tepat, tanpa satu kata pun yang berlebih. Naira pun demikian. Dia tetap datang, tetap memeriksa, tetap profesional—hanya saja, dia mulai menyadari satu hal kecil: dia betah berada di sana. Dia tidak lagi melihat jam.
Di mobil, Reina menghela napas panjang. “Bu, Bang Zidan itu dingin ya.”
“Profesional.”
“Iya, dingin profesional.” Reina menyandarkan kepala ke kursi. “Tipe yang bikin orang kepikiran sendiri,” gumamnya.
Naira menatap ke depan. Jalanan berdebu memanjang.
"Beda lagi kalau sama Wisnu. Dia terlalu berisik untuk jadi temannya Bang Zidan. Kok bisa ya, Bang Zidan tahan sama orang kayak gitu."
Naira melirik Reina sekilas.
Reina memerhatikan tatapan Naira, lalu nyengir. "Kayak kita juga ya kan, Bu. Ibu nggak pernah bosen dengar suara saya, kan, Bu?"
"Nggak, Rein."
"Kalau saya terlalu bawel, bilang, ya, Bu. Jangan nanti tiba-tiba udah ada aja surat pemecatan di meja saya."
"Reina."
Reina langsung mingkem, tangannya membuat gerakan mengunci mulut.
Hari-hari berjalan dengan pola yang hampir sama. Candaan Wisnu yang selalu setengah serius, diakhiri dengan lagu-lagu random yang kadang liriknya berubah. Ada juga komentar Reina yang sinis terhadap Wisnu. Makin hari keduanya terlihat seperti anjing dan kucing yang tidak mau kalah satu sama lain. Zidan selalu ada, tapi tak pernah benar-benar mendekat. Dan Naira jadi semakin sering datang.
“Bu, hari ini nggak ada agenda lapangan,” kata Reina suatu pagi.
“Sebentar saja.”
“Sebentar versi Ibu itu bisa satu jam.”
“Dua puluh menit.”
Reina menyerah dengan senyum kecil. “Baik, Bu.”
Siang itu Naira menandatangani laporan, lalu berdiri sejenak di tepi area dekat Zidan.
“Terima kasih,” katanya. “Kerjanya rapi.”
“Tim yang rapi,” jawab Zidan.
Dia tidak tersenyum, tapi nadanya ringan.
Naira hendak mengatakan sesuatu lagi, tapi mengurungkan niat. Dia berbalik ke mobil. Teleponnya bergetar sebelum pintu mobil benar-benar tertutup.
Panggilan dari Surya.
Naira menarik napas, lalu mengangkatnya.
“Kamu sering terlihat di Gudang Cempaka.”
“Itu proyek perusahaan saya,” jawab Naira. Tenang.
“Aku tahu. Sudah cukup. Jangan biasakan."
Sambungan terputus.
Naira menurunkan ponsel. Dia memandang Zidan yang suaranya tenggelam oleh suara mesin. Sarung tangan itu masih di tangannya. Dia menggenggamnya erat.
Naira tidak segera bergerak. Dia menyusun semua alasan itu rapi di kepalanya—cek progres, tanggung jawab, profesionalitas—dan untuk pertama kalinya, dia tidak yakin mana yang masih jujur.
Naira menatap lapangan proyek yang berisik dan panas. Tempat itu seharusnya tidak berarti apa-apa baginya, namun telah memberi ruang untuk bernapas. Dia tersenyum samar. Tidak sadar kenapa. Tidak sadar sejak kapan. Lalu dia menyalakan mesin dan pergi.
Keesokan harinya, dia tidak datang. Hari-hari berikutnya, renovasi Gudang Cempaka tetap berjalan—tanpa kehadiran Naira.