1.VONIS
Ruang sidang itu dingin. Dinding krem kecokelatan memantulkan cahaya lampu neon putih, membuat wajah siapa pun tampak pucat dan asing. Bangku-bangku kayu yang tersusun rapi, dipenuhi aparat, keluarga korban, dan wartawan yang duduk dengan tatapan haus perkara. Di depan, meja hakim berdiri lebih tinggi, sementara kursi terdakwa berada tepat di bawahnya.
Zidan Pratama duduk sendirian di kursi terdakwa, tanpa pengacaranya. Bukan karena tidak berhak, tapi dia sendiri yang menolak. Dia enggan memberi banyak penjelasan karena semakin banyak kata, semakin dekat ancaman pada orang yang dia lindungi. Tangannya bertaut di atas pangkuan. Wajahnya tenang, bukan karena keberanian, melainkan tenang karena keputusasaan. Dia tak lagi berjuang untuk melawan. Pandangannya lurus ke depan seperti seseorang yang sudah berdamai dengan kekalahan.
Jaksa berdiri. Map biru tua dibuka dengan gerakan terlatih.
“Yang Mulia,” kata Jaksa, suaranya datar dan tenang, “berdasarkan fakta persidangan, keterangan saksi-saksi, serta alat bukti digital yang telah diuji secara forensik, kami berpendapat bahwa terdakwa Zidan Pratama secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana.”
Hening di ruang sidang.
Naira Atmaja duduk di kursi saksi. Punggungnya tegak. Tangannya terlipat rapi di pangkuan. Dia mendengarkan Jaksa dengan saksama sambil mengenang semua kesaksian yang telah diberikannya. Dia yakin telah konsisten. Tidak ada kegugupan dalam dirinya, hanya harapan agar terdakwa menerima hukuman yang setimpal.
“Pertama,” lanjut jaksa, “terdakwa dengan sengaja dan tanpa hak telah mendistribusikan dan/atau mentransmisikan konten bermuatan kesusilaan sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (1), dan dikenai sanksi berdasarkan Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.”
“Kedua, perbuatan tersebut menimbulkan tekanan psikologis berat terhadap korban, yang berujung pada tindakan mengakhiri hidupnya sendiri, sehingga memenuhi unsur Pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yaitu kelalaian atau perbuatan yang menyebabkan orang lain meninggal dunia.”
Jaksa menatap Zidan sesaat.
“Berdasarkan seluruh pertimbangan tersebut, kami menuntut terdakwa Zidan Pratama dengan pidana penjara selama lima tahun.”
Kata lima bergema di kepala Zidan. Dia memejamkan matanya sejenak. Dia sudah menghitung angka itu sejak lama, bahkan sebelum sidang pertama dimulai. Lima tahun adalah harga yang harus dia bayar agar adiknya tetap aman.
Hakim mengangguk pelan, lalu membacakan putusan. Kalimat-kalimat hukum terdengar panjang dan berlapis, tapi maknanya satu; Zidan bersalah. Palu diketuk tiga kali. Bunyinya pendek, dingin, dan tanpa emosi.
Zidan berdiri saat diminta, lalu melangkah keluar dengan kepala tegak dan tangan terborgol, seolah vonis itu bukan sesuatu yang baru saja dijatuhkan.
***
Di luar pengadilan, siang berjalan seperti biasa. Kendaraan melintas. Orang-orang tertawa dan berbincang. Dunia tidak ikut runtuh hanya karena satu orang dihancurkan secara sah. Keadilan telah bekerja, dan dunia melanjutkan urusannya.
Naira berdiri di tangga depan gedung. Dia menghela napas panjang. Akhirnya tuntas, pikirnya. Dia harap Sera cukup puas di alam sana dengan keadilan yang diputuskan hakim.
Zidan menoleh sekilas ketika digiring menuju mobil polisi. Dia tidak berniat menyalahkan Naira, karena dia tahu semua yang diucapkan gadis itu adalah fakta, atau harus dibilang, separuh kebenaran. Tapi, saat melihat gadis itu tersenyum ramah kepada Arkan Wardana, sesuatu yang pahit dan kotor mengendap di dadanya.
Arkan adalah orang yang seharusnya duduk di kursi terdakwa. Zidan jadi bertanya-tanya, apakah mereka berdua telah sepakat menjadikannya kambing hitam?
***
Rintik hujan menemani langkah Naira menuju gedung studio foto milik Sera. Dia menggenggam kunci logam pemberian orangtua sahabatnya itu. Pesan terakhir Sera kembali terngiang: “Pergilah ke studioku, Nai.”
Studio itu telah lama disegel. Secara hukum Naira tidak bisa ke sana, secara batin dia tidak berani. Maka baru setelah kasus selesai, dia datang.
Ruangan itu luas dan rapi. Lampu sorot kecil menggantung, kamera tertata di rak, dan tirai gelap menutupi jendela besar. Lantai kayu sedikit licin karena sisa hujan.
Di pojok ruangan, Arkan sibuk membuka laci-laci rak kayu. Karena polisi tidak menjeratnya, berarti mereka belum menemukan flashdisk itu. Tapi dia belum tenang sebelum menemukannya. Saat sedang fokus mencari, dia dikejutkan dengan kehadiran Naira dari balik tirai.
"Kak Arkan?” Suara Naira tercekat. “Jadi, pacarnya Sera bukan Zidan?"
Arkan menelan ludah. Panik.
"Kamu salah paham, Nai."
"Yang punya kunci studio cuma Sera dan pacarnya."
Naira mundur selangkah. Nalurinya berteriak.
Refleks, Arkan menjambak rambut Naira dan menghantamkan kepalanya ke dinding tanpa ragu. Naira meraih apa pun yang ada di dekatnya, ternyata mendapat sebuah tongsis. Dia kemudian mengayunkannya saat Arkan lengah, lalu segera berlari keluar.
Di luar studio, Naira berlari sekuat tenaga. Dia tidak melihat ada mobil yang melintas, dan mobil itu tidak sempat mengerem. Tabrakan pun terjadi. Naira terhuyung jatuh ke trotoar, napasnya tersengal, dan penglihatannya bergetar. Wajahnya hancur sebelum dia sempat memahami apa yang terjadi.
Dari jendela studio, Arkan menyaksikan kekacauan di jalan itu. Melihat Naira tergeletak tak bergerak, dia mengira gadis itu telah tewas. Kepanikannya mereda. Dia kembali mencari flashdisk, lalu pergi setelah menemukannya.
***
Di ruang gawat darurat, Naira masih setengah sadar ketika dokter menatap wajahnya dengan ekspresi serius.
“Kami harus melakukan operasi rekonstruksi,” kata dokter, sambil mengamati pipi dan dagu Naira yang lebam, luka robek di bibir, serta pembengkakan di mata. “Prosesnya panjang dan resikonya besar.”
Naira mengangguk pelan. Dalam kesadarannya yang memudar, kenyataan justru menyala terang: Dia mengira telah menegakkan keadilan, padahal hanya menukar satu kematian dengan satu kehidupan tak bersalah.
Dalam hati Naira bersumpah, "Tuhan… jika aku diberi kesempatan kedua untuk hidup, aku akan menebus setiap luka yang pernah kulukiskan pada Zidan, dengan seluruh jiwaku..."
***
Lima tahun kemudian, gerbang besi itu terbuka. Zidan melangkah keluar tanpa membawa harapan, hanya perhitungan. Udara pagi tidak menawarkan apa pun selain pengingat bahwa lima tahun telah dicuri darinya.
Dua nama tertanam jelas di kepalanya: Naira Atmaja dan Arkan Wardana.
Zidan belum tahu bahwa gadis itu telah berubah. Dia juga belum tahu bahwa suatu hari mereka akan duduk di meja yang sama, terikat dalam sebuah pernikahan yang lahir bukan dari cinta, melainkan dari rangkaian kesalahan yang belum selesai.