2.Mantan Napi

1027 Kata
Zidan melangkah keluar penjara dengan satu tas lusuh di tangan kirinya. Isi tasnya hanya beberapa potong pakaian, sepasang sepatu yang sudah kehilangan bentuk, surat bebas bersyarat, dan barang-barang kecil yang tidak lagi terasa sebagai miliknya. Dia berhenti tepat setelah melewati garis yang memisahkan wilayah penjara dan dunia luar. Udara di luar terasa berbeda. Lima tahun lalu, Zidan masuk ke tempat ini dengan suara teriakan, sorotan kamera, dan vonis sosial yang bahkan mendahului vonis hakim. Hari ini, dia keluar tanpa siapa pun peduli. Statusnya memang berubah, dari terdakwa menjadi mantan narapidana, tapi di mata dunia, itu hanya cara lain untuk menyebut orang yang tidak lagi layak diberi kesempatan. *** Pemakaman berada tidak jauh dari kota. Di sana sangat sunyi, membuat waktu berjalan lambat. Zidan berjalan di antara nisan-nisan dengan langkah yakin, meski ini baru kedua kalinya dia datang. Dia tiba di depan nisan sederhana, yang tanah kuburnya terlihat lebih rata dibanding tanah kubur lainnya. Di nisan itu terukir nama Arif Pratama, ayahnya. “Aku keluar penjara hari ini, ” katanya, setelah lama diam. Suaranya datar, mirip seperti laporan. Ayahnya tidak meninggal karena penyakit kronis, tapi karena hari-hari yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Terutama sejak nama anaknya menjadi bahan bisik-bisik orang. Setelah Zidan ditahan, hidup ayahnya runtuh perlahan. Pekerjaan yang selama puluhan tahun dijalaninya menghilang begitu saja, tanpa surat pemecatan resmi, ataupun alasan jelas. Tetangga berhenti menyapa. Tatapan mereka berubah, dari ramah menjadi penuh selidik. Dia berusaha bertahan demi anak gadisnya, tapi cibiran lantang maupun bisikan berhasil meruntuhkan kesehatannya. Anak yang nggak dapat didikan ibu biasanya memang suka melenceng.... Ayahnya gagal mendidik.... Jangan-jangan ayahnya juga suka begitu, diam-diam merekam dan menyebarkan video mesum.... Tidak ada yang pernah mengatakannya secara langsung, tapi Zidan tahu kalimat itu beredar dari mulut ke mulut. Seperti virus. Zidan mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. Dia tidak menangis. Bukan karena tidak sakit, tapi karena ada jenis kehilangan yang tidak lagi punya jalan keluar lewat air mata. Dia menunduk sebentar, menyentuh nisan dengan ujung jarinya, lalu melangkah pergi. *** Zidan berdiri cukup lama di depan rumah itu sebelum akhirnya membuka pintu. Udara di dalam rumah cukup pengap. Debu menempel di lantai dan sudut-sudut yang dulu selalu dibersihkan ayahnya setiap akhir pekan. Zidan melangkah masuk perlahan, seolah masih memberi waktu pada dirinya sendiri untuk percaya bahwa ini benar-benar rumah yang sama yang dia tinggali sejak kecil. Beberapa perabot sudah tidak ada. Sofa di ruang tengah pun hilang. Lemari kaca tempat ayahnya menyimpan surat-surat juga kosong. Foto keluarga yang dulu tergantung di dinding telah diturunkan, dan kacanya retak. Zidan menatap foto itu cukup lama. Ayahnya sudah meninggal adalah sebuah fakta. Rumah ini adalah buktinya, dan bukti selalu lebih kejam daripada sekadar pengetahuan. Zidan masuk ke kamar kecil di ujung rumah. Tempat tidur itu sudah dipindahkan. Tidak ada boneka. Tidak ada buku tulis. Dia tahu adiknya sekarang tinggal bersama bibi dari pihak ibunya. Itu keputusan yang aman, masuk akal, dan perlu. Meski begitu, melihat kamarnya yang kosong tetap saja menyesakkan. Dia merindukan si pipi chubby berlesung, yang kini mungkin sudah masuk SMA, tapi di sisi lain dia takut menghadapinya. Zidan kembali ke ruang tengah. Dia duduk di lantai berdebu dan menyandarkan badan ke dinding kotor. Tatapannya lurus ke depan, menunggu sesuatu terjadi. Mungkin tangis, marah, atau sekadar rasa lega karena akhirnya bebas. Sayangnya, tidak ada yang datang. Penjara ternyata tidak berhenti menghukumnya ketika pintunya terbuka. Dia hanya mengganti bentuknya. Menghela napas, Zidan kemudian mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi bank. Angka itu muncul dengan cepat. Rp 1.120.000 , 00 Dia mendengus pelan. 11/20. Tanggal dia masuk penjara. Bahkan saldo pun punya selera humor yang buruk. *** Hari-hari Zidan setelah keluar penjara berjalan dengan pola yang sama. Dia bangun lebih pagi, mencuci muka, merapikan pakaian seadanya, lalu pergi. Dia mendatangi bengkel kecil di pinggir jalan, gudang logistik, atau proyek bongkar muat. Dia membawa tubuh yang masih kuat, tangan yang terlatih, dan kesediaan bekerja apa saja. Wawancara hampir selalu dimulai dengan pertanyaan yang sama. “Apakah ada pengalaman kerja?” Jawaban Zidan selalu, “Ya. Kerja lapangan, sebagai pengawas lapangan.” Anggukan datang. Ada yang tertarik, tapi ada juga yang netral saja. Lalu pertanyaan berikutnya. “Kenapa berhenti dari tempat lama?” Zidan belajar menjawab singkat. Tidak berbelit-belit, dan tanpa kebohongan. “Saya terkena kasus hukum. Kini sudah selesai.” Setelah mendengar jawabannya, akan ada hening sejenak. Beberapa orang langsung menutup map. Beberapa mengalihkan pandangan. Ada yang tetap sopan, tapi nada bicaranya berubah. “Nanti akan kami hubungi lagi," kata mereka pada akhirnya, tapi tidak pernah ada yang menghubunginya. Di tempat ketiga, seorang pria bahkan berkata terang-terangan, “Kami nggak bisa ambil risiko.” Risiko. Zidan mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu pergi. Dia tidak marah, hanya mencatat saja berapa kali pintu tertutup. Hidupnya tidak hancur dalam arti klasik. Dia masih bisa makan, tidur, bahkan masih punya rumah peninggalan ayahnya walau kecil. Tapi dia tidak bisa terus begini karena saldo bank nya akan menipis. *** Pada malam keempat, Zidan bermimpi tentang penjara. Dia melihat ayahnya duduk di kursi ruang besuk. Wajahnya sehat. Zidan memanggilnya, tapi ayahnya malah bertanya, “Kamu siapa?” Sipir menyuruh ayahnya pergi. Zidan berteriak memanggil ayahnya, tapi pria itu tak pernah menoleh. “Aku Zi, Ayah! Ayah tolong jangan pergi! Ayah! Ayah! Ayah!” Zidan terbangun dengan napas terengah. Keringat telah membanjiri tubuhnya. Dia lama duduk di tepi kasur, untuk menenangkan degup jantungnya, untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia sudah bebas. Sayangnya, tubuhnya tetap tidak percaya. *** Sore ketujuh setelah kebebasannya, Zidan mendadak berhenti jalan ketika menuju sebuah bengkel. Dia merasakan ketegangan yang merayap ke tengkuk. Dia yakin sedang diawasi. Zidan berhenti di trotoar, berpura-pura mengecek ponsel yang layarnya retak. Dari pantulan kaca etalase, dia melihat seorang perempuan berdiri agak jauh di belakangnya. Perempuan itu berpakaian rapi. Dia memiliki rambut hitam sedada, dengan ujungnya sedikit bergelombang. Wajahnya tertutupi masker dan topi. Zidan berjalan lagi. Langkahnya dipercepat sedikit. Perempuan itu ikut bergerak, tapi tetap menjaga jarak. Zidan berbelok tajam ke tikungan sempit, tubuhnya menegang, tapi dia siap kalau-kalau harus menangkis serangan. Tapi sosok itu tidak juga muncul. Dia keluar persembunyian, tapi perempuan itu sudah menghilang, seolah tidak pernah ada. Penjara mengajarinya satu hal: yang paling berbahaya bukan yang menyerang terang-terangan, tapi yang mengamati cukup lama untuk tahu kapan harus mendekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN