Bab 6

1225 Kata
Bab 6: Labirin Pengkhianatan Dua puluh empat jam adalah waktu yang singkat bagi orang biasa, namun bagi Nadia Rahma, itu terasa seperti satu abad yang dihabiskan di dalam ruang hampa udara. Ia membatalkan semua agenda sosialnya—rapat yayasan kanker, kunjungan ke panti asuhan, hingga janji temu dengan desainer kebaya. Ia mengurung diri di rumah dinas, berpura-pura sakit migrain agar para staf dan pelayan tidak banyak bertanya. Pukul dua siang, sebuah amplop cokelat tanpa nama pengirim diletakkan di meja pos penjagaan depan oleh seorang kurir ojek daring. Sesuai instruksi Nadia, satpam langsung menyerahkan amplop itu kepadanya tanpa melalui prosedur pemeriksaan protokol yang ketat. Nadia membawa amplop itu ke meja riasnya. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia merobek segelnya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas laporan teknis dan sekumpulan foto berkualitas tinggi. Kertas pertama adalah daftar log parkir Senopati Suites. Mata Nadia langsung terpaku pada deretan angka plat nomor mobil yang sangat ia kenal. B 1 RK. Mobil pribadi Raden yang jarang digunakan untuk urusan dinas, namun sering "hilang" dari garasi pada jam-jam ganjil. Data itu menunjukkan mobil tersebut masuk ke basement apartemen rata-rata tiga kali seminggu, biasanya antara pukul 21.00 hingga 03.00 dini hari. Namun, yang menghancurkan hati Nadia bukanlah deretan angka itu, melainkan foto-foto yang menyertainya. Ada foto Raden sedang berjalan di lobby samping yang gelap, kepalanya tertutup topi baseball, namun postur tubuhnya—cara dia berjalan dengan bahu yang sedikit tegap—tidak bisa membohongi istri yang sudah bersamanya selama dua puluh tahun. Foto berikutnya lebih menyakitkan: Aurora, sang penyanyi idola itu, sedang berdiri di balkon penthouse dengan gaun tidur sutra yang tipis, memandang ke arah kamera dengan ekspresi melamun. Dan yang paling telak adalah foto saat keduanya berada di dalam lift kaca yang menuju area parkir; Raden tampak sedang membisikkan sesuatu ke telinga Aurora sementara tangannya mendekap pinggang wanita itu dengan protektif. Nadia merasakan dadanya sesak, seolah-olah oksigen di kamarnya tiba-tiba lenyap. Ia meremas foto-foto itu hingga kusut. Selama ini ia mencoba bertahan pada satu pemikiran: Mungkin ini hanya fase. Mungkin ini hanya obsesi sesaat. Tapi melihat bukti fisik ini, ia sadar bahwa Raden tidak hanya sedang bersenang-senang. Raden sedang membangun dunia paralel di belakangnya. Sebuah dunia di mana Nadia tidak lagi memiliki tempat. "b******k kamu, Mas," bisik Nadia dengan suara serak. Air mata yang sejak kemarin ia tahan akhirnya tumpah, membasahi lembaran laporan berstempel 'Rahasia' itu. Di saat yang sama, Raden Wijaya sedang berada di podium sebuah seminar arsitektur internasional di sebuah pusat konvensi. Di depan ribuan pasang mata, ia berbicara dengan penuh semangat tentang "Kota Masa Depan yang Manusiawi". Suaranya menggelegar, penuh wibawa, dan setiap kalimatnya disambut tepuk tangan riuh. Namun, di balik saku jasnya, ponsel pribadinya terus bergetar. Setelah turun dari panggung, Raden segera menuju ruang tunggu VIP yang dijaga ketat oleh ajudannya. Ia membuka ponselnya. Ada belasan pesan dari Aurora dan satu pesan singkat dari Nadia. Pesan Aurora: "Raden, ada mobil hitam yang parkir di depan lobby sejak pagi. Aku takut. Aku merasa ada yang mengikuti saat aku ke supermarket tadi. Tolong aku." Pesan Nadia: "Aku ingin bicara malam ini di rumah. Hanya kita berdua. Jangan terlambat, atau aku yang akan menjemputmu di tempat kerja." Raden merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Ia adalah pria yang terbiasa mengendalikan variabel-variabel besar dalam pemerintahan, namun sekarang, variabel-variabel di hidup pribadinya mulai saling bertabrakan. Ia tahu pesan Nadia adalah peringatan terakhir. Nadia jarang menggunakan nada bicara sekeras itu kecuali dia sudah tahu sesuatu yang fatal. "Deni," panggil Raden kepada ajudan setianya. "Siap, Pak?" "Kosongkan jadwal saya setelah jam empat sore. Saya tidak mau ada tamu, tidak ada rapat zoom, tidak ada kunjungan. Dan suruh unit keamanan internal untuk memeriksa area Senopati Suites. Pastikan tidak ada orang mencurigakan di sana, tapi lakukan dengan sangat halus. Jangan sampai mencolok." Deni tampak ragu sesaat. Sebagai ajudan, dia sebenarnya tahu banyak hal, termasuk "hobi" baru bosnya. Namun, dia terlalu setia—atau terlalu dibayar mahal—untuk bicara. "Baik, Pak. Tapi Ibu Nadia tadi menelepon ke kantor, menanyakan apakah Bapak ada agenda di luar kota malam ini." Raden memijat pelipisnya. "Katakan saya akan pulang tepat waktu untuk makan malam." Malam itu, Jakarta diguyur hujan rintik yang membuat suasana semakin mencekam. Raden melangkah masuk ke rumah dinas dengan langkah berat. Suasana rumah terasa sangat sunyi, bahkan para pelayan tampak sudah disuruh masuk ke paviliun belakang. Di ruang makan, tidak ada nasi goreng atau hidangan mewah. Hanya ada satu amplop cokelat di tengah meja kayu besar yang biasanya digunakan untuk menjamu tamu kenegaraan. Nadia duduk di kursi ujung, masih mengenakan pakaian yang sama sejak pagi. Wajahnya pucat, tapi matanya menyala dengan api yang belum pernah Raden lihat sebelumnya. Raden mencoba memasang wajah tenang. "Nad, kok gelap begini? Mana orang-orang?" "Duduk, Mas," suara Nadia dingin dan datar. Raden duduk di seberangnya, matanya melirik ke arah amplop itu. Jantungnya berdegup seperti genderang perang. "Ada apa?" Nadia mendorong amplop itu ke hadapan Raden. "Berapa lama, Mas? Berapa lama kamu menjadikan wanita itu sebagai pemuas imajinasimu sambil kamu mencium keningku setiap pagi dan bicara tentang integritas di televisi?" Raden membuka amplop itu, melihat foto-fotonya sendiri. Ia terdiam selama satu menit penuh. Ruangan itu hanya diisi oleh suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur kehancuran kariernya. "Ini tidak seperti yang kamu lihat, Nad," Raden mencoba melakukan pembelaan pertama yang paling klise. "Dia... dia sedang dalam masalah hukum, dan aku mencoba membantunya lewat jalur belakang agar tidak ramai di media." Nadia tertawa. Sebuah tawa pahit yang terdengar seperti tangisan. "Membantu dengan menyewakan penthouse miliaran rupiah? Membantu dengan tidur di sana sampai jam tiga pagi? Jangan anggap aku bodoh, Raden Wijaya! Aku yang menyusun strategi kampanyemu, aku yang menjaga nama baikmu saat kamu hampir jatuh karena isu korupsi dulu. Aku tahu kapan kamu berbohong!" Nadia berdiri, memukul meja dengan tangannya. "Dia itu penyanyi, Mas! Dia idola masa mudamu. Aku tahu kamu punya koleksi kasetnya di gudang. Tapi menjadikan dia simpanan di tengah posisi kamu sekarang? Kamu sudah gila? Kamu mau menghancurkan segalanya hanya demi satu wanita?" Raden akhirnya meledak. Ia berdiri juga, wajahnya memerah. "Kamu tidak mengerti, Nadia! Hidupku ini seperti robot! Setiap hari aku harus jadi sempurna, harus jadi solusi buat jutaan orang, harus tersenyum di depan kamera bahkan saat aku merasa kosong. Aurora... dia memberiku ruang untuk bernapas! Dia tidak menuntutku jadi Gubernur, dia hanya mengenalku sebagai pria!" "Pria yang egois!" teriak Nadia. "Pria yang lupa bahwa di balik kesuksesannya ada istri yang mengorbankan karier arsiteknya sendiri demi menjadi bayang-bayangmu! Kamu bilang dia ruang bernapas? Tidak, Raden. Dia adalah jerat lehermu. Dan percayalah, saat ini musuh-musuhmu sedang tertawa melihat kamu menggali liang kuburmu sendiri." Raden tertegun. Kata-kata "musuh-musuhmu" membuatnya teringat pada Arya Satya. "Apa maksudmu?" Nadia melempar ponselnya ke atas meja, memperlihatkan sebuah situs berita anonim yang baru saja mengunggah artikel dengan judul: “Sang Gubernur dan Sang Diva: Rahasia di Balik Penthouse Senopati.” "Beritanya sudah mulai bocor, Mas. Dan kalau kamu tidak segera menyelesaikan ini—dengan cara apa pun—besok pagi kamu bukan lagi Gubernur idola. Kamu hanya akan jadi sampah sejarah." Nadia melangkah pergi meninggalkan ruang makan, namun sebelum sampai di tangga, ia menoleh. "Satu hal lagi. Aku sudah memindahkan semua barangku ke rumah orang tuaku. Kita bicara lewat pengacara besok." Raden berdiri mematung di tengah kemegahan rumah dinasnya yang kini terasa runtuh. Di saat yang sama, ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Aurora: "Pintu penthouse-ku sedang digedor-gedor orang, Raden! Banyak kamera di luar! Aku takut! Tolong aku!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN