Bab 7: Pengepungan di Menara Gading
Malam itu, Senopati bukan lagi kawasan elit yang tenang bagi Aurora. Di luar gedung penthouse, lampu-lampu blitz kamera wartawan berkilat seperti rentetan tembakan artileri di tengah kegelapan. Mobil-mobil siaran luar ruang dari berbagai stasiun televisi terparkir sembarangan di bahu jalan, kabel-kabel hitam menjalar seperti tentakel monster yang siap melilit apa saja.
Di lantai tiga puluh lima, Aurora meringkuk di sudut sofa beludru merahnya. Semua lampu di penthouse telah ia matikan. Ia hanya ditemani oleh cahaya remang dari layar televisi yang sengaja ia bungkam suaranya. Di sana, wajahnya dan wajah Raden Wijaya terpampang dalam kotak kecil di samping pembawa berita yang tampak berbicara dengan ekspresi serius.
“Skandal Perselingkuhan Pejabat Publik,” begitu baris teks yang berjalan di bawah layar.
Ponselnya tidak berhenti bergetar di atas meja marmer. Panggilan dari manajernya, dari teman-teman lama yang tiba-tiba peduli, dan ribuan notifikasi i********: yang isinya hujatan: “Pelakor,” “Perusak rumah tangga orang nomor satu,” “Diva simpanan.”
"Raden... angkat, tolong angkat," bisik Aurora dengan suara parau. Ia sudah menelepon Raden sepuluh kali dalam lima menit terakhir, tapi hanya suara operator yang menjawab.
Tiba-tiba, suara gedoran di pintu utama penthouse kembali terdengar. Kali ini lebih keras, diikuti oleh suara teriakan pria dari luar.
"Mbak Aurora! Kami dari tim investigasi media! Benarkah unit ini dibiayai dari dana hibah daerah?"
Aurora menutup telinganya dengan bantal. Tuduhan itu adalah fitnah yang paling ia takuti. Ia tahu Raden membelikan tempat ini melalui perusahaan temannya, tapi jika media sudah mulai menghubungkannya dengan dana publik, ini bukan lagi sekadar skandal asmara. Ini adalah awal dari kehancuran total.
Klik.
Suara kunci pintu yang diputar membuat jantung Aurora hampir melompat keluar. Ia berdiri dengan waspada, meraih vas bunga kristal sebagai senjata darurat. Pintu terbuka perlahan. Di balik kegelapan koridor, muncul sosok pria tinggi dengan nafas tersengal.
Itu Raden.
Jasnya sudah tidak ada, kemeja batiknya berantakan, dan wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia masuk dengan terburu-buru dan segera mengunci pintu kembali.
"Raden!" Aurora berlari dan menghambur ke pelukannya. Tubuh Raden terasa dingin dan bergetar. "Banyak orang di bawah. Mereka tahu, Raden. Mereka semua tahu!"
Raden mendekap kepala Aurora, namun matanya tidak menatap wanita itu. Matanya liar menatap sekeliling ruangan, seolah mencari jalan keluar yang tidak ada. "Nadia sudah tahu. Dia punya bukti foto, Aurora. Dan Arya Satya... rivalku itu... dia yang menggerakkan massa di bawah. Ini jebakan."
Aurora melepaskan pelukannya, menatap Raden dengan nanar. "Jebakan? Kamu bilang ini aman! Kamu bilang tempat ini adalah rahasia kita yang paling kuat!"
"Tidak ada yang rahasia di kota ini bagi orang yang punya uang dan dendam, Aurora!"
bentak Raden. Suaranya pecah karena frustrasi. "Sekarang, tim suksesku sedang rapat darurat. Mereka memintaku untuk membuat pernyataan."
"Pernyataan apa?" tanya Aurora lirih.
Raden terdiam. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta—kota yang kini tampak ingin menelannya hidup-hidup. "Mereka ingin aku bilang bahwa hubungan kita hanyalah hubungan profesional. Bahwa aku hanya membantumu sebagai pembina seni daerah. Bahwa semua ini adalah salah paham."
Aurora tertawa pahit. "Salah paham? Dengan foto-foto kamu menciumku di lift? Raden, publik tidak sebodoh itu!"
"Maka aku harus bilang kamu yang menggodaku!" Raden berbalik dengan mata merah. "Aku harus bilang kamu melakukan ini untuk mendapatkan proyek hiburan! Hanya itu cara agar aku bisa tetap menjabat, Aurora! Kalau aku jatuh karena skandal moral, aku masih bisa bangkit. Tapi kalau aku jatuh karena korupsi dan perselingkuhan yang diakui, karirku mati selamanya!"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Aurora. Ia menatap pria di depannya—pria yang selama ini ia puja sebagai pelindung, sebagai sosok idola yang nyata. Kini, pria itu sedang bernegosiasi untuk melemparkannya ke bawah bus demi menyelamatkan kursinya sendiri.
"Jadi, itu harganya?" suara Aurora tenang, namun tajam seperti sembilu. "Setelah semua yang aku berikan? Setelah aku meninggalkan karirku karena kamu posesif? Kamu mau mengorbankan aku agar kamu tetap bisa jadi 'Gubernur Idola'?"
"Ini untuk kebaikan bersama, Aurora! Kalau aku tetap punya kekuasaan, aku bisa melindungimu nanti setelah badai ini reda! Aku bisa membersihkan namamu!"
"Kamu pembohong," bisik Aurora. Ia mundur menjauh. "Kamu bukan mencintaiku. Kamu hanya mencintai bayanganmu sendiri yang terpantul di mataku. Kamu hanya mencintai rasa menang karena bisa memiliki 'idola' yang dulu tidak bisa kamu gapai."
Tiba-tiba, terdengar suara keributan di balkon. Sebuah drone dengan kamera merah yang berkedip terbang rendah, mencoba mengambil gambar ke dalam penthouse melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat.
Raden panik. Ia berlari ke arah jendela dan menarik tirai dengan kasar. "Sialan! Mereka pakai drone!"
Di tengah kepanikan itu, ponsel Raden berdering. Dari Deni, ajudannya.
"Halo? Ya, Den? Apa? Polisi pamong praja tidak bisa membubarkan mereka? Kenapa? Ada instruksi dari pusat? Sialan!" Raden membanting ponselnya ke sofa. "Massa mulai beringas di bawah. Mereka menuntut klarifikasi sekarang juga. Dan Nadia... Nadia sudah memposting surat terbuka di i********:. Dia menggugat cerai."
Raden terduduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada dinding marmer yang dingin. Sang arsitek agung itu kini terjebak di dalam bangunan yang ia desain sendiri untuk menjadi tempat persembunyiannya.
Aurora menatap Raden yang hancur, lalu ia menatap ponselnya sendiri yang masih menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
"Mbak Aurora, saya asisten Pak Arya Satya. Kami punya tawaran untuk Mbak. Ceritakan yang sebenarnya di podcast kami malam ini, dan kami akan menjamin keamanan serta pengacara terbaik untuk melawan balik Raden Wijaya. Mbak tidak perlu tenggelam bersama kapal yang bocor ini."
Aurora menatap Raden, lalu kembali menatap layar ponselnya. Ia menyadari bahwa di dunia politik yang kejam ini, idola hanyalah komoditas, dan cinta hanyalah senjata yang bisa digunakan untuk saling menghancurkan.
Ia menarik napas panjang, menghapus air matanya, dan mulai mengetik jawaban.
"Permainan belum selesai, Raden," bisik Aurora dalam hati.