Bab 22

1612 Kata

Bab 22. Badai di Golsar Mobil sedan hitam itu melaju tenang menyisir jalanan pegunungan yang tertutup es, meninggalkan rumah kaca yang kini tampak seperti titik cahaya kecil yang kesepian di tengah kegelapan Harz. Di dalam kabin, aroma kayu ek dan tembakau mahal tercium—aroma yang nyaris identik dengan ruang kerja Raden di Jakarta. Aurora duduk mematung di kursi penumpang, jemarinya yang masih membeku meremas ujung mantelnya. Ia melirik pria di sampingnya. Aditya Wijaya. Profil samping wajahnya adalah salinan presisi dari Raden Wijaya versi tiga puluh tahun lalu: rahang yang kokoh, hidung yang tegas, dan sorot mata yang mengandung kombinasi antara kecerdasan tajam dan kehampaan emosional. "Kenapa kau membantuku?" bisik Aurora, suaranya hampir hilang ditelan deru ban di atas salju. Adit

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN