Bab 31: Sisa Gema di Lorong Gelap Gedung pengadilan masih berdenyut oleh kekacauan ketika para pengawal akhirnya berhasil mendobrak pintu ruang panel listrik yang macet. Lampu neon di lorong kembali menyala dengan suara berdengung yang menyakitkan telinga. Aurora berdiri mematung di tengah ruangan yang sempit itu, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Aroma parfum Aditya yang tajam dan dingin masih menggantung di udara, seolah pria itu baru saja menguap menjadi bayangan. "Nona Aurora! Anda tidak apa-apa?" teriak salah satu petugas sambil menodongkan senjata ke arah kegelapan sudut ruangan. Aurora tidak menjawab. Tangannya meremas kartu alamat yang ditinggalkan Aditya di dalam saku kemejanya. Ia bisa merasakan denyut nadi di lehernya yang masih terasa panas karena bekas gigitan

