Bab 32

1340 Kata

Bab 32: Barter Nyawa di Dermaga Sunyi Anggur merah itu terasa seperti tembaga di lidah Aurora. Ia meminumnya hingga tandas, bukan karena patuh, melainkan untuk meredam getaran hebat di tangannya. Di hadapannya, Aditya menatap dengan pemujaan yang mengerikan, sebuah binar mata seorang penggemar yang akhirnya berhasil menyentuh berhala yang ia dambakan. "Anak buahmu," suara Aurora terdengar serak di tengah luasnya gudang nomor empat belas. "Telepon mereka sekarang. Pastikan Julian selamat." Aditya tersenyum tipis. Ia mengeluarkan sebuah ponsel satelit tipis dari saku jasnya, menekan satu tombol cepat, dan mengaktifkan pengeras suara. Terdengar deru angin pegunungan dan suara napas seseorang yang berat di seberang sana. "Batalkan perintah," ujar Aditya dingin. "Target tetap hidup. Mundur

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN