Bab 34: Simfoni di Atas Debu Lampu sorot tunggal di teater tua itu seolah mengisolasi mereka dari dunia luar yang bising dan penuh aturan. Di atas panggung yang berderit, Aurora merasakan jemari Aditya merambat naik dari pinggang ke rahangnya, memaksa wajahnya untuk terus menatap luka bakar yang menjadi bukti pengabdian gelap pria itu. "Bernyanyilah," bisik Aditya lagi. Suaranya bukan lagi perintah, melainkan sebuah godaan yang serak. "Tunjukkan padaku bahwa kau masih memiliki api itu, Aurora. Bukan api yang kau tunjukkan di pengadilan, tapi api yang hanya aku yang tahu cara menyalakannya." Aurora mencoba mencari setitik kebencian di dalam hatinya, namun yang ia temukan hanyalah kehampaan yang perlahan terisi oleh keberadaan Aditya yang dominan. Ia membuka mulutnya, dan sebuah melodi da

