Bab 1

1025 Kata
Prolog : Apartemen itu adalah wilayah terlarang bagi siapa pun, kecuali bagi Raden Wijaya dan rahasia yang ia simpan rapat di dalamnya. Namun malam ini, Aditya berhasil menembus barikade itu. Ia datang dengan amarah yang menyala, ingin membuktikan bahwa ayahnya, sang Gubernur yang dipuja-puja sebagai pria suci, hanyalah seorang munafik yang sedang bermain api. Langkah kaki Aditya tertahan di depan pintu kamar yang sedikit terbuka. Suara desah napas yang berat dan ritmis terdengar dari dalam, memecah kesunyian malam yang dingin. Aditya mengintip dari celah sempit itu. Seketika, dunianya seolah berhenti berputar. Ia melihat ayahnya, pria yang selalu tampak berwibawa dan kaku, sedang berlutut dan mengungkung seorang wanita di bawah tubuhnya dengan intensitas yang mengerikan. Wanita itu adalah Aurora. Rambut panjangnya tergerai berantakan di atas seprai sutra, sementara tubuh seksinya tampak begitu kontras di bawah d******i liar sang Gubernur. Aditya terpaku. Ia memang melihat kemiripan fisik wanita itu dengan Elena, ibunya yang telah tiada. Namun, yang membuat napas Aditya memburu bukanlah kemiripan itu. Justru sebaliknya. Ia melihat Aurora sebagai sosok yang berbeda. Ia melihat bagaimana wanita itu, meskipun berada di bawah tekanan kekuasaan Raden, memiliki aura yang begitu kuat dan memikat. Ia mencatat setiap inci penderitaan di wajah cantik Aurora yang justru memancarkan kekuatan mental yang luar biasa. Sial. Sebuah gairah yang gelap dan tak terduga menghantam Aditya tepat di dadanya. Ia tidak merasa jijik. Ia justru merasa iri yang membakar. Ia melihat ayahnya sedang memuja sebuah mahakarya yang seharusnya tidak pantas dimiliki oleh pria setua Raden. Hasrat itu muncul begitu saja, liar dan tidak terkendali. Ia tidak lagi peduli pada pengkhianatan ayahnya. Kini, Aditya hanya ingin satu hal: merebut wanita itu dari kukungan ayahnya. Semua kegilaan ini, ia tahu, bermula dari satu malam di ballroom hotel mewah beberapa bulan yang lalu. BAB 1: Bayang-Bayang Idola Jakarta malam itu terasa lebih panas, lebih menyesakkan. Lampu-lampu neon di sepanjang Jalan Sudirman berkedip-kedip seperti detak jantung yang sedang gelisah. Di dalam ballroom hotel bintang lima kawasan SCBD, ratusan tamu bergaun mewah larut dalam irama musik jazz yang meliuk lembut. Raden Wijaya berdiri di sudut ruangan dengan segelas air mineral yang mulai mengembun di tangannya. Ia tersenyum sopan setiap kali ada pejabat atau pengusaha yang mendekat untuk sekadar bersalaman. Jas hitam yang membalut tubuh tegapnya dipotong dengan sangat sempurna, membuat pria berusia empat puluh delapan tahun itu memancarkan karisma yang tak terbantahkan. Media sering menjulukinya sebagai Gubernur Idola atau Suami Teladan. Malam ini, ia didampingi oleh Nadia Rahma, istrinya yang sangat anggun dalam balutan kebaya krem berbordir emas. Tapi mata Raden sama sekali tidak tertuju pada istrinya yang sedang sibuk beramah-tamah di dekat panggung. Pandangannya terkunci pada satu titik. Pada wanita yang baru saja melangkah naik ke atas panggung dengan langkah yang sangat tenang namun mematikan. Aurora. Nama itu sudah lama bergaung di kepala Raden seperti melodi yang tak pernah selesai diputar. Aurora Lestari adalah penyanyi yang dulu meledak di akhir tahun 2000-an dengan suara serak yang khas. Kini di usianya yang menginjak tiga puluh lima tahun, ia justru tampak jauh lebih memukau. Gaun merah marun yang membungkus tubuhnya malam ini terlihat seperti api yang sedang menari. Potongan kerah yang rendah dan belahan tinggi di sisi kaki membuat setiap gerakannya menjadi pusat gravitasi di ruangan itu. Raden menahan napas saat Aurora mulai bernyanyi. Suara itu masih sama indahnya, masih memiliki kekuatan yang sama untuk meremas d**a Raden sejak pertama kali ia mendengarnya bertahun-tahun lalu di sebuah acara ulang tahun kota. Saat itu ia hanyalah penonton di barisan VIP, namun sejak detik itu, ia telah memutuskan untuk mengikuti setiap jejak Aurora dari kejauhan. Ia tahu kapan Aurora menikah, kapan ia bercerai, dan kapan ia memutuskan untuk vakum. Raden adalah penggemar paling setia yang bersembunyi di balik kekuasaan politiknya. Malam ini, Aurora bernyanyi tepat di depannya. Lagu balada tentang cinta terlarang dan hasrat yang disembunyikan mengalir dari bibir merahnya. Raden melangkah perlahan mendekati panggung, mengabaikan tatapan beberapa kolega. Mata mereka bertemu sesaat. Hanya sekejap, namun cukup untuk membuat seluruh dunia di sekitar Raden seolah meluap dan menghilang. Aurora menyadarinya. Ia tahu pria itu ada di sana, mengawasinya dengan tatapan predator yang lapar. Ia sudah sering mendengar desas-desus bahwa sang Gubernur adalah orang di balik suksesnya beberapa sponsor besarnya belakangan ini. Aurora tidak naif. Ia tahu apa arti tatapan pria seperti Raden Wijaya. Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda di mata pria itu. Bukan hanya kekuasaan, melainkan sebuah kerentanan pria yang sudah terlalu lama menyimpan dahaga. Saat lagu berakhir dan riuh tepuk tangan memenuhi ballroom, Aurora turun dari panggung. Seorang asisten segera menghampiri Raden dan membisikkan bahwa Mbak Aurora ingin memberikan salam secara pribadi. Mereka bertemu di sudut ruangan yang lebih privat, di dekat bar yang temaram. Wangian Aurora yang merupakan perpaduan vanila dan aroma gelap yang misterius langsung menyergap indra penciuman Raden. "Selamat malam, Pak Raden," sapa Aurora dengan suara rendah yang menggetarkan. "Terima kasih banyak sudah mendukung acara ini. Saya dengar Bapak yang merekomendasikan saya secara pribadi." Raden tersenyum tipis, matanya menyapu wajah cantik di hadapannya tanpa malu-malu. "Saya yang seharusnya berterima kasih karena bisa mendengar suara indah Mbak malam ini. Itu adalah sebuah pengalaman yang sangat berkesan." "Kalau boleh saya jujur," Aurora merendahkan suaranya, "kenapa Bapak melakukan semua ini untuk saya? Dari dulu sampai sekarang." Raden tidak langsung menjawab. Ia menatap Aurora dengan sangat dalam, seolah sedang memetakan setiap garis kecantikannya untuk ia simpan selamanya dalam memori. "Karena di mata saya, Mbak Aurora berbeda. Di tengah keruwetan politik dan rapat yang membosankan setiap hari, kehadiran Mbak adalah napas segar bagi saya. Mbak adalah idola yang ingin saya simpan untuk diri saya sendiri." Aurora merasakan sensasi dingin menjalar di punggungnya. Pria ini sangat berbahaya namun entah kenapa terasa sangat magnetis. Sebelum mereka berpisah, Raden menyerahkan sebuah kartu nama polos yang hanya berisi nama dan nomor ponsel pribadinya. "Hubungi saya kapan saja jika Mbak membutuhkan apa pun," bisik Raden. Aurora menyambut kartu itu, membiarkan jemari mereka bersentuhan sesaat yang memercikkan rasa panas. "Ini kartu nama saya juga, siapa tahu Bapak butuh," timpal Aurora sambil memberikan miliknya. Malam itu, saat Raden pulang ke rumah dinas dan menatap kartu nama Aurora di tengah kegelapan ruang kerjanya, ia tersenyum puas. Idolanya kini sudah dalam jangkauan. Ia tidak akan membiarkan wanita itu lepas lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN