Bab 2

1092 Kata
Bab 2: Kartu di Tangan Tiga minggu berlalu sejak malam acara amal itu. Jakarta kembali ke ritme biasanya: macet, hujan deras mendadak, dan berita politik yang tak pernah reda. Raden Wijaya semakin sibuk. Rapat demi rapat, kunjungan proyek, wawancara televisi. Di depan kamera, ia selalu sempurna—tenang, bijaksana, penuh solusi. Tapi di malam hari, saat rumah dinas sepi dan Nadia sudah tertidur di kamar sebelah, ia sering duduk sendirian di ruang kerjanya, memandang layar ponsel. Ia belum menelepon nomor itu. Belum berani. Tapi setiap hari, ia membuka i********: Aurora. Menyaksikan stories-nya yang jarang: secangkir kopi di kafe rooftop, potret close-up wajah tanpa makeup, atau video pendek saat ia latihan vokal di studio. Raden menyimpan semuanya. Screenshot diam-diam, disimpan di folder tersembunyi di ponsel pribadinya. Ia tahu ini tidak normal. Tapi ia tidak bisa berhenti. Malam itu, hujan deras mengguyur Jakarta. Petir sesekali menyambar, membuat lampu rumah dinas berkedip sebentar. Raden baru pulang dari dinner dengan investor asing. Nadia menyambutnya di ruang tamu, mencium pipinya seperti biasa, lalu naik ke lantai atas untuk menelepon anak bungsu mereka yang sedang kuliah di luar negeri. Raden mengganti jasnya dengan kaus polos, lalu masuk ke ruang kerja. Ia menuang segelas whiskey dari botol yang jarang disentuh, lalu duduk di kursi kulit besar menghadap jendela. Ponselnya bergetar. Notifikasi i********:. Aurora baru saja upload story: foto hitam-putih dirinya di balkon apartemen, memandang kota basah oleh hujan. Captionnya hanya satu kata: “Sendiri.” Jantung Raden berdegup keras. Ia menatap foto itu lama. Rambut Aurora basah sedikit di ujungnya, gaun tipis putih menempel di kulitnya karena angin. Ia membayangkan dirinya ada di sana, di balkon itu, berdiri di belakang Aurora, tangannya memeluk pinggang wanita itu dari belakang. Ia tidak tahan lagi. Dengan tangan sedikit gemetar, Raden membuka kontak baru di ponselnya. Ia mengetik nomor dari kartu nama yang diberikan Aurora malam itu. Jempolnya berhenti di atas tombol panggil. Ia menarik napas dalam, lalu tekan. Nada sambung berdering tiga kali. “Halo?” Suara Aurora terdengar lembut, sedikit serak karena malam. Raden menelan ludah. “Mbak Aurora? Ini Raden Wijaya.” Ada jeda singkat di ujung sana. Lalu tawa kecil. “Pak Raden… saya sudah mulai khawatir kartu itu akan jadi pajangan saja.” Raden tersenyum sendiri. “Maaf baru sekarang. Jadwal padat sekali.” “Saya mengerti. Pejabat kan begitu,” jawab Aurora santai. “Malam ini Bapak di mana? Hujan deras banget, ya.” “Di rumah dinas. Sendiri juga,” kata Raden. Kata-kata itu keluar begitu saja, lebih jujur dari yang ia rencanakan. Lagi jeda. Lalu Aurora berkata pelan, “Saya lagi di balkon. Lihat story saya?” Raden merasa panas naik ke wajahnya. “Iya. Cantik.” Aurora tertawa lagi, kali ini lebih dalam. “Bapak langsung saja ya. Biasanya orang bilang ‘view-nya bagus’ dulu.” “Saya tidak suka basa-basi,” balas Raden. Suaranya semakin rendah. “Saya lebih suka langsung ke yang saya mau.” Di ujung telepon, Aurora diam sebentar. Ia bisa mendengar napas Raden yang sedikit berat. “Dan Bapak mau apa malam ini, Pak Raden?” Raden menutup mata. Ia membayangkan wajah Aurora, bi birnya yang selalu merah alami, mata yang selalu seperti menyimpan rahasia. “Mau ketemu Mbak. Sekarang.” Hujan semakin deras. Petir menyambar lagi. Aurora tidak langsung menjawab. Ia memandang kota dari balkon apartemennya di kawasan Kuningan. Apartemen ini dibelinya dua tahun lalu, hasil tabungan dan kontrak iklan. Ia tahu menelepon pria seperti Raden Wijaya berbahaya. Tapi ada sesuatu dalam suara pria itu malam ini—campuran kekuasaan dan kerinduan—yang membuatnya penasaran. “Sendirian?” tanya Aurora akhirnya. “Sendirian,” jawab Raden tegas. “Alamatnya kirim ke saya. Saya pakai grab, biar aman.” Raden hampir tidak percaya. Ia langsung kirim alamat rumah dinas melalui w******p. Lalu ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan. Ia pastikan Nadia sudah tidur—pintu kamar utama tertutup rapat. Ia matikan lampu utama, hanya tinggal lampu meja kecil. Ia buka pintu samping rumah dinas yang jarang dipakai, langsung ke garasi belakang. Empat puluh menit kemudian, mobil grab hitam berhenti di depan gerbang samping. Satpam rumah dinas sudah diberi instruksi oleh Raden—biarkan tamu wanita masuk tanpa tanya. Aurora turun dari mobil, payung hitam besar menutupi wajahnya. Ia pakai coat panjang hitam, sepatu boots rendah, rambut tergerai basah oleh gerimis. Raden sudah menunggu di pintu samping. Ia buka pintu pelan, lalu tarik Aurora masuk tanpa kata. Mereka berdiri di koridor gelap menuju ruang kerja. Bau whiskey dan parfum mahal Raden bercampur dengan wangi vanila Aurora. “Rumahnya besar,” bisik Aurora sambil melepas coat-nya. Di bawahnya, ia hanya pakai dress hitam pendek tanpa lengan, bahan satin yang sama seperti di story tadi. Raden tidak menjawab. Ia hanya memandang. Matanya turun dari wajah Aurora ke leher, ke bahu, ke lekuk tvbuh yang terlihat jelas di balik kain tipis itu. Ia tarik napas dalam, lalu pegang tangan Aurora dan bawa ke ruang kerja. Pintu ditutup, dikunci. Di dalam, hanya lampu meja yang menyala kuning temaram. Hujan masih deras di luar. Aurora berdiri di tengah ruangan, memandang sekeliling: rak buku tinggi, meja kayu jati besar, foto keluarga di dinding—Raden dan Nadia tersenyum di acara resmi. Ia tahu ini salah. Tapi ia tetap di sini. Raden mendekat dari belakang. Tangannya pelan memeluk pinggang Aurora. Napasnya panas di leher wanita itu. “Sejak malam acara amal itu,” bisik Raden di telinga Aurora, “saya tidak bisa tidur nyenyak. Selalu Mbak yang ada di kepala saya.” Aurora menoleh sedikit. “Bapak sudah punya segalanya. Kenapa masih mau yang berbahaya seperti ini?” Raden mencium pelan leher Aurora. Sentuhan pertamanya lembut, tapi penuh kepemilikan. “Karena Mbak bukan ‘segalanya’ yang biasa saya punya. Mbak… idola saya. Yang saya simpan sendiri.” Aurora merasakan tubuhnya bereaksi. Ia tahu harusnya pergi sekarang. Tapi tangan Raden sudah naik, menyentuh kulit bahunya, lalu turun ke lengan. Ia balik badan, menghadap Raden. Mata mereka bertemu lagi, seperti malam pertama di panggung. Lalu bi bir mereka bertemu. Ciuman pertama itu lapar, seperti dua orang yang sudah lama menahan dahaga. Raden dorong Aurora pelan sampai punggungnya menyentuh meja kerja. Tangan Aurora meraih kerah kaus Raden, tarik lebih dekat. Mereka tidak bicara lagi. Hanya napas berat, desahan kecil, dan suara hujan yang semakin keras seolah menutupi segalanya. Malam itu, di ruang kerja yang biasanya penuh dokumen negara dan pidato, Raden Wijaya akhirnya memiliki idolanya. Bukan dari jauh lagi. Tapi nyata, hangat, dan hanya untuknya. Sementara di lantai atas, Nadia Rahma terbangun sebentar karena petir. Ia lihat jam: pukul 00.47. Ia panggil pelan nama suaminya, tapi tidak ada jawaban.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN