Ia anggap Raden masih rapat malam seperti biasa. Ia tarik selimut lagi, lalu tertidur kembali.
Tak tahu bahwa di bawah sana, suaminya sedang hilang kendali untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
***
Bab 3: Pagi yang Berbeda
Cahaya pagi menyusup pelan melalui celah-celah tirai tebal di ruang kerja Raden Wijaya. Jam dinding antik menunjukkan pukul 05.42. Hujan sudah reda semalaman, meninggalkan udara Jakarta yang lebih segar, meski masih lembab. Di atas karpet persia yang tebal, pakaian tergeletak sembarangan: dress hitam satin Aurora, kaus polos Raden, coat panjang yang tak sempat digantung, dan bra merah marun yang terlempar entah ke mana.
Aurora terbangun lebih dulu. Ia terbaring di sofa kulit panjang yang biasanya dipakai Raden untuk membaca laporan malam. Tubvhnya tanpa helai benang di bawah selimut tipis yang ditarik Raden semalam, setelah putaran ketiga yang membuat mereka sama-sama kelelahan. Ia memandang langit-langit ruangan yang tinggi, mendengar napas pelan Raden di sampingnya. Pria itu tertidur miring, menghadap ke arahnya, satu lengannya masih melingkar posesif di pinggang Aurora.
Aurora tidak bergerak dulu. Ia hanya mengamati wajah Raden yang jarang dilihat orang lain seperti ini—tanpa topeng publik. Kerutan di dahi yang selalu tersembunyi di balik senyum kamera kini terlihat jelas. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur. Ada bekas lipstik Aurora di leher dan da da pria itu, merah pudar yang membuat Aurora tersenyum kecil sendiri.
Ia tahu harus pergi sebelum rumah ini benar-benar bangun.
Pelan-pelan ia geser lengan Raden, bangun, dan mulai mencari pakaiannya. B r a ditemukan di bawah meja kerja, celana d alam di dekat pintu. Dress satinnya sudah agak kusut, tapi masih bisa dipakai. Ia masuk ke kamar mandi kecil yang terhubung dengan ruang kerja, membersihkan diri sekilas, merapikan rambut dengan jari. Di cermin, ia melihat dirinya sendiri: mata sedikit bengkak karena kurang tidur, bi bir agak membengkak karena civman yang terlalu lama, dan leher penuh k i ss mark kecil yang pasti susah ditutupi makeup.
Saat kembali ke ruangan, Raden sudah duduk di sofa, hanya memakai celana da lam hitam. Matanya langsung tertuju pada Aurora, seperti magnet.
“Sudah mau pergi?” suaranya masih serak karena baru bangun.
Aurora mengangguk sambil memakai coat-nya. “Harus. Nanti satpam curiga kalau saya keluar terlalu siang.”
Raden berdiri, mendekat. Ia pegang pinggang Aurora lagi, tarik lebih dekat. “Satu lagi sebelum pergi.”
Aurora tertawa pelan. “Bapak tidak capek?”
“Tidak pernah capek kalau sama Mbak,” jawab Raden. Ia cium bibir Aurora lembut kali ini, bukan lapar seperti semalam, tapi penuh kelembutan yang membuat Aurora merasa aneh. Seperti pria ini benar-benar menginginkannya, bukan hanya tubuhnya.
Mereka berciuman sebentar, lalu Aurora mundur. “Saya pesan grab dari luar ya. Biar aman.”
Raden mengangguk, tapi matanya tidak lepas. Ia ambil dompet dari laci meja, keluarkan beberapa lembar uang kertas merah. “Buat transport dan sarapan.”
Aurora menatap uang itu, lalu tatap Raden. “Saya bukan dibayar, Pak.”
Raden diam sebentar, lalu taruh uang itu kembali. “Maaf. Kebiasaan.”
Aurora tersenyum tipis. “Kita bicara nanti ya. Saya simpan nomor Bapak baik-baik.”
Ia keluar melalui pintu samping yang sama, berjalan cepat melewati taman belakang rumah dinas yang masih sepi. Gerbang samping sudah terbuka sedikit berkat instruksi Raden pada satpam malam. Di luar, udara pagi dingin menyapa kulitnya. Ia pesan grab, lalu berdiri di bawah pohon beringin besar, menunggu.
Di dalam, Raden kembali ke ruang kerja. Ia duduk di meja, memandang sofa yang masih hangat bekas tubuh Aurora. Bau vanila wanita itu masih menempel di udara. Ia ambil ponselnya, buka galeri, lihat foto candid yang diam-diam diambil semalam saat Aurora tertidur. Wajah damai, bibir sedikit terbuka, rambut tersebar di bantal sofa.
Ia tersenyum sendiri. Lalu simpan ponsel, mulai merapikan ruangan. Pakaian dikumpulkan, selimut dilipat, gelas whiskey dibersihkan. Ia semprot pengharum ruangan, buka jendela sedikit agar bau hilang.
Pukul 06.30, Nadia turun dari lantai atas. Ia pakai daster sutra krem, rambut diikat santai. “Pagi, Mas,” sapanya sambil cium pipi Raden yang sudah duduk di ruang makan, pura-pura baca koran digital di tablet.
“Pagi, Sayang,” jawab Raden tenang. “Tidur nyenyak?”
“Nyenyak sekali. Kamu kapan pulang semalam? Aku tidak dengar.”
“Rapat sama tim sampai larut. Baru tidur jam dua lewat,” bohong Raden tanpa kedip. “Maaf kalau berisik.”
Nadia tersenyum, duduk di sebelahnya. “Biasa lah. Kamu kan kerja keras buat rakyat.”
Mereka sarapan bersama seperti biasa: nasi goreng spesial buatan pembantu rumah tangga, telur mata sapi, dan kopi hitam untuk Raden. Nadia cerita tentang rencana kegiatan sosialnya hari ini, Raden mengangguk-angguk sambil sesekali balas. Di luar, semua terlihat normal. Sempurna, bahkan.
Tapi di dalam kepala Raden, hanya ada Aurora.
Siang harinya, saat Raden sedang rapat di balai kota, ponsel pribadinya bergetar. Pesan w******p dari nomor baru, tapi ia langsung tahu.
Aurora: “Sampai rumah selamat. Makasih malam tadi. Seru banget.”
Raden tersenyum di tengah rapat, buat stafnya bingung kenapa tiba-tiba bos senyum sendiri. Ia balas cepat: “Kapan lagi?”
Aurora: “Bapak yang atur. Saya ikut saja.”
Raden: “Besok malam. Saya jemput jam 9. Pakai yang merah seperti di panggung dulu.”
Aurora: “Siap, Pak Gubernur.”
Raden simpan ponsel, kembali fokus ke rapat. Tapi pikirannya sudah melayang ke besok malam.
Hubungan mereka mulai rutin setelah itu.
Dua-tiga kali seminggu, Aurora datang ke rumah dinas lewat pintu samping. Kadang ke apartemen baru yang Raden belikan diam-diam di kawasan Senopati—unit penthouse kecil tapi mewah, atas nama perusahaan properti milik teman Raden. Di sana lebih aman: tidak ada satpam rumah tangga, tidak ada Nadia yang bisa tiba-tiba turun.
Aurora mulai terbiasa dengan kemewahan yang diberikan Raden: tas branded baru tiap bulan, perhiasan berlian kecil-kecil, kontrak iklan yang tiba-tiba datang setelah “rekomendasi” dari kantor gubernur. Ia tidak minta, tapi Raden selalu beri. Seperti ingin pastikan Aurora tidak pergi.
Tapi ada yang berubah di Raden.
Obsesinya semakin dalam.
Ia mulai minta Aurora hapus komentar di i********: kalau ada pria yang terlalu genit. Ia pantau story Aurora setiap jam, bahkan saat rapat penting. Suatu malam, saat Aurora terlambat balas chat karena syuting video klip, Raden telepon berulang kali sampai Aurora kesal.
“Pak, saya kerja. Sabar dong,” kata Aurora di telepon.
Raden diam lama, lalu jawab pelan, “Maaf. Saya cuma takut Mbak hilang.”
Aurora diam. Ia mulai sadar ini bukan hubungan biasa. Pria ini bukan hanya ingin tubuhnya. Ia ingin memiliki semuanya.
Satu bulan setelah malam pertama, Aurora duduk di penthouse baru, memandang kota dari jendela kaca besar. Raden baru saja pulang dari kunjungan kerja ke Bandung, langsung ke sini tanpa pulang ke rumah dinas. Mereka baru selesai putaran panas di ranjang king-size, tubuh mereka masih basah keringat.
Raden peluk Aurora dari belakang, cium pundaknya. “Mbak suka apartemen ini?”
“Suka banget,” jawab Aurora jujur. “Tapi… ini atas nama siapa?”
“Perusahaan teman saya. Aman,” kata Raden. “Mbak bisa tinggal di sini kalau mau. Tidak usah kontrak-kontrak lagi di tempat lama.”
Aurora balik badan, tatap Raden serius. “Pak, kita ini apa sih sebenarnya?”
Raden diam. Ia usap rambut Aurora pelan. “Mbak idola saya. Simpanan saya. Yang paling berharga.”
Aurora tersenyum kecut. “Simpanan ya? Bukan pacar?”
Raden tarik Aurora lebih dekat. “Lebih dari pacar. Mbak tahu saya tidak bisa cerai sekarang. Karier lagi naik. Tapi Mbak… Mbak milik saya. Selamanya.”
Aurora tidak jawab. Ia hanya balik peluk Raden, tapi di dalam hatinya mulai ada rasa takut.
Di luar, angin malam Jakarta berhembus kencang. Seperti pertanda badai yang akan datang.